Ilustrasi perempuan. (Image by Pexels from Pixabay)

Feminis tidak ‘berutang’ kepada siapa pun. Namun, kenyataannya, banyak perempuan feminis yang berada dalam posisi rentan. Seolah-olah harus mau menyenangkan lelaki secara seksual. “Kamu kan feminis,” kata laki-laki itu.

Tentu saja, orang yang selalu bilang “Kamu kan feminis” agar perempuan melakukan sesuatu adalah orang yang tidak paham mengenai feminisme. Ia berupaya memanipulasi secara psikologis dan melakukan pemerasan intelektual supaya perempuan menuruti apa yang ia mau.

Salah kaprah soal label feminis ini membuat orang yang tak paham feminisme merasa memiliki wewenang untuk mengusik dan mengganggu kehidupan perempuan. Merasa berhak untuk menguji intelektualitas perempuan dan mendapatkan seks darinya.

Sering kali ada anggapan bahwa seorang feminis bakal mau berhubungan seks dengan siapa pun. Itu salah total. Dan, ungkapan “Kamu kan feminis, seharusnya kamu mau…” – mau mengirim foto telanjang, mau berhubungan seks, dan sebagainya – adalah upaya untuk mengintimidasi dan mengeksploitasi seseorang. Intimidasi dan eksploitasi seksual adalah dua dari 15 bentuk kekerasan seksual menurut Komnas Perempuan.

Baca juga: Mengantre Viral: Perjuangan Korban Kekerasan Seksual di Indonesia

Menjadi feminis bukan berarti ‘berutang’ kepada siapa pun untuk membuktikan nilai-nilai yang kita pegang, apalagi kepada lelaki yang tidak bisa menahan nafsunya.

Stigma kepada feminis membuat orang lupa mengenai apa yang diperjuangkan, yaitu konsensus. Dalam banyak kasus, menjadi feminis juga belajar berani menolak ajakan berhubungan seks, terutama yang berbau ancaman dan intimidasi.

Selain itu, ungkapan “Kamu kan feminis” sering digunakan oleh orang yang tak paham substansi dari feminisme untuk memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu selain seks. Misalnya, “Kamu kan feminis, harusnya mau angkat galon”, “Kamu kan feminis, harusnya mau bayarin aku”, “Kamu kan feminis, harusnya tidak begini dan begitu”.

Seolah-olah kalau jadi feminis harus mengikuti standar tertentu, kalau tidak melakukannya bakal dirundung. Bukannya berdebat secara sehat di ruang aman, tapi malah meleber ke hal yang tidak substantif.

Baca juga: Bisakah Feminis Menjalin Relasi yang Harmonis dan Romantis?

Apalagi, ketika ungkapan “Kamu kan feminis” digunakan oleh lelaki untuk mengontrol dan memanipulasi pikiran perempuan, di situ saya sedih. Ternyata lelaki menggunakan feminisme untuk kepentingan mereka dan memanfaatkan orang yang rentan terkena kekerasan seksual.

Begitu juga dengan istilah “open minded” yang sering digunakan dan dilempar sesuka hati. Saya sebetulnya tidak begitu suka dengan istilah “open minded” atau berpikiran terbuka. Mengapa? Karena seakan-akan tak ada batasan dalam berperilaku serta adanya semacam standar tertentu. Seolah-olah jika open minded, kita bisa diperlakukan dan dilecehkan sesuka hati, dan orang boleh melontarkan kata apa pun kepada kita.

Berpikiran terbuka adalah upaya untuk berani menerima penolakan, bukan memanipulasi dan memeras orang untuk mau melakukan hal tertentu.

Baca juga: Kata-kata Toxic Positivity yang Mestinya Jangan Diamini

Contohnya, ketika membicarakan tentang seks di media sosial, saya sering mendapatkan respons yang merendahkan dan melecehkan dari orang tak dikenal. Menjadi open minded adalah satu hal, dan melecehkan orang secara seksual adalah hal yang berbeda. Tak bisa disatukan.

Jika memang ingin merespons dan berdiskusi dengan orang yang dianggap berpikiran terbuka, merespons lah tanpa membuat orang lain menjadi tidak nyaman. Adalah pemikiran yang keliru bahwa orang yang berpikiran terbuka tidak butuh basa-basi selayaknya orang pada umumnya ketika tidak mengenal orang yang mengajaknya bicara.

Berbicara dengan orang yang berpikiran terbuka atau yang mendaku dirinya feminis bukan alasan untuk menjadi pelaku kekerasan seksual. Anehnya, perlakuan serupa tidak dialami oleh lelaki yang mendaku dirinya feminis. Tidak ada kejadian yang menantang dan memeras lelaki itu untuk melakukan sesuatu demi membuktikan ke-feminis-annya.

Artikel populer: Perempuan Kritis dan Suka Debat, Apa Iya Dijauhi Laki-laki?

Orang-orang yang merasa berhak mengatur-atur kita dengan ungkapan “Kamu kan feminis” atau “Kamu kan open minded”, sebaiknya tidak usah ditanggapi. Lagi pula, apakah label feminis menjadi penting untuk dibuktikan, apalagi kepada lelaki yang suka memanipulasi pikiran perempuan dan menggunakan feminisme untuk melampiaskan nafsunya?

Kita lebih baik menunjukkan nilai-nilai yang kita yakini tanpa paksaan dan memberdayakan diri serta orang lain agar tumbuh dan berkembang dengan versi terbaik masing-masing. Sekaligus, menghancurkan penindasan sistemik yang menghambat seseorang untuk berkembang.

Jadi, wahai mas-mas yang suka ngomong dengan embel-embel “Kamu kan feminis”, sesungguhnya kalian adalah calon pelaku kekerasan. Segera belajar dan bertobat sebelum terlambat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini