Squid Game. (Netflix)

Serial asal Korea Selatan berjudul Squid Game menjadi fenomena baru di internet. Sejumlah kreator konten sampai membuat video parodinya.

Salah satunya adalah video TikTok ibu-ibu asal Medan yang ikut permainan “lampu merah, lampu hijau” yang menjadi babak pertama dalam Squid Game. Di permainan tersebut, setiap pemain yang kedapatan bergerak ketika boneka penjaga mengucapkan kata “lampu merah” langsung ditembak. Namun, ibu-ibu asal Medan tadi justru menantang, “Apa?! Mau kau tembak aku? Tembak lah tembak. Kupecahkan kepala kau!”

Semangat membara si emak sebelas-duabelas dengan pejabat yang tempo hari menggegerkan publik karena marah-marah, “Tak tembak kamu ya, tak tembak kamu!” Kalau pejabat tersebut menjadi peserta di Squid Game, bisa jadi bonekanya lah yang ditembak oleh beliau. Dengan begitu, banyak peserta yang terselamatkan nyawanya.

Berbeda jika pejabat yang terlibat korupsi bansos menjadi salah satu peserta, bisa saja ia mengambil jatah peserta lain saat pembagian makanan. Mengakibatkan ada peserta yang tidak kebagian makan. Sampai akhirnya terjadi kerusuhan antar peserta.

Baca juga: Isu Kelas Sosial dalam Pencarian Kebahagiaan ala Squid Game

Di serial Squid Game, peserta yang mengikuti permainan maut ini adalah kalangan rakyat jelata korban kebijakan penguasa yang tidak pro rakyat. Lantas, bagaimana jika pejabat ikut berpartisipasi bersama rakyat jelata?

Ketika permainan “lampu merah, lampu hijau”, banyak peserta yang gagal. Mungkin pengaruh kebiasaan di jalan raya yang sering tidak mematuhi aturan. Misalnya, ketika lampu merah justru banyak yang memacu kendaraan. Tidak harus ikut Squid Game, ngebut pas lampu merah di kehidupan sehari-hari juga bisa membahayakan nyawa. Tidak ada hadiahnya pula.

Namun, kalau pejabat ikut Squid Game, banyak yang bisa berhasil di babak ini. Terutama, politikus yang terkenal licin alias bisa lolos dengan mudah dari kasus yang menjeratnya. Dengan cara menjadikan bawahannya sebagai tumbal. Sehingga yang kena tembak adalah orang yang dijadikan tameng, sementara ia aman sampai garis finish.

Baca juga: Ketika Negara Menjadi “A Quiet Place” Tanpa Wujud Monster seperti di Film

Babak setelah permainan “lampu merah, lampu hijau” adalah permainan gulali. Sebelumnya, peserta diminta memilih bentuk segitiga, lingkaran, bintang, atau payung. Ternyata peserta ditantang untuk mengukir bentuk yang telah dipilih dari gulali dengan menggunakan alat berupa jarum.

Bentuk segitiga dan lingkaran mudah saja diukir. Tapi, untuk mengukir bintang dan payung sangat sulit. Bahkan sang tokoh utama saja sampai harus menjilat gulalinya untuk membentuk motif payung secara mulus. Pejabat yang terbiasa ‘menjilat’ tentu saja bakalan berhasil di babak ini dengan mudah.

Selanjutnya, permainan tarik tambang yang membutuhkan tenaga ekstra untuk bisa menang. Kalangan pejabat pasti bisa merekrut rakyat yang tampak kuat dan terbiasa bekerja keras untuk dimanfaatkan tenaganya dalam tim.

Tak lupa menyampaikan pidato persuasif saat mengajak berkoalisi untuk menghadapi kubu lawan. Seolah-olah berjuang untuk kepentingan bersama, padahal demi kemenangan pribadi. Sebab di babak selanjutnya, bisa jadi pejabat dan rakyat jelata kembali saling berhadapan.

Baca juga: Serial Clickbait dan Protokol Kesehatan di Internet

Misalnya, di babak permainan gundu atau kelereng, bisa jadi ada pejabat yang menipu rakyat. Apalagi, banyak rakyat gampang percaya dengan janji-janji manis. Rakyat dimanipulasi dengan tidak memainkan permainan gundu yang adil. Si pejabat bakalan menawarkan diri untuk menjaga gundu-gundu itu supaya tidak hilang. Ending-nya, rakyat dikhianati dan gundu-gundunya dibawa kabur sang pejabat demi kemenangannya sendiri.

Manipulasi ini bisa berlanjut di babak berikutnya, yakni permainan glass stepping stone. Para pemain disuruh berjalan di atas kaca dan menebak kaca yang mampu menopang pijakan. Jika salah pijak, pemain akan jatuh.

Pihak yang paling dirugikan adalah pemain yang maju pertama karena harus menanggung risiko lebih dulu, sekaligus menunjukkan jalan yang benar untuk pemain selanjutnya.

Artikel populer: Ya, Inilah “Money Heist” ala Indonesia

Dalam krisis ini, bakalan ada pejabat yang menyuruh rakyat maju ke depan untuk memilih jalan yang berisiko. Mirip dengan kondisi dimana rakyat digiring maju sebagai pion dalam konflik horizontal di lapangan. Sementara, si pejabat duduk manis dan melihat hasilnya. Alhasil, di babak ini bakalan banyak rakyat jelata yang berjatuhan untuk memuluskan jalan sang pejabat.

Babak penentuan adalah permainan Squid Game itu sendiri. Yang bisa lolos ke babak ini adalah pejabat paling licik dan rakyat paling beruntung. Keberuntungan bisa membuat pemain yang mewakili rakyat memenangkan babak final.

Namun, setelah pemenang yang merakyat ini menerima hadiahnya, ia justru membagikannya kepada pejabat yang juara dua tadi. Mungkin ia mau mencontoh kontestasi politik di sebuah negeri dimana pemenangnya menjadikan rival abadi sebagai pembantunya di pemerintahan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini