Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Apa Iya, Orang Jahat adalah Orang Baik yang Tersakiti?

Joker (Warner Bros/Niko Tavernise)

Film Joker garapan Todd Phillips menjadi perbincangan pelik yang akhirnya jadi polemik. Dengan sampel kehidupan Arthur Fleck yang suram, banyak penonton membenarkan jika orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Benarkah demikian? Mari, kita runutkan (dengan sedikit spoiler).

Pertama, Arthur Fleck digebukin oleh sekumpulan pemuda begajulan. Alasannya, saat itu Arthur jadi badut dan tampak konyol, sehingga anak-anak nakal itu merasa pantas memperlakukan sang badut dengan buruk. Namun, setelah kejadian itu, Arthur masih bisa memaafkan dan memaklumi kelakuan para ABG labil itu. Arthur orang baik dan pemaaf.

Masalahnya, atasan Arthur tidak mau tahu dengan kejadian buruk yang menimpa bawahannya tersebut dan memberikan sanksi: potong gaji. Sementara, rekan kerja Arthur justru menjerumuskannya dengan memberikan senjata api yang kemudian jadi biang kerok.

Selayaknya laki-laki pada umumnya, Arthur punya keluarga, pekerjaan, rekan kerja, cita-cita, idola, teman curhat, dan cewek yang disukai. Namun, satu persatu hal berharga dalam hidupnya terenggut. Arthur dipecat dari pekerjaannya, karena kedapatan bawa senpi sewaktu aksi jadi badut di depan anak-anak. Ternyata rekan kerjanya pun mengkhianatinya, dengan melaporkan kepada sang bos bahwa Arthur memang menyimpan senpi.

Baca juga: Begini Jadinya jika Joker Mencari Nafkah sebagai Pelawak di Negeri Ini

Sejak kecil, Arthur sesumbar ingin menjadi pelawak, semua teman yang mendengarkannya ikut menertawakan cita-citanya. Namun, ketika dewasa, saat Arthur melawak, tak ada yang tertawa. Tragedi dalam komedi itu justru jadi materi olok-olok oleh seorang pembawa acara talkshow bernama Murray Franklin yang merupakan idola Arthur. Semangat Arthur untuk menjadi pelawak tunggal pun dipadamkan oleh idolanya sendiri.

Belum cukup sampai situ, Arthur harus kehilangan teman curhat yang tak lain adalah petugas konseling. Psikiater itu mengaku tidak bisa menangani masalah kejiwaan Arthur lagi, karena Pemkot Gotham menghentikan bantuan pendanaan. Mungkin karena kesadaran pemerintah dengan kesehatan mental masyarakat masih minim, atau APBD Gotham sendiri sedang defisit.

Tapi memang, selama ini psikiater itu juga tidak benar-benar mendengarkan keluhan Arthur. Bukannya membantu, justru bikin makin rumit suasana hati Arthur. Sebuah kritik untuk tenaga kesehatan yang kerap diskriminatif kepada pasien pengguna BPJS Kesehatan. Hehehe.

Cewek yang disukai Arthur ternyata hanyalah kekasih bayangan. Kejadian romantis antara Arthur dan sang pujaan hati hanya terjadi dalam kepalanya saja. Akibat dari penyakit Arthur yang membuatnya sering berhalusinasi.

Baca juga: Joker dalam Keseharian Kita dan Bagaimana Ia Tercipta

Puncaknya, saat Arthur menyadari bahwa ibunya bukanlah ibunya. Mirip seperti judul sinetron religi bertema taubat, memang. Namun, fakta ini justru membuat Arthur merasa tidak punya siapa-siapa lagi. Sebagai orang yang sudah tak punya apa-apa, Arthur mengaku tidak bisa disakiti lagi.

Dari rentetan kejadian kelam itu, Arthur memilih menjadi Joker. Padahal, hidup itu pilihan dan menjadi Joker bukanlah pilihan satu-satunya. Misalnya, ketika main kartu remi saja, selain Joker, ada Jack, King, dan Queen.

Setiap orang selalu punya pilihan untuk menjadi jahat atau baik. Memaafkan atau membalas dendam. Yang hidupnya kelam tidak hanya Arthur Fleck. Sebetulnya hampir setiap karakter DC Comics memiliki masa kecil yang suram.

Alter ego Shazam adalah anak yang ditinggalkan oleh ibu kandungnya sejak balita, sehingga membuatnya tinggal di panti asuhan. Superman adalah bayi alien yatim piatu yang kedua orang tua dan planet asalnya meledak. Barry Allen the Flash menyaksikan sendiri ibunya dibunuh oleh makhluk misterius dan ayahnya justru dipenjara untuk kejahatan yang tidak pernah dilakukannya. Semesta DC memang sekejam itu.

Baca juga: Filosofi ‘Shazam!’ untuk Kamu yang Merasa Hidup kok Begini Amat

Yang tinggal sekota dengan Arthur Fleck, yaitu Bruce Wayne, harus kehilangan kedua orangtuanya yang dibunuh perampok di depan matanya. Bruce masih manusia biasa. Bruce sempat marah dengan takdirnya. Namun, apabila dia masih bertahan dengan dendamnya, kedua orangtuanya di akhirat pasti sedih. Maka, dia bangkit menjadi ksatria kegelapan dan memperjuangkan keadilan di kotanya. Agar tidak ada anak yang bernasib sama dengannya.

Di semesta DC, pahlawan dan penjahat dibedakan dengan batasan yang jelas: keadilan. Superhero superkaya seperti Batman berusaha untuk tidak membunuh musuhnya karena kematian belum tentu sebuah keadilan. Sementara, Joker merasa berhak mengakhiri nyawa orang dengan main hakim sendiri.

Tidak perlu menunggu disakiti untuk jadi jahat, setiap manusia memang memiliki dua sisi, baik dan buruk. Mungkin hanya Rifat Sungkar saja yang punya satu sisi, yaitu Sissy Priscillia.

Jadi, orang yang dinilai baik bisa berbuat jahat. Begitu pula orang yang paling jahat pun masih bisa berlaku baik. Sebenarnya masih ada sisa-sisa kebaikan dalam diri Arthur. Ketika sudah bertransformasi menjadi Joker yang bengis, Arthur masih menjaga mantan rekan kerjanya yang baik kepadanya untuk tetap hidup.

Artikel populer: Spider-Man?? Pahlawan Super atau Pahlawan Puber?

Sementara itu, Thomas Wayne yang digambarkan sebagai pahlawan Gotham pun bisa berlaku buruk kepada Arthur yang minta klarifikasi kepadanya. Thomas bukannya jawab baik-baik, malah meninju hidung Arthur.

Thomas Wayne digambarkan memperburuk suasana Gotham yang sedang kacau-balau dengan pernyataannya yang tak peka. Menyebut rakyat yang tak melakukan apa-apa sebagai badut. Sehingga, membuat rakyat yang sakit hati benar-benar jadi badut dan berbuat onar. Kasus ini mirip dengan para pejabat di sebuah negeri yang kerap blunder ketika berkomentar tentang krisis, konflik, dan bencana yang menimpa masyarakat.

Namun, kekacauan bukanlah hal yang patut dirayakan. Pun, kejahatan tidak bisa jadi pembenaran hanya karena kita pernah tersakiti. Dengan meneladani superhero anggota Justice League, kita wajib berlaku adil. Kejahatan mesti dihukum, kebaikan mesti disebarkan.

Pesan film Joker sebenarnya jelas. Berlakulah baik kepada setiap orang yang kita temui. Sebab, kita tidak tahu apa yang telah ia lewati sampai ke titik ini.

Jika memang orang jahat bisa terlahir dari orang baik yang tersakiti, mengapa tidak pakai logika sebaliknya? Orang jahat bisa menjadi orang baik jika diperlakukan dengan baik dan adil.

Keadilan inilah yang berusaha diperjuangkan oleh DC sejak awal. Makanya dibentuk Justice League atau Liga Keadilan, bukan Judging League atau Liga Penghakiman.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.