Apa-apa Porno, Mungkin Itu Cuma Pikiranmu Saja

Apa-apa Porno, Mungkin Itu Cuma Pikiranmu Saja

Ilustrasi (Analogicus via Pixabay)

“Indonesia negeriku, orangnya lucu-lucu”. Penggalan lirik lagu berjudul “Katanya” yang dinyanyikan Trio Kwek Kwek itu semakin terasa nyata. Tapi sayangnya, lucu di sini bukan sesuatu yang bisa bikin orang ketawa seperti video kucing di internet, melainkan lucu bin miris. Kok bisa ya?

Pertama, soal keputusan manajemen Taman Impian Jaya Ancol yang menutupi dada telanjang patung-patung putri duyung dengan kain. Alasannya untuk ‘memberikan kenyamanan pengunjung dengan konsep keluarga,’ meskipun tidak ada keluhan dari pengunjung soal ketelanjangan patung-patung tersebut.

Kedua, soal cerpen bertema homoseksualitas yang dimuat di situs pers mahasiswa (persma) Suara USU di Universitas Sumatera Utara (USU). Pihak rektorat merasa cerpen tersebut mengandung unsur-unsur pornografi dan bertentangan dengan nilai-nilai yang dianut USU.

Pernyataan itu tentu membuat bingung orang-orang yang sudah membaca cerpen tersebut. Ceritanya lebih berfokus pada persoalan diskriminasi berbasis gender dan orientasi seksual. Tidak ada narasi yang bermaksud untuk ataupun dapat membangkitkan birahi pembacanya. Dengan kata lain, tidak ada pornografi sedikitpun.

Baca juga: Seks Dianggap Tabu, tapi Diam-diam Dinikmati

Usut punya usut, penggunaan kata ‘sperma’ dan ‘rahim’ dalam cerpen tersebut dinilai sebagai sesuatu yang cabul. Pola pikir yang umum di negara yang sebagian besar masyarakatnya masih menganggap edukasi seks sebagai sesuatu yang bertentangan dengan norma sosial maupun agama, tidak bermoral, dan tabu untuk dibicarakan.

Konteks pembahasan seks sebagai bagian dari pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi seolah tak pernah terlintas di kepala mereka. Ujung-ujungnya, 18 orang pengurus Suara USU diberhentikan dari organisasinya dan diancam pidana dengan tuduhan melanggar UU ITE dan Pornografi.

Sedih memang mengikuti perkembangan kasus ini. Tetapi mengingat rendahnya tingkat literasi anak-anak dan orang dewasa, maka ketidakmampuan orang-orang di atas dalam memahami konteks sebuah cerpen sekalipun terasa wajar, namun tidak dapat dibiarkan. Sebab, mereka adalah orang-orang yang punya kekuasaan.

Kuasa dan Pengetahuan

Kekuasaan adalah paradoks yang menyensor dan merepresi, tapi pada saat bersamaan memproduksi sebuah realitas baru yang seolah menjadi kebenaran. Dengan menggunakan kekuasaannya untuk menutup ketelanjangan karena dianggap ‘membuat tidak nyaman’, manajemen Ancol menciptakan suatu realita baru yang sebelumnya tidak ada: patung telanjang dada meresahkan keluarga yang berkunjung ke sana sekaligus tidak sesuai dengan nilai ketimuran.

Baca juga: Kenapa Orang Indonesia Takut dengan Seks?

Kasus semacam ini bukan sekali terjadi, banyak karya seni lain yang dengan paksa dihilangkan atau dimodifikasi hanya untuk menyenangkan satu pihak tertentu.

Pengambilan keputusan ini pun tidak melalui diskursus yang transparan tentang ketelanjangan patung tersebut dalam konteks karya seni maupun pemaknaan budaya timur itu sendiri. Lewat kuasanya, mereka memaksakan pandangan kalau ketelanjangan, dalam konteks apapun, adalah sesuatu yang tidak pantas.

Sementara itu, dalam kasus USU, juga memberangus fungsi institusi pendidikan sebagai tempat diskusi yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan berpikir kritis. Mereka menutup ruang diskusi dan pembelajaran yang sehat, sekaligus. Sungguh ironis, karena institusi pendidikan seperti kampus seharusnya menjamin kebebasan berpikir kritis dan menjadi ruang diskusi yang aman.

Saya teringat ucapan Bertrand Russell yang menilai pendidikan sebagai salah satu hambatan utama pengembangan kecerdasan dan kebebasan berpikir.

Menurut dia, pendidikan seharusnya tidak hanya menjejali seseorang dengan informasi, juga mengembangkan kebiasaan untuk aktif mencari pengetahuan dan membentuk penilaian yang rasional untuk diri sendiri. Pengetahuan tidak melulu datang dari satu arah dan harus langsung diyakini sebagai kebenaran, selalu ada ruang untuk mengkritisi, sampai kebenarannya terbukti secara empiris.

Baca juga: Seumpama Nietzsche Hidup Lagi dan Jadi Dosen di Indonesia

Pemecatan 18 anggota persma Suara USU bertentangan dengan fungsi yang kedua. Pihak universitas tidak mau menerima pandangan yang berbeda dan memilih untuk memberangusnya guna melanggengkan hegemoni.

Tidak mengherankan juga kalau akhirnya banyak remaja yang lari ke internet untuk menambah wawasan soal seks, di mana potensi mereka terekspos ke pornografi betulan malah lebih besar. Pun mispersepsi tentang hubungan seks, reproduksi, dan seksualitas akan semakin berlanjut; karena sempitnya ruang untuk berdiskusi dan mendapat pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain pembungkaman kebebasan berbicara, peristiwa-peristiwa ini juga menunjukkan bahwa kebanyakan orang Indonesia masih salah kaprah dalam memaknai pornografi. Apapun yang telanjang, porno! Saru! Bersinggungan sedikit dengan organ reproduksi, porno!

Otak mereka seolah tidak mampu menangkap konteks yang lebih luas dan terkungkung dalam kesempitan pola pikir mereka sendiri, misalnya apapun yang berbau seks itu sudah pasti porno, tidak sopan, atau tabu; tanpa pandang bulu kalau tujuannya untuk edukasi ataupun seni.

Artikel populer: Vagina kok Jadi Bahan Candaan?

Karena itu, penting sekali bagi institusi publik, terutama yang bergerak di bidang pendidikan, untuk menempatkan orang-orang yang berpikiran terbuka di jajaran pemegang kekuasaan. Kalau tidak, universitas bakal cuma menjadi pabrik pencetak robot yang berpikir dan berperilaku seragam, bukan tempat berkembangnya ilmu pengetahuan lewat diskusi kritis.

Seperti yang selalu dibilang oleh dosen saya, “Kita sama-sama belajar. Kalian mendapat ilmu dari saya, saya juga mendapat perspektif baru dari diskusi dengan kalian yang berbeda latar belakang dengan saya.”

Setiap orang berhak memiliki pendapat dan cara pandang yang berbeda-beda, dan tak seorangpun boleh membungkamnya. Tentu saja ceritanya berbeda kalau pendapat tersebut belakangan terbukti membahayakan orang lain, tetapi itu untuk tulisan lain saja.

Kalau sekadar membaca kata ‘sperma’ dan ‘rahim’, atau melihat buah dada patung membuatmu berpikir cabul atau tidak nyaman, ya mungkin memang cara pikirmu saja kelewat mesum. Orang lain saja bisa melihat itu dengan kacamata berbeda dan menafsirkannya sesuai konteks. Tapi memang selalu lebih mudah menyalahkan benda mati daripada memperbaiki pikiran, bukan?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.