‘Anut Grubyuk’ yang Disebut Mbah Pram Kini Begitu Nyata

‘Anut Grubyuk’ yang Disebut Mbah Pram Kini Begitu Nyata

Ilustrasi (Image by Jayzza Gallego Garzon from Pixabay)

“Kamu individualis. Kamu mementingkan diri sendiri,” ucap seseorang di seberang sana. Ia baru saja menonton sebuah tayangan tentang kisruh di Ibu Kota. “Ini demi rakyat,” katanya. Saya tak begitu paham maksudnya. Hanya menerka niat di balik ucapan itu.

Individualisme… individualisme… Kata itu memang cukup mengganggu. Bukan apa-apa, terkadang ia begitu lekat dengan isme-isme lain yang juga bernasib ‘buruk’, semisal hedonisme.

Seperti sisa nuklir di Chernobyl, bagi sebagian orang, individualisme punya syarat yang cukup untuk masuk dalam kategori ‘wabah’. Ia merusak sendi-sendi persaudaraan. Mematahkan solidaritas, katanya.

Di negeri ini, sudah sejak dulu ‘wabah’ itu dihadang sedemikian rupa. “Sejarah Indonesia memang dibayang-bayangi prasangka yang laten terhadap individualisme,” tulis Zen Rs dalam sebuah esai berjudul “Saya Memang Individualis”.

Sebagai ‘sumber dari segala malapetaka di dunia’, individualitas patut untuk disingkirkan atau setidaknya disimpan di sebuah sudut konstitusi yang tak terlihat. Itu bukan kata saya, tapi kata presiden pertama kita. Kendati wakilnya tetap teguh dalam memperjuangkan hak-hak individu.

Baca juga: Mau Perubahan tapi Nggak Mau Bersuara, Kamu?

Pengalaman ditindas oleh bangsa Eropa diduga sebagai penyebabnya. Di sana, individualitas memang menemukan gairahnya. “Hatta berhadapan dengan mayoritas yang tahu betul pengalaman dijajah Eropa,” tulis Zen di blog bertajuk “Pejalan Jauh”.

Sementara, adagium ‘bangsa gotong-royong’ sering kali diseret untuk mengafirmasi berbahayanya sikap individualis. Ia juga dipandang seperti ‘racun’ yang bisa merongrong budaya ketimuran.

Tapi ‘racun’ itu justru bernilai penting bagi sebagian orang. Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Sastrawan yang menghabiskan sebagian hidupnya di tanah pembuangan itu bahkan mendaku diri sebagai seorang individualis.

Mbah Pram tak percaya bahwa lahirnya partai politik setelah reformasi adalah bunyi lonceng tanda kemajuan. “Saya tidak percaya sebelum berkembang individualitas-individualitas,” ucapnya dalam sebuah wawancara. Ya, ia memang kepala batu.

“Ah, individualis itu egois,” sahut suara dari arah berbeda. Deretan karya Pram yang mengantarnya ke Buru, terpisah dari keluarga, dan ketika bebas masih menemui diskriminasi yang perih, akan sangat naïf untuk disebut sebagai dampak dari laku egois.

Baca juga: Pemikiran Pram yang ‘Jleb’ Banget untuk Anak Muda Kekinian

Gotong-royong memang merasuk sangat dalam pada bangsa ini. Bahkan untuk perkelahian pun kita gotong-royong, untuk memaki orang kita gotong-royong, kita gotong-royong (dan berdarah-darah) saat berhadapan dengan bangsa sendiri. Kendati demi kepentingan oligarki.

“Mereka tidak mempunyai individualitas. Beraninya anut grubyuk,” tutur Pram suatu ketika, sambil menyebut tawuran yang sering terjadi sebagai bukti. Dalam bahasa Jawa, anut grubyuk artinya ikut-ikutan.

Saat bergerombol, keberanian memang menjadi lebih menonjol. Konon, para ilmuwan sosial menyebutkan bahwa di dalam kerumunan sosok individu menjadi lenyap, tergantikan oleh rasa kesetiakawanan kelompok. Di titik inilah, orang menjadi rentan terprovokasi, kata Moh Abdul Hakim dalam artikelnya di The Conversation.

Di dalam kerumunan ada suatu magic bernama ‘tatanan khayalan’. Seperangkat nilai yang disepakati oleh manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Peradaban bergerak sesuai dengan tuntunan magic ini, sebut Yuval Noah Harari dalam Sapiens.

Baca juga: Negarawan, Pak, Bukan Gegarawan (Surat Terbuka untuk Prabowo)

Tatanan khayalan memang abstrak, tapi ia menggerakkan apa saja. Ia bisa membuat jutaan pasang kaki menempuh jarak bermil-mil untuk melakukan ibadah, tapi juga bisa membuat seseorang yang hidup nelangsa di pinggiran Ibu Kota rela mempertaruhkan nyawa demi tatanan khayalan yang dikonstruksi oleh elit.

Kontestasi politik Indonesia belakangan mungkin merupakan bukti dari tergerusnya sikap individualitas. Kita seakan dipaksa untuk mendukung pihak-pihak yang berseteru. Jika menolak semua calon, langsung dicap egois dan tak memikirkan bangsa (dan agama).

Terlepas dari benar atau salah, isu kecurangan dalam Pemilu 2019 yang terus menerus dilontarkan pihak Prabowo-Sandi adalah salah satu bentuk dari tatanan khayalan. Dulu, jutaan manusia bersepakat pada satu tatanan khayalan bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama.

Hal itu persis dengan tatanan yang menghinggapi para pendukung Jokowi. Dengan segala toleransi dan pro-rakyat yang didengungkan.

Apa yang disebut Pram dengan anut grubyuk itu begitu nyata. Dalam kisruh, pandangan menjadi hitam-putih. Kamu ada di gerombolan mana, sekaligus berkonfrontasi dengan gerombolan yang mana.

Artikel populer: Ngumpulin ‘Quotes’, Cara Paling Gampang Agar Dianggap Pintar

“Keberanian individu masih minim pada bangsa ini,” tutur Pram. Di media sosial, orang-orang merasa diri bagian dari satu kelompok yang bertikai, dan karena itu berani melontarkan berbagai kecaman. Saat ditangkap keberanian itu lenyap, tersadar bahwa ia tak selamanya menjadi ‘bagian’ dari kelompok tertentu.

Sikap-sikap individualitas menjadi pudar. Kepentingan-kepentingan individu tereduksi oleh kepentingan kelompok (oligarki). Tak peduli, hari itu kamu bisa makan atau tidak, tanah yang kau diami bakal aman atau tidak dari cengkeraman kapital, selama tatanan khayalan kelompokmu sedang diserang, maka urat lehermu akan menegang.

Sudah betul adagium yang bilang bahwa politik harusnya berdasar pada laku sehari-hari. Ia tak perlu muluk-muluk tentang cita-cita utopis. Ia harus menyasar hal-hal mendasar kehidupan.

Seorang ibu tetap teguh memilih pemimpin A semata-mata karena setiap tahun ia menerima bantuan dari program si A. Begitu juga seorang pria yang tak mau berpaling dari pemimpin B, sebab pekerjaannya jadi mudah karena program si B. Apakah itu salah?

Para cerdik-cendekia mungkin akan bilang, “Ya, salah! Itu pragmatis dan oportunis!” Pertanyaannya adalah, jika para politisi bisa berpindah gerbong seenak-udelnya demi kepentingan, kenapa rakyat tak boleh?

Bukankah, untuk memberikan cinta kepada orang lain, kita seharusnya terlebih dahulu mencintai diri sendiri?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.