Beth Harmon dan Han Ji-pyeong. (Netflix/tvN)

Beth Harmon di The Queen’s Gambit dan Han Ji-pyeong di Start-Up adalah contoh anak yatim piatu yang sukses di dunia luar panti asuhan. Keduanya tak terkalahkan di bidangnya masing-masing, catur dan investasi. Namun, perihal utang, keduanya punya cara berbeda dalam membayarnya.

Mini seri The Queen’s Gambit tak ubahnya film aksi superhero buatan Hollywood pada umumnya: seorang jagoan ‘Negeri Paman Sam’ yang memperjuangkan American Dream. Kemudian, berhadapan dengan musuh dari Rusia.

Propaganda Hollywood berkali-kali mendikte penonton bahwa Rusia adalah antagonis dunia. Contohnya di serial Stranger Things. Gara-gara penelitian orang Rusia, monster seram keluar dari dunia lain dan mengacau di negara adidaya, lalu kumpulan bocah bersepeda harus repot-repot membasminya.

Namun, The Queen’s Gambit justru mengingatkan penonton tentang kelebihan orang Rusia yang tak dimiliki oleh kebanyakan masyarakat AS yang individualis. Khususnya di bidang catur.

Bagi orang Rusia, komunisme seolah mesti dipraktikkan di segala sendi kehidupan. Nilai-nilai kebersamaan juga diterapkan pada olahraga catur. Inilah alasan mengapa seorang pecatur Rusia repot-repot membantu pecatur sebangsanya dalam upaya mengalahkan pecatur negara rival. Sebab tidak ada kemenangan perorangan, semua kemenangan milik negara. Jadi, setiap warga negara wajib mewujudkan kemenangan tersebut.

Baca juga: The Queen’s Gambit dan Percaturan Politik Indonesia

Ketika dua pecatur Rusia berdiskusi di sesi jeda dalam menentukan langkah jitu untuk skakmat satu orang Amerika, itulah praktik dari teori leninisme: “Keragaman dalam diskusi, kesatuan dalam aksi”.

Sementara Beth Harmon yang menjadi jagoan di sini, datang ke Rusia seorang diri, hanya ditemani seorang pendamping dari pemerintahan. Tak ada teman diskusi, apalagi guru spiritual.

Yang ada, sebelum bertandang ke Rusia, Beth malah menjauhkan diri dari kelompok religius yang hendak mendanai perjalanannya. Masalahnya, sponsor itu bisa didapatkan dengan syarat ia bersedia mendeklarasikan diri sebagai ujung tombak agama yang memerangi komunisme. Sebab komunisme-leninisme dianggap anti-agama atau ateis.

Padahal, kalau digambarkan di sini, orang Rusia juga memeluk catur seperti agama. Setali tiga uang dengan Brasil yang menganggap sepak bola sebagai agama. Di Rusia, di jalanan, tua dan muda berhadap-hadapan, tepekur dengan khusyuk. Ritus mereka adalah mengangkat bidak, beradu ketangkasan otak, di atas dunia selebar papan kotak-kotak.

Namun, Beth tidak bersedia dikaitkan dengan agama. Sama seperti pemeluk agama yang tidak mau dikaitkan dengan aksi terorisme atas nama agama. Agama adalah agama, sebaiknya tetap disimpan dalam kesuciannya. Jadi, kredit prestasi dan wanprestasi seorang pemeluk agama adalah tanggung jawab individu.

Baca juga: Anak Muda Amerika Menolak Kapitalisme, tapi Tak Yakin dengan Sosialisme, lalu Apa Penggantinya?

Saking tak mau berutang kepada lembaga keagamaan, Beth sampai menguras tabungan untuk mengganti dana sumbangan keagamaan yang pernah diterimanya. Wajar saja Beth bertindak demikian. Sebab ini adalah peperangannya sendiri, bukan peperangan atas nama agama. Nah, manuver Beth ini adalah ciri orang Amerika yang sekuler, berdiri terpisah dari agama.

Sebelumnya, Beth juga digambarkan sebagai kapitalis yang money oriented (Amerika banget). Tujuannya memenangi pertandingan sama seperti Tuan Krabs di kartun Spongebob Squarepants: uang, uang, dan uang. Nyatanya, uang bisa menjadi motivasi terbesar yang mendorongnya naik ke puncak prestasi.

Dengan uang, dia bisa beli baju mahal dan hidup glamor nan hedon. Semakin sering menjuarai kompetisi, semakin kayalah dia. Sampai bisa beli rumah mevvah segala. Dia juga akhirnya bisa membayar majalah catur yang pernah dikutilnya di minimarket.

Namun, Beth lupa membayar utang kepada Mr Shaibel yang meminjamkannya uang untuk modal daftar lomba catur pertama kali. Bahkan sampai Mr Shaibel wafat, Beth belum bayar utangnya. Yang bikin haru, Mr Shaibel diam-diam membuat kliping prestasi Beth. Sudah seperti bapaknya Choi Taek di drakor Reply 1988 yang mengumpulkan artikel kemenangan sang anak semata wayang.

Baca juga: Second Lead Syndrome Tak Terelakkan, tapi Hidup Harus Terus Berjalan

Sesaat sebelum terbang ke Rusia, teman Beth sesama mantan anak panti meminjamkan uang untuk kebutuhan Beth selama di negeri orang. Lalu, teman-teman Amerika yang lain (dulunya lawannya tanding catur), turut membantu Beth via sambungan telepon. Mereka memberikan dukungan moral dengan mengusulkan ide-ide perlawanan untuk menjatuhkan raja lawan caturnya di final.

Pada akhirnya, Beth meniru strategi pecatur Rusia dengan menerima uluran tangan dari rekan-rekan senegaranya. Namun, sampai tamat, tidak diketahui apakah Beth ingat untuk melunasi utang kepada temannya tersebut.

Dibandingkan Beth Harmon, Han Ji-pyeong di drakor Start-Up lebih punya niat dalam perkara membayar utang. Salah satu plot drama Korea fenomenal ini adalah usaha Ji-pyeong (second lead) membayar utang kepada neneknya Seo Dal-mi (Dal-mi adalah main lead). Sebab “halmeoni” alias nenek tersebut sudah menampung Ji-pyeong yang terlunta-lunta ketika baru keluar panti.

Demi membalas budi baik sang nenek, Ji-pyeong sampai bela-belain mementori Dal-mi yang ingin memulai usaha rintisan di Sand Box. Dalam perjalanannya, Ji-pyeong malah jatuh cinta kepada Dal-mi dan terlibat konflik dengan Nam Do-san sampai jotos-jotosan.

Artikel populer: Jika Drakor Start-Up Diadaptasi Menjadi Sinetron Indonesia

Pada akhirnya, sang nenek tidak minta imbalan kepada Ji-pyeong. Dia justru menyarankan Ji-pyeong bayar utang dengan cara memberikan bantuan kepada mereka yang lebih membutuhkan (anak yatim piatu seperti Ji-pyeong dulu). Mungkin Mr Shaibel di The Queen’s Gambit pun tidak menuntut hal yang sama kepada Beth Harmon. Melihat keberhasilan anak didiknya saja sudah bangga, ridho bin ikhlas.

Namun, biar bagaimana pun, utang tetaplah kewajiban yang mesti dilunasi. Termasuk, utang negara yang digunakan untuk bansos kepada rakyat di tengah pandemi. Walaupun ujung-ujungnya jadi bahan korupsi pejabat, tetap saja nanti rakyat juga yang menanggung.

Nah, rela siap nggak?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini