What If...? (Marvel Studios)

Serial animasi Marvel What If…? menunjukkan jutaan kemungkinan dalam multisemesta. Contohnya, pilihan yang diambil Peggy Carter untuk menyaksikan Steve Rogers saat disuntik serum tentara super. Nyatanya, keputusan kecil itu bisa membuat alur waktu menjadi bercabang.

Bagaimana jika Agen Carter yang menjadi Captain Carter? Sementara, Steve Rogers tidak pernah menjadi Captain America?

Kemampuan Agen Carter sempat diragukan oleh bapak pimpinan karena gendernya. Katanya, perempuan tidak bisa bertarung karena takut kukunya patah. Nyatanya, Captain Carter bisa menjadi Avenger perdana.

Bahkan Captain Carter digadang-gadang lebih kuat daripada Captain America versi Steve Rogers. Wajar saja, mengingat sebelumnya Carter sudah berpengalaman dalam aksi-aksi berbahaya. Berbeda dengan Steve Rogers yang sepanjang hidupnya menjadi korban body shaming.

Namun, Steve yang berbakat jagoan, tetap menjadi superhero dengan bantuan Howard Stark, ayah Tony Stark. Steve diberikan armor seperti Iron Man untuk membantu Captain Carter dalam misi melawan musuh.

Baca juga: Andai Kata WandaVision Berlatar Sitkom ala Indonesia

Seterusnya, kisah Captain Carter hampir sama seperti sinopsis film Captain America: The First Avenger. Bedanya, tokoh utamanya Peggy Carter, bukan Steve Rogers.

Kemungkinan nanti Captain Carter bakalan membentuk Avengers untuk melawan Lady Loki sebagai musuh bersama. Anggotanya adalah Iron Woman, Lady Thor, She-Hulk, Female Hawkeye, dan Black Widower. Yah, sekali-kali duda jadi minoritas di grup superhero. Jangan malah berkumpul dengan duda lainnya untuk melecehkan fans perempuan di siaran Instagram.

Di salah satu semesta alternatif, bisa saja Agen Carter menjalankan tugas di Indonesia. Namun, bukan sebagai mata-mata Amerika untuk menyelidiki mantan pemimpin Nazi yang konon bersembunyi di Pulau Sumbawa. Di sini, Agen Carter menjadi pengusaha jasa angkutan. Nama kerennya Agen Carter Angkot.

Serial What If…? memang hanya berfokus pada kisah-kisah alternatif superhero terkenal dari Amerika dan Wakanda. Padahal, di Indonesia juga banyak superhero. Misalnya Panji, Saras 008, Gundala, dan Virgo yang diperankan oleh Zara Adhisty. Lantas, bagaimana nasib mereka versi dunia paralel?

Baca juga: Menyoal Abuse of Power Lewat Satire Superhero, Nyindir Banget!

Misalnya, Panji yang menjadi manusia milenium setelah diberikan gelang berteknologi canggih oleh seorang profesor. Nah, kalau dia dikasih jam tangan KW, apakah tetap bisa jadi superhero milenial? Atau, malah jadi minder saat ditanya harga outfit oleh youtuber?

Terlepas dari nasib superhero lokal, bagaimana dengan nasib Indonesia sendiri versi dunia yang lebih baik? Apakah di antara jutaan kemungkinan itu, negeri ini menjadi semaju Jepang yang dulu pernah menjajahnya? Kalau bisa begitu, yang menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 bukan Tokyo, melainkan Jakarta.

Ketika Indonesia menjamu kontingen dari negara lain, para atlet diberikan akomodasi yang baik. Saat pertandingan pun penonton asal Indonesia memberikan sikap hormat. Berbeda dengan salah satu atlet dari negara maju yang bersikap rasis dengan menyebut rival yang mengalahkannya sebagai teroris. Hal ini bisa membuat tim produksi drakor Racket Boys menjadi malu, karena pernah mempertontonkan adegan sebaliknya yang tak sesuai fakta.

Baca juga: Membayangkan ‘Rangga dan Cinta’ Bertemu sebagai Aquanus dan Dewi Api

Di drakor, atlet bulu tangkis putri asal Indonesia bisa dikalahkan dengan mudah berkat hasil ketikan writernim alias penulis skenarionya. Namun, di dunia nyata, pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu berhasil menyabet medali emas di olimpiade. Keduanya menjadi pahlawan di dunia olahraga yang mengharumkan nama bangsa. Tak heran, mereka dapat hadiah dari Arief Muhammad tanpa perlu ikut ikoy-ikoyan.

Dengan ini, bisa dibilang Racket Boys adalah ‘What If…?’ versi drama Korea. Kita bisa melihat momen ‘What If…?’ yang dipakai tim produksi drakor ini sebagai bentuk motivasi untuk negaranya. Sama seperti motif diciptakannya waralaba Captain Tsubasa untuk membangkitkan dunia sepakbola Jepang.

Selain itu, ‘What If…?’ bisa jadi bentuk pengandaian untuk mereka yang menyesal dengan apa yang telah diperbuat. Lantas, membayangkan seandainya memilih opsi yang lain, mungkin kenyataan bakalan berbeda. Jika bisa begini, bisa begitu.

Misalnya, mantan menteri yang korupsi bansos saat pandemi. Belakangan, internet pecah karena sang mantan menteri itu mengaku sangat menderita dan minta diakhiri penderitaannya. Tanpa rasa bersalah, ia minta dibebaskan. Tapi pastinya tidak mau kalau dibebaskan di alam liar.

Artikel populer: The Suicide Squad dan Influencer yang Bikin Blunder

Peggy Carter yang mengambil keputusan kecil saja bisa berdampak besar, bagaimana dengan keputusan besar seperti kasus korupsi bansos? Dampaknya juga besar. Rakyat pun banyak yang menderita dan minta diakhiri penderitaannya, tetapi negara bisa apa?

Jika dibuatkan satu episode di antologi What If…?, ceritanya mantan menteri itu mengurungkan niatnya untuk korupsi bansos. Sebab ia bisa memprediksi konsekuensinya. Mungkin nanti tidak dihukum berat, tetapi hukuman dari netizen amat pedih. Bisa bikin malu keluarga di media sosial.

Kalau tidak korupsi, menteri beserta jajarannya bakalan membantu banyak rakyat mendapatkan hak dengan layak. Lalu, para pejabat itu diangkat setara superhero karena bisa menjaga aliran bansos dari pusat turun ke rakyat tanpa disunat-sunat. Mereka bakalan dijuluki sebagai Guardians of the Bansos.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini