Anies-Sandi dalam Perspektif Dunia Asmara
CEPIKA-CEPIKI

Anies-Sandi dalam Perspektif Dunia Asmara

Anies-Sandi (tribunnews.com/liputan6.com)

Diputus pacar bisa jadi salah satu momen terberat dalam hidup seseorang. Bahkan gagal dalam ujian skripsi dan tidak diterima masuk PNS sekalipun, tidak bisa menandingi rasa sakitnya.

Tapi percayalah, berdasarkan pengalaman pribadi (dan pengalaman banyak orang juga sih), diputusin itu cuma gerbang dari rasa sakit-rasa sakit berikutnya yang justru akan datang bertubi-tubi.

Salah satu rasa sakit itu datang, biasanya, dari media sosial, ketika kita dipaksa menjadi saksi dari kemesraan mantan dengan pacar barunya. Salah sendiri, sudah putus masih stalking-stalking akun mantan. Apalagi kalau kelakuan pacar baru mantan kita itu ternyata nggak banget.

Tapi itu belum apa-apa. Rasa sakit itu akan mencapai puncaknya ketika mantan kita akhirnya mengumumkan bahwa doi mau kawin sama pacar barunya yang nggak banget itu.

Lalu, mengundang kita datang ke resepsi kawinannya, kemudian telpon maksa-maksa kita datang dengan bumbu kata-kata “tiada ada kesan tanpa kehadiranmu.” Terus, pas kita datang dan ngambil prasmanan, niatnya ngambil rendang, dapatnya malah lengkuas.

Alot, Bro!

Nah, tanggal 16 Oktober, sekitar 42% warga Jakarta akan merasakan hal yang kurang lebih sama. Sandiaga Uno yang bentuk tangannya ketika debat cagub diolok-olok dan posenya ketika menyeberangi jembatan bambu – lengkap dengan grafiti yang aduhai di latar belakangnya – dirisak habis-habisan, justru mengulangi gesturnya itu dalam sesi pemotretan baju dinas.

Gimana? Calon yang didukung kalah saja rasanya sudah sakit, malah ditambahin sama pose seperti itu lagi. Darah rasanya ngumpul di kepala semua, ya? Belum, saudara-saudara, belum…

Puncak rasa sakitnya justru saat pelantikan Anies-Sandi. Tidak diundang pun, saya rasa tivi-tivi nasional akan menyiarkan upacara pelantikan gubernur ibu kota secara langsung. Mungkin malamnya malah ada siaran tundanya.

Kalau nggak lagi makan rendang, tapi lagi bikin mi instan, cabenya dijauhin dulu. Biar nggak pedes-pedes banget…

Ada banyak cerita tentang mantan yang menghadiri resepsi kawinan mantannya. Ada yang jatuh pingsan, ada juga yang memeluk mantannya itu di pelaminan sambil berurai air mata. Dan, tentu saja, ada yang lagi gondok sambil ngemut-ngemut lengkuas di pojokan.

Tapi saya ingat ketika pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli dikalahkan oleh Jokowi dan Ahok. Ketika omongan Oom Nara mulai ngelantur di konferensi pers pasca pengumuman hasil pilkada itu, seingat saya Bang Foke langsung merebut mikrofon dan berkata singkat, “Kami kalah dan kami mengucapkan selamat bekerja kepada gubernur dan wakil gubernur Jakarta yang baru…”

Legawa kalau kata orang Jawa.

Soal legawa ini, teman-teman Pak Ahok dan Pak Djarot juga bisa belajar dari Pak Anies. Pak Anies waktu baru diberhentikan Pak Jokowi dari jabatannya sebagai menteri pendidikan menolak mengomentari ide sekolah sehari penuh yang dilontarkan oleh penggantinya.

Kata beliau, “Sebagai (( mantan )) mendikbud, menghormati menteri baru dan tidak ikut mengomentari kebijakan menteri yang baru.”

Adem dunia kalau semua mantan pacar punya prinsip kayak Pak Anies. Dukun santet se-Indonesia boleh mulai berpikir untuk nyari pekerjaan baru. Daftar PNS atau apalah gitu.

Tapi, di sisi lain, 58% warga Jakarta pendukung Pak Anies dan Mas Sandi ternyata juga lagi nggak bisa tidur. Isu yang berkembang katanya ada empat skenario yang direncanakan lawan politik untuk menjegal jagoan mereka.

Yang pertama, program Anies-Sandi disebut-sebut mau dijegal dari pemerintah pusat, lalu lewat internal pemprov, kemudian lewat DPRD DKI – karena perwakilan Gerindra dan PKS di DPRD cuma dikit, dan terakhir lewat jalur hukum.

Ketakutan bahwa Pak Anies dan Mas Sandi akan dijegal oleh pemerintah pusat itu sama kayak takut dimusuhi ibunya pacar kita. Alasannya, karena mantannya pacar kita itu sudah kenal lama sama ibunya.

Saya tahu orang sedang bicara soal reklamasi. Soal ini, Pak Anies bisa belajar dari pengalaman Pak Jokowi waktu jadi wali kota. Ketika itu, Pak Jokowi menolak perintah gubernurnya untuk merubuhkan pabrik es Saripetojo. Bahkan sampai disebut ‘bodoh’ sama gubernur Jawa Tengah waktu itu.

Tapi akhirnya Pak Jokowi kan berhasil salaman sama Pak Bibit Waluyo sesaat setelah jadi gubernur Jakarta. Rasanya pasti kayak Mas Anang yang nyalami tangan Oom Raul di pesta perkawinannya sama Mba Ashanti.

Ketakutan-ketakutan pendukung Pak Anies dan Mas Sandi yang lain juga sebenarnya tidak beralasan dan keduanya bisa belajar, sekali lagi, dari Pak Jokowi. Atau, justru dari Pak Ahok.

Kalau mantannya pacar mengganti asisten rumah tangga dan kita nggak boleh menggantinya dalam enam bulan ke depan, ya diganti pada bulan ketujuh. Kalau perlu bikin lelang jabatan asisten rumah tangga.

Jadi, orang percaya kalau asisten rumah tangga itu tidak dipilih berdasarkan kedekatan dengan tuan rumahnya, tapi karena kinerjanya.

Atau, kalau kartu kredit pacar kita diblokir mantannya, ya cari sumber-sumber dana lain. Lagipula memang gitu, kalau udah putus, hape kan musti dibalikin. Lha, belum-belum udah pada takut program rumah 0%-nya nggak jalan karena nggak ada di APBD.

Pak Jokowi kan juga tidak dominan suara pendukungnya di DPR, tapi proyek jalan tolnya jalan terus. Atau, Ahok yang dulu pernah ngamuk-ngamuk karena anggaran buat beli truk sampah tidak kunjung disetujui DPRD, tapi akhirnya kan dapat truk sampah baru. Sumbangan dari pengusaha, lewat CSR.

Saya pikir, orang yang bisa mengalahkan cagub yang menurut semua pengamat tidak terkalahkan, pastinya punya segudang ide yang OK OCE. Ya kan?

Kalau soal hukum, saya nggak komentar deh. Tapi saya ingat kutipan dari Seno Gumira Ajidarma yang sering dibagikan orang: Menjadi Tua di Jakarta.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Seandainya Seno memasukkan ketakutan-ketakutan warga Jakarta hari ini, mungkin beliau akan nulis:

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi ketakutan-ketakutan; pendukung gubernur lama takut karya jagoannya dirusak gubernur baru, sementara pendukung gubernur baru takut program idolanya dihalang-halangi gubernur lama.”

Jadi kepada warga Jakarta, saya cuma mau bilang, “Jangan takut punya mantan. Mantan yang tidak membunuhmu, akan membuatmu lebih kuat.” Yang penting, jangan lupa bahagia.

Atau, kalau memang bisa menghibur hati selama lima tahun ke depan, ingatlah pepatah lama yang bilang bahwa “Jodoh ada di tangan Tuhan, dan mantan…

… ada di tangan setan.”

  • am Ria

    Nice..