The Walking Dead. (AMC)

Saat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berlangsung, sempat terdengar berita petugas yang menganiaya warga sipil. Hal itu membuat jalanan di negeri ini menjadi seperti latar film trilogi Fear Street. Ketakutan rakyat tak hanya kepada penyebaran virus saja, tapi juga kepada sesama manusia.

Bisa dibilang, ketakutan di jalanan ala Fear Street sudah banyak terjadi di negeri ini. Kalau lihat gambaran besarnya, bahkan bisa dibuatkan trilogi seperti Fear Street yang dibagi menjadi tahun 1994, 1978, dan 1666 itu. Kalau versi Indonesia, latar waktunya tahun 2021, 1998, dan 1965.

Fear Street Part 1: 2021

Warga takut bepergian karena virus yang tak terkendali. Selain itu, penyekatan jalan di mana-mana. Pemerintah membatasi kegiatan masyarakat, termasuk usaha untuk cari makan. Tetapi, negara sendiri masih setengah hati dalam memberi makan rakyatnya.

Fear Street Part 2: 1998

Terjadi kerusuhan rasial yang membuat warga minoritas takut keluar rumah. Kisah mengerikan menghiasi sepanjang jalan Ibu Kota. Banyak toko dan kantor diamuk massa. Penjarahan sudah seperti ‘flash sale‘ dengan mata uang kekerasan.

Baca juga: Varian Loki dan Varian Baru Virus Corona

Fear Street Part 3: 1965

Mirip seperti konflik di cerita Fear Street Part 3: 1666, tahun 1965 di Indonesia juga memuat peristiwa berdarah yang melibatkan fitnah. Rakyat bisa dibantai karena pemikirannya yang berseberangan dengan penguasa, bahkan sekadar menjadi korban fitnah tetangga seberang jalan.

Padahal, para pendiri bangsa bercita-cita sepanjang jalan Nusantara ini menjadi Sesame Street (Jalan Sesama), alih-alih Fear Street (Jalan Ketakutan).

Setiap nyawa berharga, dan negeri ini sudah kehilangan banyak. Setengah juta jiwa karena perbedaan ideologi, ribuan jiwa menjelang reformasi. Kini, puluhan ribu korban meninggal dunia karena virus, ditambah para pejabat yang tak becus dan sesama manusia yang rakus.

Korupsi bansos, penimbunan masker dan oksigen, serta panic buying susu beruang oleh mereka yang ber-uang. Sisi lain dari manusia yang bisa membahayakan manusia, selain dari virus itu sendiri.

Serial televisi bergenre horor pasca-apokaliptik bertajuk The Walking Dead adalah gambaran ekstrem bagaimana pandemi menghancurkan dunia. Wabah mayat berjalan menjadi penyebab kepunahan umat manusia. Teori Darwin pun direvisi, kera berevolusi jadi manusia modern, lalu manusia modern berubah jadi zombi.

Baca juga: Ketika Negara Menjadi “A Quiet Place” Tanpa Wujud Monster seperti di Film

Manusia yang tersisa bertahan hidup dengan sisa-sisa kemanusiaan. Sebagian penyintas kehilangan sisi kemanusiaannya dengan memangsa sesama manusia.

Perjalanan Rick Grimes sang tokoh utama di serial ini bisa jadi rujukan. Tentang bagaimana menerima fakta terkait sebuah wabah, lalu mencari solusinya.

Destinasi pertama dari kelompok penyintas yang dipimpin Rick adalah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit. Di sinilah, Rick bertemu dengan seorang dokter peneliti virus yang menyebabkan manusia berubah jadi zombi.

Langkah awal menghadapi pandemi adalah bertanya kepada tenaga kesehatan dan mendengarkan saran ahli, bukan penganut teori konspirasi. Kenali virus yang sedang diperangi untuk tahu cara mengendalikannya. Apakah ada obatnya? Bagaimana pencegahannya? Apa yang harus dilakukan untuk memutus rantai penyebarannya?

Dari situ, kelompok Rick merumuskan protokol kesehatan dan keselamatan melawan wabah zombi. Bukan malah menganggap enteng, misalnya menyimpulkan bahwa nanti yang sakit bisa sembuh sendiri.

Destinasi berikutnya, Rick singgah ke sebuah ladang milik keluarga petani. Bukan tanpa alasan, ladang adalah simbol ketahanan pangan. Untuk bertahan hidup, manusia butuh makan. Dengan di rumah saja, manusia mungkin bisa lolos dari serangan virus. Namun, tanpa suplai makanan, manusia bisa kekurangan nutrisi dan mati kelaparan.

Baca juga: Kepada Mereka yang Berjuang dan Ber-uang Sampai Sekarang

Sayangnya, ladang yang menyediakan hasil bumi dan hewan ternak ternyata tidak cukup aman dari amukan zombi. Tiba hari ketika kawanan zombi mengepung ladang. Membuat kelompok Rick harus pergi dan memulai hidup nomaden.

Sampai akhirnya, Rick menemukan tempat yang lebih aman, yaitu penjara. Pada kondisi normal, penjara menjadi tempat mengurung pelaku kriminal yang membahayakan masyarakat. Namun, di tengah wabah, penjara punya fungsi yang dibutuhkan untuk isolasi mandiri. Aneh saja, kalau ada upaya pembebasan sejumlah napi dengan alasan untuk mengurangi risiko penularan Covid-19 di dalam penjara.

Dalam waktu yang cukup lama, Rick bisa menekan angka kematian akibat gigitan zombi. Sebab pagar penjara melindungi manusia di dalamnya dari jangkauan zombi. Kebutuhan pangan pun terpenuhi dengan cara berkebun dan beternak di balik pagar penjara.

Sayang, tidak ada sel mewah bekas napi tipikor yang dilengkapi AC, kulkas, TV, dan alat gym. Kalau mau benda-benda itu, Rick harus menjarah di toko-toko yang ditinggalkan pemiliknya. Dengan risiko, dikejar zombi di jalan.

Artikel populer: Jika Selebgram, Youtuber, dan TikToker Gelar Live Streaming Disuntik Vaksin

Mungkin bakalan berbeda ceritanya kalau Rick sebagai pemimpin menerapkan PPKM terhadap kelompoknya. Misalnya, Rick melarang anggotanya beraktivitas di jalanan untuk menghindari zombi. Sebab jika ada anggotanya yang digigit zombi, bisa membahayakan seluruh anggotanya.

Namun, Rick juga tidak membagikan makanan untuk anggotanya. Rick membiarkan anggotanya pusing sendiri memikirkan besok makan apa.

Agar anggota kelompoknya tidak turun ke jalan, Rick menutup jalanan pakai batang pohon. Ketika ada anggota yang ketahuan sedang ‘cari makan’ di jalan, Rick bakalan menghukumnya dengan sabetan rotan.

Alhasil, orang-orang lebih takut kepada penguasa daripada dengan pandemi itu sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini