Andaikan Cerita The Lion King Berlatar Alam Liar Nusantara

Andaikan Cerita The Lion King Berlatar Alam Liar Nusantara

The Lion King (Disney)

Film The Lion King sangat direkomendasikan untuk nasabah bank yang sering antre di depan teller. Biasanya, ada saja nasabah yang salah fokus, malah keasyikan nontonin hewan berantem di Discovery Channel. Sampai-sampai nggak dengar sewaktu dipanggil nomor antreannya oleh customer service.

Tampilan visual versi live action ini memang realistis mirip seperti di Animal Planet. Beberapa pengisi suara di The Lion King adalah pemain film Black Panther. Uniknya, plot cerita The Lion King juga mirip dengan kisah kebangkitan Black Panther. Hanya saja seruan “Wakanda Forever!” diganti dengan moto “Hakuna Matata”.

Ceritanya berkutat tentang perebutan tahta antar saudara kandung di sebuah kerajaan, lalu putera mahkota yang sah terusir dari kerajaan. Bedanya, tinggal mengganti orang-orang Wakanda dengan margasatwa.

Nah, saya membayangkan, bagaimana seandainya latar tempat cerita The Lion King berada di alam liar Nusantara? Mungkin dialog, konflik, dan konklusi ceritanya bakal begini:

Adegan kelahiran Simba

Seluruh satwa liar berjalan menuju padang sabana tempat Rafiki si kera tetua menunjukkan bayi Simba. Seperti biasa, para tetangga ikut berkomentar.

Jerapah: “Lehernya pendek ya.”

Gajah: “Kurus amat badannya. Nggak dikasih makan ya sama ibu-bapaknya?”

Kuda nil: “Bayi belum dimandiin udah dipamer-pamerin.”

Zebra: “Idih, warna bulunya norak amat. Kayak anak kecil keseringan main layangan.”

Babi hutan: “Mukanya serem banget, padahal masih kecil.”

Monyet: “Masih cakepan anak gue.”

Baca juga: Seandainya Para Putri Disney Menanti Pangeran di Indonesia

Adegan Mufasa mengajari Simba tentang lingkaran kehidupan

Mufasa berjalan-jalan dengan Simba sembari memamerkan daerah kekuasaannya.

Mufasa: “Hidup itu harus seimbang antara mengambil dan memberi. Singa memang memakan antelop. Namun, ketika singa mati, kuburannya menghasilkan tumbuhan yang nantinya dimakan oleh antelop.”

Simba: “Ayah punya prinsip yang lebih manusiawi ketimbang prinsip manusia. Di kelas-kelas saat pelajaran Biologi, manusia menyebut proses makhluk hidup yang memakan dan dimakan oleh makhluk hidup lain sebagai rantai makanan. Sementara, kita justru menyebutnya sebagai lingkaran kehidupan.”

Mufasa: “Karena kita tidak serakah seperti manusia. Rantai makanan terkesan materialistis, sedangkan frasa lingkaran kehidupan punya nilai spiritual tinggi. Rantai makanan terdengar seperti makhluk hidup yang memangsa makhluk hidup lain karena didorong oleh rasa lapar. Makanan sendiri bersifat kebendaan. Sementara, lingkaran kehidupan adalah proses menjalani peran dan menerima takdir agar kehidupan itu sendiri terus berputar.”

Belum kelar ceramah, perut Mufasa sudah bunyi tanda lapar. Kebetulan ada kawanan kambing lewat.

Mufasa: “Kambing guling kayaknya enak nih.”

Simba: “Demi lingkaran kehidupan, kita harus makan kambing guling hari ini!”

Baca juga: Cara Mengalahkan Annabelle Selain dengan Agama

Adegan Mufasa menegur Scar karena tidak hadir di perayaan kelahiran Simba

Mufasa datang ke sarang Scar.

Mufasa: “Kulonuwun! Bro, kenapa lu nggak dateng ke acara syukuran anak gue?”

Scar: “Bosen ah gue sama nasi berkat.””

Mufasa: “Gaya lu! Ngaku aja lu iri kan sama anak gue yang periode depan jadi raja?””

Scar: “Pake ditanya lagi, ah, lu bikin gue bete aja. Gara-gara bini lo lahiran, gagal kesempatan gue jadi raja.”

Mufasa: “Ingat, raja sebenarnya itu manusia, Bro.”

Benar saja, manusia yang baru diomongin Mufasa ternyata panjang umur. Para pemburu datang di tengah pertengkaran antar saudara itu.

Debat pun berakhir ketika Mufasa jadi korban perburuan liar. Bukannya menolong kakaknya, Scar malah kabur duluan. Tak hanya menghindar dari target buruan manusia, Scar berlari ke arah istana untuk buru-buru mengklaim tahta.

Adegan Scar menggantikan Mufasa sebagai raja

Scar pidato kepada para singa.

Scar: “Menurut aturan alam liar, setelah kakak saya mangkat, saya yang menggantikan jadi raja. Ucapkan selamat untuk saya!”

Singa-singa: “Bukannya sedih baru ditinggal mati saudara, malah sibuk ngurus jabatan sama warisan. Ckckck.”

Lalu, Scar memanggil kawanan hiena untuk bergabung dengan para singa.

Scar: “Nah, selain para hiena, saya juga mengundang satwa-satwa lain yang tempat tinggalnya digusur oleh manusia karena pembalakan liar.”

Gegara kebijakan Scar mendatangkan warga asing itulah kerajaan mengalami over populasi. Sementara, sumber daya justru semakin berkurang.

Baca juga: Spider-Man?? Pahlawan Super atau Pahlawan Puber?

Adegan Simba kabur dari kerajaan dan bertemu teman baru

Sejak ditinggal ayahnya, Simba pergi dari kerajaan untuk melupakan dukanya.

Simba: “Kalau bukan ayah rajanya, aku nggak mau jadi rakyatnya. Nggak kebagian jatah kambing guling.”

Di tanah rantau, Simba bertemu dengan Pumbaa si babi hutan dan Timon dari keluarga luwak. Pumbaa dan Timon adalah hewan yang dikucilkan oleh pergaulan di hutan.

Timon: “Aku nggak ditemenin karena badanku bau. Katanya, aroma tubuhku merusak ozon.”

Pumbaa: “Kalau aku dijauhi karena haram.”

Simba: “Aku bukan singa, jadi jangan takut berteman denganku. Sekarang aku adalah Kocheng Oren.”

Bersama Pumbaa dan Timon, Simba tumbuh menjadi singa vegetarian. Sebagai vegan, Simba merasa lebih baik daripada pemakan daging lainnya.

Adegan Simba merebut tahta dari Scar

Dibantu Pumbaa dan Timon, Simba datang ke istana dengan mengaum dan menerjang Scar.

Simba: “Punteeeen!””

Scar: “Hah? Masih idup, lu?””

Simba: “Minggir lu! Gantian gue yang jadi raja. Gue udah gede nih.”

Scar: “Ih ogah. Gue udah nyaman jadi penguasa. Nggak kuat lama-lama jadi oposisi.”

Simba: “Ya udah, kalo gitu kita berantem aja.”

Artikel populer: Seandainya Bima dan Dara Anak Twitter, lalu Bikin ‘Thread’ 18+

Simba dan Scar pun bertarung di pinggir jurang untuk menentukan siapa yang pantas jadi raja.

Ketika Scar dan Simba melakukan sabung singa, Rafiki si kera bijak menengahi.

Rafiki: “Sudah, sudah, jangan berkelahi. Siapapun yang menang, tidak akan bisa hidup tenang di alam liar ini.”

Simba dan Scar rehat sejenak untuk mendengarkan petuah tetua tersebut.

Rafiki: “Musuh kita sebenarnya adalah makhluk yang melakukan pembalakan dan perburuan liar di alam Nusantara. Lama-kelamaan, habitat kita bisa lenyap. Ditambah populasi kita semakin langka karena sifat konsumtif mereka. Daripada kita saling ribut antar sesama satwa, mending kita bersatu untuk demo kepada mereka.”

Scar dan Simba sepakat berdamai. Lalu, dikirimlah staf humas alam liar untuk negosiasi dengan manusia, yaitu seekor biawak. Alias ‘komodo’ yang sempat viral panjat pagar rumah manusia itu. Bukannya tercipta kesepakatan antara manusia dan hewan, eh malah jadi bulan-bulanan di-bully netizen.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.