‘Anak Jaksel-jaksel Club’

‘Anak Jaksel-jaksel Club’

Ilustrasi (StockSnap via Pixabay)

Sehabis Bekasi, terbitlah Jaksel. Dulu, Bekasi disindir karena kondisi infrastrukturnya yang jelek, bahkan beberapa orang menyebut Bekasi berada di luar bumi. Kini, Jakarta Selatan (Jaksel) jadi perbincangan hangat karena gaya bicara anak mudanya yang mencampur bahasa Indonesia dan Inggris.

Bahkan, Sandiaga Uno ketika ‘berdamai’ dengan Ridwan Kamil ikut-ikutan bergaya ‘Anak Jaksel’, meskipun tujuannya berguyon.

“Kita literally fine-fine aja kok. So, please jangan ada lagi ya yang mengadu my statement and Kang Emil di media which is no maksud untuk saling serang. Gimana kang @ridwankamil, bahasanya udah cukup Jaksel belum?” tulis Sandiaga yang diakhiri dengan emoji tertawa di akun Instagram.

Dalam dunia linguistik, ‘Anak-anak Jaksel’ ini bisa saja sedang mengamalkan istilah alih kode (code-switching), dimana seseorang yang menuturkan satu bahasa dicampur dengan unsur bahasa lain. Alih kode ini disebabkan adanya kontak bahasa dan kontak budaya yang berbeda.

Lazimnya, alih kode digunakan jika si penutur tidak dapat menemukan kata yang sepadan dalam satu bahasa, sehingga memaksa si penutur menggunakan bahasa lain. Yang menjadi pertanyaan, kenapa gaya bicara ‘Anak Jaksel’ menjadi hype? Apa karena yang digunakan adalah bahasa Inggris?

Jauh sebelum ini, mungkin kita sering melihat orang lain mencampur bahasa daerah dengan bahasa Indonesia. Dan, itu terlihat biasa saja. Apa mungkin apresiasi kita terhadap bahasa Inggris lebih tinggi dibandingkan bahasa lainnya?

Harus diakui bahasa Inggris menjadi bahasa internasional. Secara prestisius lebih mendunia, karena dipakai oleh masyarakat global. Lantas, terbesit pertanyaan, kenapa harus bahasa Inggris? Jika menilik ke belakang, tersebarnya bahasa Inggris ada kaitannya dengan pengaruh politik dan imperialisme Inggris di dunia.

Pertama, kolonialisasi Inggris. Pasca era revolusi industri, Kerajaan Inggris menjadi negara dengan teknologi dan militer yang paling maju. Keadaan ini menjadikan Inggris memiliki jumlah wilayah jajahan terluas dan membuat bahasanya paling banyak digunakan di dunia.

Baca juga: Orang yang Berbahasa Gado-gado Itu Kebarat-baratan, Benarkah?

Faktor lainnya, pada awal abad ke-20, negara berbahasa Inggris seperti Amerika Serikat muncul sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Kekuatan ekonomi Amerika yang merangsek dunia memaksa warga dunia untuk menggunakan dolar AS dan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Ketika berbicara Jakarta, kalian bisa bertemu orang dengan latar daerah berbeda ataupun bangsa yang berbeda. Sebab, Jakarta adalah melting pot. Dengan begitu, masyarakat di sana lebih heterogen dan bakal memunculkan orang-orang multilingual.

Multilingual adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk menguasai lebih dari dua bahasa. Fenomena munculnya orang-orang multilingual disebabkan oleh pengaruh globalisasi dan keterbukaan budaya.

Sebenarnya tanpa disadari, kita sebagai masyarakat Indonesia dilahirkan sebagai masyarakat bilingual, yakni kemampuan untuk menguasai dua bahasa. Tentu masih ingat di benak kita, dalam lingkungan keluarga, kita diajarkan terlebih dahulu ‘bahasa ibu’ atau bahasa daerah asal kita.

Kemudian, di sekolah, kita diajarkan bahasa Indonesia. Dan, kini bahasa Inggris telah menjadi mata pelajaran wajib. Tak jarang, kita mengikuti les bahasa Inggris. Maka, tak heran jika generasi sekarang lahir sebagai masyarakat multilingual.

Ditambah merebaknya perusahaan-perusahaan asing di Jakarta memaksa warga Jakarta untuk bisa menggunakan bahasa Inggris dalam kesehariannya. Dengan lancar berbahasa Inggris, seseorang mempunyai kesempatan untuk bekerja di perusahaan asing yang katanya bergaji tinggi.

Dengan gaji yang tinggi, tentu memuluskan jalan bagi seseorang yang ingin panjat status sosial. Tanpa bergaji tinggi pun, ketika seseorang bertutur kata dengan bahasa Inggris akan terlihat status sosialnya lebih tinggi. Gitu kan?

Ya meskipun kita tak pernah tahu apa dia benar-benar mengerti atau tidak. At least ngomong dulu. Asiikk..

Menurut pakar sastra, Harimurti Kridalaksana, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.

Artikel populer: Menjawab Keluhan Orang Asing tentang Bahasa Indonesia

Pada perkembangan bahasa Inggris tidak hanya menjadi identitas suatu bangsa. Pengaruh bintang-bintang dunia yang memakai bahasa Inggris mampu menciptakan bahasa Inggris menjadi satu identitas bagi kaum milenial: hype.

Dengan menggunakan bahasa Inggris, berarti kita dianggap sebagai masyarakat dunia. Sebab, bahasa menjadi satu identitas suatu masyarakat. Masyarakat Indonesia tentu mereka yang bisa menggunakan bahasa Indonesia.

Mungkin inilah, alasan kenapa artis luar negeri yang melakukan konser di Indonesia selalu menyelipkan bahasa Indonesia di sela wawancara. Mereka ingin lebih diterima lebih baik oleh kita dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Buktinya, banyak yang bersorak gembira, jika ada bangsa asing ngomong bahasa Indonesia.

Dulu, ada dua orang pakar linguistik yang membuat sebuah hipotesis mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Mereka adalah Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf. Mereka menyatakan bahwa bahasa mempengaruhi kebudayaan.

Atau, dengan kata lain, bahasa itu mempengaruhi cara berpikir dan bertindak anggota masyarakat penuturnya. Apa yang dilakukan manusia selalu dipengaruhi oleh sifat-sifat bahasanya.

Sebagai contoh, masyarakat kita mengenal istilah ‘jam karet’. Istilah itu muncul, karena kita cenderung mengabaikan waktu. Berbeda dengan masyarakat Eropa yang tidak mengenal istilah tersebut, karena mereka lebih menghargai waktu.

Jika kita memakai hipotesis Sapir dan Whorf, bisa dikatakan ‘Anak Jaksel’ dengan gaya bahasanya sedang menciptakan suatu kebudayaan. Kebudayaan hype. Dengan memakai bahasa Inggris, telah membentuk si penutur menjadi terlihat lebih gaul dan nge-hits.

Gaya bicara yang mencampur bahasa Indonesia dan Inggris bahkan mampu mengilhami seseorang untuk membuat pemetaan Jakarta berdasarkan tingkat sosialnya, hanya dengan mengamati cara berbicara. Meskipun literally bahasa tidak terbatas oleh batas administrasi. Namun, unsur politisasi mampu memberikan batas-batas yang jelas.

Jadi, dengan memakai bahasa Indonesia yang dicampur bahasa Inggris sepotong-sepotong, maka Anda bisa saja diklaim sebagai ‘Anak Jaksel’, yang kalo mau hangout with temen, prefer mainnya around Jaksel which is lebih nge-hits.

Gimana, udah pantes masuk klub ‘Anak Jaksel’, belum?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.