Kalian yang Sesat, Anak-anak yang Menanggung Akibat

Kalian yang Sesat, Anak-anak yang Menanggung Akibat

Ilustrasi (SHTTEFAN via Unsplash)

“Saya tidak ingat berapa orang yang saya bunuh ketika umur 10 tahun.”

Kalimat itu keluar dari mulut Ronald dengan tatapan penuh sesal. Ronald adalah mantan panglima perang khusus anak kecil dalam konflik ‘lintas agama’ pada akhir 90-an di Maluku. Pasukan Agas, begitu sebutan untuk kelompok anak kecil yang ikut bertikai.

Sama seperti Ronald, Iskandar Slamet pun terlibat konflik ketika usianya masih belia. Bedanya, Iskandar berada di seberang kelompok Ronald. Dalam artian, pada beberapa tahun lalu, dua orang ini memimpin pasukan yang saling mengincar darah satu sama lain.

Kisah Ronald dan Iskandar terekam dalam liputan BBC tentang upaya rekonsiliasi. Namun, kisah Ronald dan Iskandar sejujurnya bukan cerita konflik antar pemeluk agama, melainkan tentang tercerabutnya keceriaan masa kecil oleh kekacauan yang diciptakan orang dewasa.

Sebab konflik hanyalah milik orang dewasa, yang kemudian menyeret anak-anak mereka untuk turut serta dalam mengafirmasi kebejatan tanpa sedikitpun punya kesempatan bertanya. Kepolosan anak-anak diisi oleh segala keegoisan orang dewasa.

Memangnya apa yang diinginkan dari hidup yang dibayang-bayangi korban masa kecil? Apa pula yang diinginkan dari kehidupan masa kecil saat permainan mobil-mobilan atau boneka putri nan cantik diganti dengan parang berlumur darah atau pistol rakitan yang siap meledakkan kepala orang lain?

Kisah Ronald dan Iskandar seolah muncul lagi saat terjadi ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo. Peristiwa itu sama-sama menyeret anak kecil dalam parade kebencian.

Senyum polos Pamela Riskita (12) dan Fadhila Sari (9) dalam foto keluarga begitu mengiris hati. Tak ada alasan untuk tidak menyebut kedua anak itu sebagai korban.

Saya membayangkan keduanya bangun tidur pada Minggu pagi dengan senyum ceria, mengira akan diajak jalan-jalan bersama keluarga, kemudian pulangnya dibelikan es krim seperti yang tergambar di laman Facebook si ibu beberapa tahun lalu.

Tapi, nyatanya, senyum itu kemudian hancur bersamaan dengan tubuh mereka di halaman sebuah gereja.

Tak pernahkah si ibu bertanya kepada Pamela dan Fadhila, apakah anak-anaknya itu merindukan Ramadan dengan segala keasyikannya? Bermain di sore hari menunggu buka puasa, berlarian di halaman masjid ketika orang tua sedang tarawih, dan kegembiraan saat Idul Fitri kala mereka mengenakan pakaian paling cantik?

Rasanya malaikat pun akan tersenyum melihat setiap anak bergembira di Hari Raya, dan bersedih menyaksikan kegembiraan itu dirampas oleh orang dewasa yang merasa paling tahu tentang dunia.

Begitupun dengan Nathanael (8) dan Evan (12), korban ledakan bom di sebuah gereja di Surabaya. Bisa jadi malam sebelum pagi yang nahas itu, mereka berjanji tidur lebih cepat agar besoknya bisa bangun pagi.

Kemudian, mereka menyempatkan diri menonton serial kartun, lalu berangkat ke gereja dengan ceria, bertemu dengan teman-teman, saling memberitahu tentang kemampuannya dalam permainan ini-itu.

Namun, rupanya, Nathanael dan Evan, serta Pamela dan Fadhila akan bertemu di Nirwana, bermain bersama para malaikat, berlarian dengan tawa mengembang, bergelayut di kaki Tuhan mengadukan kelakuan kita kepada mereka. Tapi tanpa bertanya antar satu sama lain tentang apa yang terjadi di bawah sana. Sebab yang begitu hanyalah milik orang dewasa.

***

Balik lagi ke kisah Ronald dan Iskandar.

Pengalaman mereka adalah pengalaman sebagian anak Maluku yang melewati masa kerusuhan. Bagi saya, kerusuhan yang terjadi nyaris dua dekade silam itu adalah cerita paling pahit. Bagaimana tidak, saya masih begitu ingat ketika hidup dalam kewaspadaan tinggi setiap siang dan malam.

Saat menjelang Maghrib, deru sepeda motor melintas di depan rumah menuju pantai yang hanya sepelemparan batu dari rumah. Di atas kendaraan itu, orang-orang berseragam serba putih dengan berbagai senjata tergantung di pundak mereka. Tentu itu adalah pemandangan yang mengerikan bagi seorang bocah.

Sekolah diliburkan, dan sepanjang hari kami bermain di sekeliling posko jaga di mana para orang dewasa tengah mengasah pedang atau meraut panah.

Seorang tetangga yang begitu pandai melucu pergi berperang tanpa pernah pulang. Beberapa teman menghilang, ada yang bersama orang tuanya mesti menjauh ke luar kota. Amarah merangsek ke mana-mana, tak terkecuali pada kepala setiap anak.

Tak ada yang namanya akhir dalam semesta kebencian. Sebab yang kekal hanyalah ego dan kebencian itu sendiri. Satu-satunya cara adalah membakarnya, sebagaimana yang dilakukan Iskandar.

Di manapun kekerasan terjadi, entah itu di Suriah, di pedalaman Afrika, di Maluku, atau di Surabaya, pada akhirnya yang mesti menanggung sengsara adalah anak-anak.

Sudah betul karakter yang diciptakan untuk tokoh kartun bernama Peter Pan. Ia adalah peri kecil yang menolak dewasa. Baginya, orang dewasa selalu pongah dengan monopolinya atas dunia, bahwa seolah hanya mereka yang paling mengerti.

Dengan begitu, Peter Pan seakan menyatakan, jika orang dewasa kerap menyebut anak kecil tak tahu tentang dunia, sebaliknya mereka juga tak mengerti dunia anak-anak.

Selamat jalan Nathanael, Evan, Fadhila, dan Pamela… Bermainlah sepuasnya di surga!