Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Anak-anak Jadi Nggak Kritis, Orang Tua Memang Lebih Menyukai Itu

Ilustrasi (Cocoparisienne via Pixabay)

“Saya Greta Thunberg. Usia saya 15 tahun. Saya berasal dari Swedia. Saya berbicara atas nama keadilan iklim sekarang.”

Saya cuma bisa melongo melihat Greta Thunberg berpidato dengan begitu berani menyerang para pemimpin dunia yang hadir karena tidak becus mengurusi permasalahan pemanasan global dalam KTT Perubahan Iklim di Katowice, Polandia.

Malam itu saya sudah ngantuk, tetapi bela-belain browsing untuk tahu lebih banyak soal Greta. Beberapa menit kemudian, saya merasa menjadi butiran debu dunia saat tahu bahwa sejak Agustus 2018, gadis cilik berkepang dua itu memutuskan mogok bersekolah setiap hari Jumat. Tujuannya satu: melakukan aksi protes di depan gedung parlemen Swedia.

Aksinya itu kemudian diikuti lebih dari 20.000 siswa di seluruh dunia, memprotes lambatnya ‘orang dewasa’ – mungkin termasuk saya, kamu, kita semua – dalam menghadapi bahaya perubahan iklim dan kerusakan lingkungan akibat gas emisi rumah kaca bagi masa depan anak-anak.

Orang-orang menyuruhnya kembali bersekolah, tetapi Greta yang kukuh pada pendiriannya menganggap sekolah mungkin tidak ada gunanya lagi, apabila di masa depan bumi menjadi semakin tidak ramah untuk ditinggali. Terlebih Donald Trump banyak pemimpin dunia mengabaikan sains dan penelitian ilmuwan, menganggap isu pemanasan global hanyalah hoaks.

Masya Allah… Betapa inginnya ngeshare berita soal Greta ini dengan kepsyen ajakan doa bersama, tak lupa menyertakan ‘imbauan’ kepada warganet untuk likes dan comment “Amiiin” dengan iming-iming penghapusan dosa tujuh turunan supaya aksinya jadi viral.

Baca juga: Remaja di Amerika Kritis-kritis, Indonesia kok Tidak?

Kalau diingat-ingat, saya waktu usia 15 tahun itu ya masih cinta-cintaan monyet sama senior kelas sebelah yang tiap hari datang paling pagi dan seringnya nongkrong di halaman depan kelas. Pemanasan global? Makhluk apakah itu?

Beberapa bulan sebelumnya, perasaan bagai-butiran-debu-dunia ini juga pernah saya rasakan ketika membaca berita soal Harper Nielsen. Ia bahkan baru berusia 9 tahun ketika memutuskan untuk tidak berdiri dan menyanyikan lagu nasional Australia, Advance Australia Fair, di sekolahnya di Brisbane, Queensland.

Harper berpendapat lirik lagu itu, terutama bagian “Australians all let us rejoice, for we are young and free” menampik sejarah keberadaan suku Aborigin yang telah mendiami daratan Australia sejak puluhan ribu tahun yang lalu.

Bukan hanya itu, Harper juga menyatakan bahwa konteks pembuatan lagu tersebut merujuk pada ‘kemajuan yang ditujukan bagi orang kulit putih’, sehingga mengesampingkan penduduk kulit berwarna.

Gara-gara keputusannya itu, ia kena detensi selama jam makan siang beserta kecaman dari Pauline Hanson, senator dari partai sayap kanan, yang menuntut agar Harper dikeluarkan dari sekolah. Politikus ini juga menuding Harper sebagai anak yang telah dicuci otaknya.

Seketika, saya juga teringat Malala Yousafzai. Ia pun berusia 15 tahun, sama seperti Greta, waktu kepalanya ditembak oleh tentara Taliban gara-gara berani bersuara atas situasi yang buruk di bawah pendudukan Taliban. Ancaman atas nyawanya tidak membuat ia kemudian hilang dan meredup.

Baca juga: Pemikiran Pram yang ‘Jleb’ Banget untuk Anak Muda Kekinian

Begitu sembuh, Malala mendirikan Malala Fund, organisasi non-profit yang bergerak di bidang pendidikan bagi perempuan di banyak negara. Meski sudah berguna bagi banyak orang hingga mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian, Malala masih saja dituding sebagai bocah yang jadi korban konspirasi Barat.

Hadeeeehhhhhh!

Ini bukannya mau menggeneralisasi, tetapi sadar nggak sih, kalau kebanyakan orang tua sering banget menuntut ‘kepatuhan’ dari anak-anak?

Orang tua merasa jadi orang yang paling paham berbagai hal, sehingga apapun pilihan mereka termasuk soal jurusan kuliah ataupun jodoh sudah tentu pilihan yang terbaik. Apapun pendapat mereka sudah tentu pendapat yang paling benar.

Sejak kecil, kita diajari untuk ‘mendengarkan’ yang lebih tua, entah itu orang tua kandung atau bukan. Ada anak-anak yang memberontak, skeptis, kritis, dan sering mempertanyakan banyak hal terhadap sesuatu? Tenang, banyak stok mitos tentang anak durhaka yang bisa dipakai untuk kembali ‘menempatkan’ anak dalam posisi yang lebih rendah dari orang tua atau dewasa.

Waktu SMA, seorang sahabat – sebut saja namanya Rista – pernah membuat esai yang mengkritik kualitas mengajar guru-guru di sekolah kami yang tidak kompeten. Ketika itu, banyak guru yang sering tidak masuk, sehingga kami ketinggalan pelajaran.

Baca juga: Pikiran Ngawur seputar Rok Makin di Atas, Prestasi Makin di Bawah

Kemudian, tulisannya itu ditempel di majalah dinding. Seorang guru yang ironisnya mengajar PPKN – sekarang nama mata pelajarannya apa ya? – tersinggung atas tulisan itu, kemudian mencabutnya dari mading dan terus-menerus menyindir Rista di kelas maupun di hadapan guru-guru lain.

Ia menuding Rista tidak tahu apa-apa soal proses pendidikan formal. Padahal, saat menulis esainya itu, Rista berkonsultasi dengan tantenya yang juga seorang guru.

Sekolah telah menjadi salah satu institusi yang melanggengkan budaya ‘kepatuhan’ dan nunut. Narasi-narasi itu akhirnya melahirkan individu-individu yang apatis, cari aman, hingga takut berpendapat. Terlebih, jika berhadapan dengan institusi yang lebih berkuasa.

Patuh dan hormat terhadap orang yang lebih tua bukan hal yang sepenuhnya salah. Tetapi mbok ya diingat, anak-anak juga berhak untuk dihormati dan dihargai.

Jangan hanya karena mereka masih muda dan dianggap tidak punya banyak pengalaman, suara dan pendapat mereka bisa diabaikan begitu saja.

Hanya karena mereka berani berpendapat dan bersikukuh tidak menjadikan mereka anak kurang ajar yang sudah dicuci otaknya.

Artikel populer: Kebelet Nikah Muda, Buat Apa?

Jargon-jargon semacam “anak-anak adalah generasi penerus bangsa” atau “di tangan anak-anaklah masa depan dunia berada” menjadi basi, kalau orang dewasa yang bertugas membimbing anak-anak justru menjadikan mereka semacam ‘ayam broiler’.

Itu lho, ayam yang selama hidupnya hanya mematuk-matuk makanan. Banyak orang tua yang lebih menyukai karakter seperti itu – anak yang hanya manut-manut saja.

Dalam satu kesempatan wawancara dengan Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba itu merasa bangga ketika menghadapi anak-anak Suku Anak Dalam yang ‘berani’ mengutarakan pendapat, bahkan mengkritik Butet sendiri.

Saya pun menyetujui apa yang disampaikan dalam novel Cerita Cinta Enrico bahwa fungsi pendidikan bukan membuat karakter anak jadi seperti ‘ayam broiler’, tetapi seperti ‘ayam kampung’: bebas, punya kenakalan, penuh rasa ingin tahu, dan lincah.

Kita butuh lebih banyak anak-anak yang mampu berpikir mandiri, kritis, dan paham atas harga dirinya sendiri seperti Greta, Harper, dan Malala. Anak-anak semacam ini punya kekuatan tersendiri.

Ketika mereka berani melakukan hal yang dianggap melebihi usianya – dan kita terbuka menerima itu – aksi mereka menjadi hal yang luar biasa hingga mampu meningkatkan kesadaran atas isu semacam pemanasan global dan rasisme pada orang dewasa.

Karena, akui saja, sebagai orang dewasa yang sering menganggap dirinya sebagai orang yang paling tahu, kita justru menjadi kelompok masyarakat yang paling sering menimbulkan kerusakan di dunia ini.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.