Andai Amien Rais Bukan Seorang Politikus

Andai Amien Rais Bukan Seorang Politikus

Amien Rais (istimewa via kumparan)

Badannya sedikit tegap. Hidungnya bangir. Memakai kaos putih dan mengenakan sarung bermotif kotak-kotak. Bukan merah hitam, melainkan biru putih. Dan, peci hitam yang menjadi trademark di kepalanya, bahkan hingga saat ini.

Itulah pertama kali saya melihat Pak Amien Rais secara langsung. Bersalaman kemudian mencium tangannya. Peristiwa ini terjadi hampir dua puluh tahun yang lalu. Saat itu, usia saya belum genap tujuh tahun.

Tapi, ingatan saya masih jelas. Beliau berdiri di hadapan kami seusai belajar di kelas. Kemudian, kami berbaris dan bersalaman. Beliau adalah pendiri sekolah kami. Sebuah sekolah yang cukup elit di Yogyakarta. Kini, sekolah itu melebarkan sayap ke Jakarta, ibu kota Indonesia.

Selepas pertemuan itu, saya masih sering bertemu dengan beliau dan melakukan ritual serupa. Namun, menjelang Soeharto turun dari tahta kekuasaan, saya jarang menemuinya. Bahkan, hampir tidak pernah.

Belakangan, saat saya kuliah, saya baru sadar bahwa beliau jarang ke sekolah kami karena sedang ikut tenggelam dalam unjuk rasa menurunkan rezim tirani. Rezim yang telah mencengkeram masyarakat Indonesia selama 32 tahun.

Karisma yang luar biasa dan gaya kepemimpinan yang fantastis membuat banyak kaum muda terpikat kepadanya. Beliau seolah oase di tengah busuknya para benalu yang selalu membela kepentingan Orde Baru. Namanya dielu-elukan. Dan, saat itu, saya termasuk salah satu orang yang mengagumi beliau.

Memasuki era reformasi, beliau mendirikan partai yang mana berlambang sama seperti organisasi yang telah digelutinya. Lambang matahari. Bedanya, partainya menggunakan corak biru putih, sedangkan organisasinya hijau putih.

Beliau pun didapuk menjadi ketua partai itu. Paska mendirikan partai, namanya kian melambung. Terlebih, beliau terpilih menjadi ketua MPR, salah satu posisi elit dalam dunia politik dan pemerintahan Indonesia.

Saya pun semakin kagum. Apalagi dengan retorika dan dialektikanya. Mungkin salah satu yang terbaik di Indonesia. Beranjak dari ketua, tampaknya beliau ingin mencapai level manusia yang paripurna dalam perpolitikan Indonesia. Apalagi kalau bukan menjadi presiden.

Tahun 2004 menjadi langkah awal yang dirasa sangat baik untuk mencapai keinginannya. Dengan sistem pemilihan langsung, beliau berharap rakyat akan memilihnya. Terlebih, dengan rekam jejak yang mentereng, pemilu yang saat itu terdiri dari lima pasangan cukup dengan satu putaran.

Tapi, harapan tak sesuai dengan kenyataan. Beliau kalah. Bahkan, untuk menuju dua besar pun, suaranya tak cukup.

Benar bahwa masyarakat Indonesia menyukai dengan warna biru pada saat itu. Namun, yang terpilih adalah partai dengan warna biru yang lain. Partai biru yang akhirnya bisa melaju hingga dua periode berturut-turut dan mengantarkan ketua partai itu menjadi presiden dua kali berturut-turut.

Paska kekalahan itu, beliau masih beredar dalam perpolitikan Indonesia. Terkadang, beliau muncul di televisi atau media cetak. Baik berita positif maupun berita negatif.

Salah satu berita negatifnya ketika beliau menuduh lembaga-lembaga survei justru mengacaukan elektabilitas. Sungguh, berita yang menggelikan. Sebab, saat ini – menjelang pemilu 2019 –, partainya malah ikut menggunakan jasa salah satu lembaga survei.

Terlepas dari politik, saya masih mengaguminya. Kekagumannya adalah beliau dianggap sebagai guru besar ilmu Hubungan Internasional (HI). Spesialisasinya adalah kajian Timur Tengah. Latar belakangnya yang seperti itu, yang membuat saya menjatuhkan pilihan jurusan yang sama dengan beliau.

Saat memasuki masa kuliah pun, saya banyak menjejali otak dengan pemikiran beliau. Salah satunya yang keren adalah beliau menerjemahkan buku dari salah satu cendekiawan muslim terkemuka asal Iran, Ali Syari’ati. Judul bukunya adalah Tugas Cendekiawan Muslim.

Bahkan, beliau pun menerbitkan buku Tauhid Sosial yang sering dianggap orang sebagai magnum opus pemikiran beliau. Tak hanya itu, saya juga mengoleksi tulisan-tulisan beliau yang pernah ada di media cetak hingga akhirnya dibukukan dengan judul Analisis Konflik Timur Tengah.

Namun, perlahan kekaguman saya memudar. Bahkan hampir hilang. Akhir-akhir ini, pernyataannya sungguh menyayat hati masyarakat Indonesia. Mulai dari celoteh Partai Setan vs Partai Allah hingga beliau dianggap berseteru dengan ketua partainya karena partainya mendukung presiden saat ini.

Saya tak tahu. Seharusnya di usia senja, beliau lebih baik menghabiskan waktu dengan keluarga. Atau, agar kegiatannya lebih berfaedah, beliau bisa menanam bunga kamboja atau berternak kecebong. Mumpung kecebong lagi laris, karena promosi gratis setiap hari di media sosial.

Atau, barangkali, karena konflik Timur Tengah yang tak kunjung damai, beliau bisa membuat buku. Mungkin bisa buku tentang perjalanan beliau di Timur Tengah atau analisis konflik. Tentu, itu lebih membahagiakan para pengamat Timur Tengah daripada selalu merongrong politik Indonesia yang makin tak jelas.

Namun, apa daya bagi saya sebagai mantan pengagumnya. Toh, tampaknya beliau masih sayang dengan partainya. Atau, jangan-jangan beliau ingin mencalonkan presiden lagi? Demi mendinginkan perpolitikan nasional dan menjadi poros ketiga?

Entahlah. Saya pun tak tahu. Ambisi apa yang sedang diciptakan. Celoteh apa lagi yang perlu digumamkan. Kalaupun ingin mendinginkan perpolitikan nasional, lebih baik ia berdiam diri saja di rumah.

Itu pun sudah lebih dari cukup. Minum teh kalau perlu. Jangan kopi. Apalagi kopi Starbuc*s. Nanti masuk neraka. Masa?

Ingat ya, bentar lagi Pilkada. Tahun depan juga ada hajatan pemilu. Itu artinya, dalam satu tahun ke depan, masyarakat akan dihadapkan oleh kondisi yang menggerus pikiran dan melelahkan fisik.

Sudahi omonganmu, Pak Tua. Bukankah diam itu emas?

Ingat, ini musim politik, bukan musim untuk menyimpan dendam apalagi menyebarkan kebencian, Pak Amien!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.