Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Ilustrasi (Image by Nino Carè from Pixabay)

“Jutaan orang bahkan tidak menyadari bahwa mereka bisa menghasilkan US$ 1.000 sehari tanpa meninggalkan rumah menjadi sasaran empuk para aktivis cabul.”

Awalnya, teks itu ingin diikutsertakan dalam keramaian warganet membuat meme atau video parodi dari iklan mas-mas Binomo trading yang sedang viral. Sebab melibatkan diri pada tiap perkara kelucuan duniawi adalah kenikmatan haqiqi.

Tapi, karena keterampilan menggambar sama awamnya dengan kemampuan nenek memesan ojek online, maka terpaksa niat mulia itu urung dilaksanakan. Lebih baik menulis, lalu mengirimkannya ke Voxpop, lumayan dapet wang buat beli kuota modal stalking Bude Sumiyati. Eeeh.

Maksud hati ingin stalking, apa daya malah disodori satu unggahan di Facebook oleh penulis muda Erwin Setia. Isi unggahan itu – jika diringkas – kira-kira begini; pengakuan seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual aktivis mahasiswa dan bagaimana organisasi si pelaku mengambil sikap. Sebab itulah muncul kalimat di pembuka tulisan ini.

Baca juga: Cerita-cerita Mahasiswa Papua yang Kuliah di Pulau Jawa

Isu tersebut semakin menguatkan dua tulisan mbak Dea Safira di Voxpop berjudul “Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya” dan “Auto-kepincut dengan Aktivis Mahasiswa? Hey, Tunggu Dulu!”, yang oleh sebagian netizen dianggap bualan semata.

Di kampus, saya memiliki dua adik tingkat – tentu belum cukup pantas untuk disebut mahasiswa tua. Rasanya iri senang sekali melihat polah mereka, kaum yang belum terjajah oleh kenikmatan rebahan di kosan saat jam kuliah, kaum yang masih sedikit kadar mie instan di tubuhnya.

Mereka pun selalu tampak antusias dan kerap bertanya, termasuk soal rekomendasi organisasi apa yang kira-kira cocok bagi mereka. Sebagian datang dengan semangat polos sekaligus kombinasi keinginan untuk terlibat dalam aktivisme, juga segala jenis romantismenya.

Tentu saja, sarannya adalah masuk organisasi yang sejalan dengan nilai-nilai ideal. Itu jawaban yang paling aman, kadar membualnya sangat minim.

Baca juga: Fenomena Kaum Rebahan, Bagaimana Kita Melihatnya?

Rasanya tidak tega untuk berkata, “Beberapa aktivis itu B aja, Bung.” Toh, pada saatnya mereka akan tahu, tak sedikit yang menerapkan prinsip “tangan kiri gagah terkepal, tangan kanan sodok proposal”.

Ini bukanlah agitasi, sebab siapa yang tak senang memiliki kawan-kawan yang berani menyuarakan aspirasi di garis terdepan, pun siapa yang tak bahagia jika mereka memiliki sandaran ruang kolektif yang mencerahkan.

Namun, suka atau tidak, sisi gelap aktivisme itu nyata. Tidak konsisten dengan garis perjuangan. Di atas mimbar, mulut berkoar-koar anti kekerasan seksual. Di bawah, penisnya membual. Di hadapan massa aksi, berorasi tentang keadilan. Eh, tau-taunya… (isi sendirilah).

Laki-laki yang menjadi pelaku kekerasan dalam postingan tadi adalah contoh seorang aktivis yang tidak suci dalam pikiran, perkataan, maupun pergerakan. Bagaimana bisa, ia memperlakukan perempuan sebagai objek seks, samsak, sekaligus ATM berjalan? Kan, biadab.

Mari kita dorong pemerintah untuk membuat sertifikasi untuk aktivis. Hah? Tidak perlu? Oke.

Baca juga: Dari Malala, Emma, Greta, Hingga ‘Egg Boy’: Kenapa Remaja Kita Tak Se-kritis Mereka?

Sikap yang diambil oleh organisasi si pelaku pun semula tak ada bedanya. Menuntut negara untuk segera membuat regulasi yang membawa rasa aman bagi para penyintas kekerasan seksual, itu sangat bagus. Tapi abai terhadap perilaku ‘menyimpang’ seorang anggotanya dengan alasan “itu kan persoalan privat” atau “kita tidak mau mengambil tindakan sebelum ada bukti”, itu juga tidak konsisten, kamerad!

Padahal, selama ini mereka terkesan paling gencar bersuara dan progresif. Kendati terjadi di ruang privat, kekerasan seksual menjadi urusan publik, juga negara. Kecuali, mereka percaya bahwa perkara semacam itu bisa didamaikan secara ‘kekeluargaan’. Enak bener.

Seolah-olah, negara dipersempit peran dan fungsinya dalam urusan penindasan di ruang privat. Mau mengafirmasi konsensus kaum liberal pada zaman itu, kah? Negara – dengan fasilitas perangkat hukum – harusnya bisa menjerat seluruh bentuk ‘kejahatan’, tak peduli ia beredar di kutub mana. Selama ini kita malah salah kaprah. Negara atur-atur kita harus ‘ena-ena’ dengan siapa, masa giliran kita tersakiti malah lepas tanggung jawab, sih?

Artikel populer: ‘Uninstall’ Feminisme atau Tidak? Sebuah Saran

Apa iya, organisasi mahasiswa seprogresif itu nggak pernah ngaji “Bab Feminisme Gelombang Kedua”, terutama bagian The Personal is Political?

Begini kawan, persoalannya bukan lagi pada ‘pembuktian’, tapi kita sudah terlalu keterlaluan dengan pengalaman ketertindasan perempuan. Lha wong, kita tidak pernah mengakomodir itu sebagai satu starting point, sebagaimana gagasan mengenai Feminist legal theory.

Dah ah, mau jajan cilok dulu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.