Alasan Lain Mengapa Orang Operasi Plastik, yang Sinis Belum Tentu Paham

Alasan Lain Mengapa Orang Operasi Plastik, yang Sinis Belum Tentu Paham

Ilustrasi (Engin Akyurt via Pixabay)

Seorang teman pernah berguyon, “Lo itu kubu aplusan atau oplosan?” Tapi, tampaknya, setelah geger kasus Ratna Sarumpaet, pertanyaan itu perlu direvisi sedikit. “Lo itu kubu aplusan, oplosan, atau oplasan?”

Oplasan di sini maksudnya operasi plastik (oplas), suatu tindakan medis untuk merekonstruksi bagian tubuh seseorang. Oplas semestinya dipandang biasa-biasa saja. Namun, gara-gara Bu Ratna dengan hoaksnya, polemik soal oplas kembali mencuat.

Dulu, di era 80-90, orang masih ngumpet-ngumpet kalau mau permak bagian tubuh. Ada rasa malu karena takut jadi bahan tertawaan atau bahkan bisa dihakimi. Dibilang kurang bersyukur lah, buang-buang duit lah, penampilanmu palsu lah, dan lain-lain.

Tapi, lucunya, kalau ada orang yang kebetulan dianggap ‘kurang menarik’ secara fisik – entah dari segi mana, keluarlah ucapan bernada memaklumi sekaligus mengejek, “Oh ya pantes dia oplas. Muka aslinya gitu, sih.”

Terus giliran udah oplas masih dirisak pula. Dibilang, “Percuma cantik/ganteng kalau hasil oplas!” Bahkan, sudah sampai di liang kubur pun, masih ada yang bilang, “Plastik kok ditangisin!”

Itu orang maunya apa, yo? Bisa belajar membedakan mana yang pantas diucapkan, mana yang tidak? Ah, katanya kamu terpelajar?

Sekarang mungkin sudah banyak orang yang berani dan cenderung cuek untuk mengoplas wajahnya. Terlebih, orang tersebut kerja di dunia hiburan yang sangat mengandalkan penampilan, terutama wajah. Kelihatan keriput di ujung mata sama bibir sedikit saja pas nyengir udah dianggap problematik.

Baca juga: Sebelum Kamu Ikut-ikutan Tren 10 Langkah Perawatan Wajah Ala Korea

Sudah jadi rahasia umum kalau di kalangan selebritas, misalnya, terang-terangan mengoplas wajahnya biar tetap mulus, meskipun umur nggak bisa dibohongin. Ya begitulah, standar kecantikan dan ketampanan di industri yang lekat dengan objektifikasi.

Eh tapi, jangan terburu-buru menggeneralisir, sebab ada juga yang melakukan oplas sebagai jalan menuju perbaikan kualitas hidup. Jadi, nggak melulu karena kurang bersyukur seperti penilaian banyak orang.

Berikut ini empat alasan lain mengapa seseorang memutuskan untuk mempermak wajah atau bagian tubuh tertentu:

1. Karena memang merasa itu hak mereka

Sama kayak milih potongan dan warna cat rambut, atau pakaian, ini perkara otonomi tubuh. Pada nggak suka? Ya terserah mereka. Toh, mereka juga nggak minta kalian buat biayain oplas mereka. Habis perkara.

2. Punya cacat yang membuat mereka (dan orang lain) merasa tidak nyaman, serta mengganggu kesehatan dan fungsi sosial mereka.

Oplas menjadi solusi untuk mengatasi masalah yang merupakan bawaan sejak lahir, atau akibat kecelakaan, hingga trauma lainnya. Bayangkan kalau mukamu terkena luka bakar cukup parah hingga mempersulitmu dalam mendapatkan pekerjaan dan hubungan sosial. Ya realistis aja sih.

3. Mengatasi masalah kesehatan

Nah, di sini saya mau ngomong ke para perempuan yang merasa punya payudara besar itu lebih enak. Bikin perempuan lebih seksi dan pede pula. Halah!

Baca juga: Saran untuk Kamu Agar Berhati-hati Memuji Tubuh Seseorang

Padahal, dalam beberapa kasus, ada perempuan yang merasa tidak nyaman berpayudara besar, karena sukses bikin mereka sakit punggung. Salah satu aktris tersohor yang terbuka soal operasi pengecilan payudara adalah Drew Barrymore.

Boleh percaya boleh nggak, aktris Cameron Diaz juga terbuka soal operasi hidung yang pernah dilakukannya. Alasannya? Gara-gara hidungnya pernah patah, lalu sempat kesulitan bernapas akibat lubang hidung yang sempat mengecil.

Banyak sih, yang skeptis dan sinis mendengar berita ini. Tapi, perkara bener atau nggak, toh yang punya hidung juga bukan kita.

4. Korban bullying dan penderita BDD (body-dysmorphic disorder)

Terserah mau menyebut mereka baperan atau nggak. Pada kenyataannya, masyarakat hobi banget berstandar ganda dan seksis, terutama sama perempuan.

Oprah Winfrey dalam acara talkshow-nya pernah mewawancarai seorang perempuan yang merasa mendapatkan suami yang salah. Suami tersebut seringkali menyebutnya buruk rupa, sehingga membuat si istri menjalani oplas pertamanya di bagian hidung.

Sayangnya, perempuan itu malah jadi kecanduan. Dia mengaku telah menjalani oplas hingga 26 kali. Duh, saya aja mau tes darah sebelum donor pakai acara keringet dingin dulu pas lihat jarum.

Selain perempuan itu, Oprah juga menghadirkan dua tamu lain, yaitu dua remaja – menurut saya ganteng dan cantik banget – yang mengidap BDD (body-dysmorphic disorder).

Artikel populer: “Tolong, Saya Hanya Dijadikan Alat Investasi oleh Orang Tua”

Sama seperti perempuan tadi yang menjalani oplas 26 kali, kedua remaja tersebut begitu terobsesi dengan penampilan sempurna. Bahkan, mereka sudah berencana akan oplas begitu sudah mendapatkan pekerjaan dan gaji sendiri.

Dan, sudah tak terhitung pula berapa banyak artis Korea yang menjalani oplas, baik karena keinginan sendiri maupun tuntutan manajemen yang mengurus karier mereka. Kalau dipikir-pikir sedih juga, lho. Tajir sih, tajir. Tapi, rasanya tubuh seperti bukan milik sendiri.

Masyarakat memang paling bersemangat kalau sudah menghakimi orang yang menjalani oplas. Sayangnya, mereka kayak pendukung sejati pelaku body-shaming. Bahkan, korban sering banget dapet cap ‘baperan’ atau ‘cengeng’ hingga diledek, “Yaelah sensian amat, sih?”

Bagi saya, selama masih pakai uang sendiri dan siap dengan risikonya – terutama kalau hasilnya nggak sesuai ekspektasi, termasuk gangguan kesehatan – wis monggo mau oplas.

Lain cerita kalau oplasnya diam-diam pakai duit orang lain, terus hasilnya nggak sesuai harapan pula, muka lebam-lebam, kemudian nyebar hoaks bilang dirinya dianiaya.

Geger satu negara… 🙂

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.