Ilustrasi perempuan (Photo by KayR Studios from Pexels)

Zaman sekarang kita pasti sulit lepas dari gawai. Begitu juga dalam bermedia sosial yang seakan menjadi asupan sehari-hari. Nah, seiring dengan itu, belakangan marak akun-akun yang mengklaim sebagai akun dakwah.

Sebetulnya bagus-bagus saja mem-follow akun tersebut, dengan harapan bisa menambah pengetahuan soal agama. Tapi, kita juga harus waspada, terutama terhadap akun-akun yang hobi banget mengobjektifikasi perempuan. Alih-alih kasih edukasi soal agama, eh malah suka merendahkan harkat perempuan.

Akutu nggak bisa diginiin!

Semula, postingan-nya memberikan informasi dan nasihat yang bermanfaat. Tapi ujung-ujungnya cenderung mengobjektifikasi dan suka julid ke perempuan yang tidak sepaham dengan mereka.

Semisal, postingan yang bertuliskan ciri-ciri perempuan yang nikah-able. Menurut mereka, ciri-cirinya kuat angkat galon, bisa ganti gas elpiji, nggak takut sama cipratan minyak goreng panas, rajin beres-beres rumah, rajin bangun pagi, bisa bedain nama bumbu dapur, tampil biasa di depan umum, tapi tampil luar biasa di depan imam.

Itu ciri-ciri perempuan nikah-able atau iklan lowongan kerja ART?

Baca juga: Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Postingan semacam itu secara langsung melanggengkan budaya patriarki, turut menguatkan konstruksi masyarakat terhadap perempuan yang harus begini dan begitu. Lagi pula, urusan begituan seharusnya tidak dibebankan berdasarkan jenis kelamin. Kalau lelaki bisa beres-beres rumah dan jago masak pun nggak masalah. Perempuan nggak bisa ganti gas elpiji dan nggak kuat angkat galon juga bukan sebuah problematika.

Bukankah rumah tangga itu hidup saling bahu-membahu dan berbagi peran? Yang pikirannya nikah cuma untuk ‘mantap-mantap’, mana paham?

Terus, ada lagi nih yang bikin sebal. Postingan yang menjadikan perempuan layaknya benda. Klaim mereka bahwa perempuan harus mampu menjaga kehormatan sampai menikah kelak. Berbagai macam benda disamakan dengan kehormatan perempuan, mulai dari piring kaca, emas, berlian, permen, hingga buah.

Duh, akutu ingin berkata kasar! Masa kehormatan dipandang sesempit itu?! Btw, laki-laki nggak pernah tuh ditanyain soal kehormatannya. Kehormatan itu tentang bagaimana kita menghormati, menghargai, atau memuliakan seseorang. Bagaimana bisa menuntut kehormatan kalau suka merendahkan?

Baca juga: Soal Traktiran saat Kencan dengan Feminis Hingga Angkat Barang yang Berat-berat

Beberapa postingan tadi selain melanggengkan status quo dan mengerdilkan perempuan, secara tidak langsung juga menutup mata terhadap perempuan yang menjadi korban pemerkosaan. Kalau memang belum bisa berbuat banyak, minimal kita bisa berempati terhadap korban yang telah mengalami kekerasan dan trauma mendalam.

Lalu, soal pilihan pakaian dan bagaimana perempuan bersikap. Ya boleh-boleh saja berkampanye agar perempuan menutup aurat dan berpakaian sesuai syariat. Namun, apa perlu membawa-bawa label perempuan baik-baik dan salihah? Lalu, julid kepada perempuan lain yang pakaiannya berbeda? Menyematkan stigma sekenanya?

Bahkan, terhadap perempuan yang sudah menutup aurat pun, masih saja mengatur-atur. Termasuk, bagaimana perempuan diharuskan menjaga ucapan agar senantiasa santun, anggun, lembut, penurut, dan sebagainya. Padahal, pelabelan itu bikin perempuan bungkam ketika ditindas, diam ketika mengalami kekerasan.

Nggak gitu..

Kemudian, ada pula yang sampai saat ini bikin garuk-garuk kepala. Beberapa postingan cenderung menyempitkan ruang gerak dan ekspresi perempuan. Semisal, larangan bagi perempuan untuk kode-kodean dengan orang yang dia suka. Mereka bilang perempuan seharusnya punya rasa malu.

Baca juga: Laki-laki Nggak Usah Gengsi Minta Bantuan Perempuan, Begitu juga Sebaliknya

Selain itu, foto diri di media sosial juga tidak boleh, karena mata lelaki suka jelalatan. Mereka pun mengatakan bahwa laki-laki yang baik tidak akan menyukai perempuan yang demikian.

Hello… Pede banget ya? Siapa bilang perempuan posting fotonya di media sosial hanya untuk mendapatkan perhatian dari laki-laki? Kenapa tidak menganjurkan laki-laki untuk menjaga matanya agar tidak jelalatan? Lagi pula, siapa juga yang mau sama kamu?

Selalu saja ruang gerak perempuan dipersempit. Dalihnya selalu sama, katanya untuk menjaga perempuan. Padahal, perempuan seharusnya juga memiliki kebebasan bergerak dan berekspresi yang sama dengan laki-laki. Dan, mendapat jaminan keamanan dari segala bentuk pelecehan dan diskriminasi.

Sering kali beberapa postingan akun ‘dakwah’ seakan mengharuskan perempuan untuk mau berbetah-betah di rumah. Lagi-lagi, mereka menilai bahwa perempuan baik nan salihah adalah mereka yang suka menetap di rumah. Sementara, perempuan yang suka keluar rumah dianggap tidak mencerminkan perempuan yang baik.

Selalu begitu narasinya, nggak mutu. Skip…

Artikel populer: Bahkan untuk Urusan Libido dan Orgasme Saja, Perempuan juga Diatur-atur

Terakhir, postingan terkait pendidikan perempuan. Mereka mengatakan bahwa perempuan harus berpendidikan dan berwawasan luas. Ini karena perempuan akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Generasi hebat tergantung bagaimana perempuan mendidik anaknya.

Seruan agar perempuan berpendidikan itu bagus. Tapi mengapa ruangnya dipersempit hanya untuk anak-anaknya? Padahal, perempuan dengan segala pengetahuan yang dimiliki mampu memberikan kemaslahatan seluas-luasnya.

Lah, memangnya urusan anak mulai dari merawatnya, mengajarinya, dan membuatnya pintar adalah semata-mata tanggung jawab perempuan? Semestinya urusan mendidik anak adalah tanggung jawab kedua orangtuanya, bukan hanya dibebankan kepada perempuan, dalam hal ini ibu.

Jadi, kehadiran akun-akun dakwah sebetulnya bagus, jika memang menyampaikan tambahan informasi dan edukasi soal agama. Terlebih, di era digital yang serba dinamis, peran media sosial begitu strategis. Namun, kalau cenderung mengobjektifikasi, merendahkan harkat perempuan, ya tinggalkan. Itu toksik.

Untuk perempuan-perempuan di mana pun berada, kalian hebat dengan segala kekurangan dan kelebihan. Sebab akun-akun itu hanya bergosip saja.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini