Aku Memantaskan Diri Bukan untuk Dilamar Kamu

Aku Memantaskan Diri Bukan untuk Dilamar Kamu

Ilustrasi (Photo by Yassine Laaroussi on Unsplash)

Warganet sempat dicengangkan oleh infografis Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tentang stereotip perempuan yang siap dijadikan istri dan laki-laki yang menjadi calon suami idaman.

Bahkan, tipe laki-laki yang jadi kriteria pantas untuk menikah hanya melulu soal kebahagiaan tanpa memusatkan peran lelaki pada tugas domestik dalam rumah tangga.

Selain sangat heteronormatif dan mengabaikan fakta-fakta tentang perempuan yang bekerja sebagai pencari nafkah utama keluarga serta perempuan yang memilih menjadi orangtua tunggal, infografis itu cenderung memusatkan seluruh pencapaian perempuan hanya untuk lelaki saja.

Begitu juga dengan kutipan salah satu aktris papan atas yang bilang bahwa pendidikan itu penting bagi perempuan, karena kelak akan menjadi ibu untuk anak-anaknya. Ini juga pola pikir yang cenderung memusatkan bahwa seolah-olah tujuan hidup perempuan hanya untuk menjadi ibu saja. Padahal, ada perempuan yang memilih untuk tidak beranak.

Baca juga: Berdamai dengan Perempuan yang Tidak Menikah dan Tidak Beranak

Ada pula yang bilang bahwa perempuan berpendidikan tinggi bukan untuk dirinya. Ya, selama beberapa dekade, laki-laki telah diistimewakan oleh masyarakat untuk urusan pendidikan. Namun faktanya, tugas mendidik anak cenderung menjadi kewajiban seorang ibu. Lha, bapaknya ke mana? Padahal, dia dianggap lebih berpendidikan oleh masyarakat. Berpendidikan kok begitu?

Masyarakat seakan sinis bahkan ada yang mengutuk perempuan berpendidikan tinggi dan punya ambisi. Seolah-olah itu sebagai ancaman, padahal semestinya itu pilihan bagi setiap orang. Tetapi, tetap saja, perempuan dianggap egois ketika sekolah tinggi-tinggi dan memilih tidak beranak.

Sementara, laki-laki bisa seenaknya memilih dan mereka tak akan dipertanyakan macam-macam. Lelaki yang tidak menikah dan tak memiliki anak dianggap lumrah. Beda dengan perlakuan terhadap perempuan. Kalau kamu perempuan, coba saja bikin status atau tweet bahwa kamu memilih untuk tidak menikah dan tidak beranak, maka bersiaplah di-bully sejagat linimasa.

Perempuan seolah-olah harus menanggung beban urusan rumah tangga karena dianggap kodrat. Padahal, kodrat nggak ada urusan dengan itu. Apa iya, seseorang yang lahir dengan vagina dan rahim otomatis harus bisa masak dan mengurus rumah tangga? Memangnya fungsi rahim sebagai pengecap rasa makanan, apa? Memangnya vagina bisa buat beres-beres rumah, gitu?

Baca juga: Suami-suami Takut Istri Berpendidikan Lebih Tinggi

Belum lagi banyak artikel yang ditulis oleh lelaki mengkritik riasan perempuan. Isinya menyatakan bahwa perempuan lebih baik tidak merias, karena lelaki lebih suka perempuan apa adanya. Lha, memangnya perempuan beli alas bedak wajah seharga Rp 800 ribu cuma buat mikirin apakah alas bedak mahal ini akan menarik perhatian lelaki?

Jadi kalau perempuan memoles wajahnya, memilih pakaian favoritnya, belajar memasak, ataupun sekolah tinggi-tinggi dan hidup mandiri, itu untuk dirinya sendiri. Bukan semata-mata demi gebetan, pacar, atau suami. Apalagi, hanya untuk memantaskan diri sebelum dilamar nanti.

Syukur-syukur, pendidikannya itu bisa berfaedah untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas. Bukan untuk satu, dua, atau segelintir laki-laki. Tolong, jangan GR dulu!

Lagipula, soal riasan, perempuan nggak butuh pengakuan dari lelaki yang tidak tahu seni merias. Nggak perlu dipuja-puji juga, karena secara tidak langsung akan membenturkan perempuan dengan perempuan lain. Padahal, semua perempuan itu cantik. Betul?

Baca juga: Kenapa sih Harus Rebutan Cowok?

Nah, masalah pengakuan ini sudah menjadi bahaya laten. Selama ribuan tahun, laki-laki menyebabkan perang dan merugikan perempuan hanya untuk mencari pengakuan atas… hhmmm, apa ya? Kejantanan??

Selama itu pula patriarki mampu mendominasi sejarah. Bahkan, itu pun terjadi dalam revolusi kemerdekaan kita, dimana laki-laki menguasai politik, sedangkan perempuan menjadi warga negara kelas dua. Padahal, kita belum merdeka, kalau perempuan tak memiliki ruang yang sama dengan lelaki.

Makanya, tidak heran negara dibilang tertinggal kalau perempuan tidak berdaya. Tidak heran, kelompok Taliban berusaha membunuh Malala Yousafzai, karena ia memperjuangkan pendidikan. Para penjahat perang tidak sudi perempuan berdaya, apalagi berpendidikan tinggi, supaya perempuan bisa dieksploitasi untuk kerja domestik.

Btw, kamu bukan penjahat perang, kan?

Itulah mengapa banyak slogan di luar sana yang masih berupaya untuk mensubordinasi perempuan melalui pesan-pesan yang masif dan terselubung untuk mengembalikan perempuan ke peran domestik belaka.

Saatnya menyadari bahwa perempuan berhak mencari hidup yang lebih baik, karena sudah terlalu lama ditindas. Pergerakan perempuan harus terus digemakan agar perempuan mendapatkan ruang yang selama ini berpusat pada sudut pandang patriarki.

Artikel populer: Balada Perempuan Desa yang Berpendidikan Tinggi

Feminisme adalah gerakan politik yang memperjuangkan kesetaraan dengan mengangkat perempuan yang tertindas dan tidak memiliki akses yang sama. Laki-laki yang paham mengenai ketertindasan ini tentu tahu posisinya dan kapan harus bersuara bersama gerakan kesetaraan.

Pesan-pesan terselubung yang mensubordinasi perempuan sangat berbahaya. Padahal, perempuan lahir di dunia ini bukan sebagai pelengkap, melainkan sebagai manusia yang utuh. Eksistensinya tidak serta-merta untuk laki-laki.

Tentunya tidak ada yang salah mendambakan perempuan untuk bersepakat melahirkan dan mengurus anak secara bersama. Namun, hal ini berbeda jika kamu hanya ingin menitikberatkan tanggung jawab itu kepada perempuan saja.

Alih-alih memberdayakan perempuan untuk mencapai potensinya secara maksimal, pesan-pesan subtil tadi malah bisa bikin perempuan kembali tunduk. Kemudian, memenjarakannya dengan beban dan tanggung jawab yang seharusnya dipikul bersama. Kan, penjajah.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.