Ilustrasi perempuan (Image by StockSnap from Pixabay)

Beberapa dari kita mungkin sudah muak dengan pelaku kekerasan seksual, apalagi pelakunya adalah aktivis gerakan sosial. Belakangan, kasus kekerasan seksual di tubuh gerakan sosial ini terus mencuat. Dari satu kolektif ke kolektif lain. Dari satu NGO ke NGO lain. Dari satu ruang diskusi ke ruang diskusi lainnya.

Terbaru, sebuah lingkar diskusi sastra di Jakarta menyatakan bahwa salah satu anggotanya terbukti melakukan kekerasan seksual. Kasus tersebut, menurut mereka, telah melalui mediasi yang panjang dan pro terhadap korban. Alhasil, pelaku dinonaktifkan selama satu tahun.

Tunggu sebentar…

Dinonaktifkan? Satu tahun? Apa dipikir luka korban bisa hilang dalam satu tahun? Apakah itu waktu yang cukup bagi korban kekerasan seksual untuk rekonsiliasi hidupnya? Tidak.

Lah, katanya berpihak pada korban?

Helloo… Kalau ada pelaku kekerasan seksual dalam gerakan jangan cuma dinonaktifkan, keleus. Dibuang aja, ngotor-ngotorin gerakan atau organisasi aja. Btw, yakin nih mediasinya adil dan pro terhadap korban? Hmmm…

Baca juga: Suka Ngomong Keadilan, tapi Pelaku Kekerasan Seksual Dibela Habis-habisan

Sebelumnya, ada juga kasus kekerasan seksual dimana pelakunya diduga seorang aktivis NGO di Malang. Duh, mana waktu itu saya mau lahiran anak pertama, suasana hati jadi kesal. Bagaimana tidak, saya dan suami kenal dengan orang-orang di NGO tersebut. Mereka adalah kawan kami.

Proses penyelesaian kasus itu juga banyak hambatan, atau dihambat? Anehnya, kolektif studi tempat saya belajar dibawa-bawa. Orang-orang di NGO tadi malah menuduh kami ingin mengacak-acak organisasi mereka. Ada saja yang bilang, “Sesama aktivis jangan saling menjebak.”

Hah?!

Temanmu yang predator, masih saja kamu bela habis-habisan? Ke mana larinya segala macam teori HAM yang kamu teriakkan dengan megaphone setiap hari Kamis?

Tidak ada kawan-kawan di kolektif kami yang ikut menangani kasus itu. Tidak ada pula niat untuk sengaja menyerang NGO tersebut, ngapain? Tapi, ini ada kasus. Bagaimanapun harus diselesaikan secara adil. Bukankah selama ini kita semua mengklaim sebagai gerakan yang berperspektif keadilan?

Baca juga: Alerta, Alerta! Para Aktivis Cabul di Sekeliling Kita

Memang sih, ada saja orang-orang yang berusaha mengaburkan pengalaman kekerasan yang terjadi pada korban. Caranya? Ya itu, dengan menuduh orang lain. Sementara itu, penyintas kerap merasa terintimidasi.

Misoginis total?

Dan itu, terjadi di tubuh gerakan.

Kecewa? Tentu. Terluka? Parah. Apalagi, selama ini mereka adalah aktivis yang dikenal berintegritas. Sekutu dalam gerakan. Tapi kok gitu amat sih? Menghadirkan keadilan bagi perempuan saja sulit sekali. Katanya pejuang keadilan?

Lebih miris lagi, beberapa laki-laki aktivis yang ikut aksi #ReformasiDikorupsi belum lama ini, malah ikutan belain si pelaku kekerasan seksual. Padahal, saat itu, mereka secara lantang mendukung pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (P-KS).

Bahkan, ada aktivis senior yang bilang bahwa aktivis-aktivis baru kebanyakan gaya. Korban hanya dendam, ini upaya menjatuhkan lembaga semata, perkosaan adalah masalah privat, celotehnya.

Owww…. Tunduk hormat saya pada kalian semua wahai aktivis senior! Apa yang dibanggakan menjadi seorang aktivis sih, jika diam melihat kekerasan di sekelilingnya sendiri? Apa gunanya menulis tentang keadilan berlembar-lembar, jika ujung-ujungnya belain pelaku kekerasan seksual sampai segitunya?

Baca juga: Ngaku Anak Kiri, tapi Otak Patriarki

Mohon izin, senior, masih ingat Prof Jamil Salmi kan? Pastilah, senior pasti lebih mengenalnya, apalagi senior selama ini bergulat dalam isu demokrasi. Dalam bukunya berjudul Violence & Democratic Society, Salmi mengkategorikan beberapa bentuk kekerasan. Korupsi, kemiskinan, kebijakan yang tidak tepat sasaran, dan lain-lain.

Sedangkan perkosaan masuk pada kategori kekerasan dalam masyarakat demokrasi. Bukankah konyol, jika perkosaan mendadak menjadi sekadar urusan ranjang di ruang privat karena pelakunya adalah kawan sendiri?

Penindasan itu bukan hanya perampasan tanah. Perampasan harkat dan martabat tubuh perempuan juga penindasan struktural. Mengapa penindasan struktural? Tentu saja karena angka kekerasan ini sangat tinggi, namun didiamkan oleh negara, oleh masyarakat, oleh mereka yang mendaku aktivis.

Setelah beberapa kota menjadi sorotan, ternyata banyak kawan lain mengeluhkan hal yang sama. Baru-baru ini, datang dari kawan-kawan di Sukoharjo. Bahkan, mereka mengumumkan pembubaran diri. Alasannya, bagaimana bisa bersolidaritas bersama melawan penguasa, jika sebagian dari kita masih enggan melawan pemerkosa?

Artikel populer: Jangan Langsung Terpesona dengan Laki-laki Aktivis, Ketahui juga Sisi Gelapnya

Ternyata, gerakan yang semestinya menjadi ruang aman bagi perempuan, ternyata masih menjadikan perempuan sebagai gerbong pelengkap massa aksi semata. Bagaimana kita bisa percaya mereka bersuara saat aksi yang salah satunya menuntut pengesahan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual, jika relasi kuasa saja tak paham?

Nyatanya, banyak individu di gerakan yang masih belum bersih dari misoginisme. Beberapa dari mereka, meski tidak semuanya, akan bersuara lantang menentang kekerasan seksual asal pelakunya bukan kawan sendiri.

Lebih baik kita bubar barisan, lebih baik kita hengkang dari gerakan, karena hidup ini terlalu singkat untuk kita habiskan dengan bergerak bersama pelaku dan pembela kasus kekerasan seksual. Sebab misoginisme memang ada di mana-mana, pelaku kekerasan bisa siapa saja, termasuk mereka yang bicara lantang tentang keadilan di barisan terdepan.

Duh, melawan penguasa saja sudah berat, apalagi ditambah melawan kawan sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini