Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”

Akibat Terlalu Sering Bilang “Maaf, Sekadar Mengingatkan”

Ilustrasi (Ubaidillah via Pixabay)

Awalnya lelucon “maaf, sekadar mengingatkan” memang lucu. Secara komikal menyindir orang-orang yang selalu merasa lebih baik. Orang-orang yang merasa punya otoritas untuk mengkritik, mengingatkan, dan mengoreksi orang lain di media sosial.

Tapi, lelucon yang terus-menerus diulang akan kehilangan kadar kelucuannya. Pada titik ini yang biasanya tertawa akan muak. Mereka yang muak akan marah, dan marah punya sejarah buruk dengan stroke atau darah tinggi.

Intinya kebanyakan baca orang minta maaf karena mengingatkan di media sosial bisa berujung sakit stroke.

Sejak kapan sebenarnya budaya minta maaf seperti itu muncul? Maaf, bukan bermaksud menggurui, tapi kapan sih kita kemudian punya nyali atau hak mengoreksi hidup orang lain? Bukan apa-apa, sebagai sesama umat kita kan harus saling mengingatkan.

Eh bentar, benarkah tradisi bahwa sesama umat harus saling mengingatkan itu benar? Karena yang saya temukan, pretext atau hal yang menjadi basis seseorang merasa punya hak mengoreksi orang lain karena merasa bahwa itu adalah kewajiban.

Mengingatkan dan mengoreksi orang lain yang dianggap berbeda dalam standar moral kita, dianggap kewajiban. Sehingga semakin banyak orang asing yang kita koreksi di media sosial, makin beriman kita sebagai manusia.

Masalahnya adalah seringkali mereka yang merasa punya hak untuk mengoreksi moral atau iman adalah orang asing. Pernah nggak sih kalian, tanpa pretensi apapun, mem-posting hal yang kalian anggap sederhana, untuk senang-senang belaka, kemudian dikoreksi dan diingatkan dengan nada condescending bahwa itu merupakan hal yang buruk?

Baca juga: Tentang Hijrah yang Belakangan Jadi Tren Sosial Anak Muda

Lama-kelamaan kita memaklumi hal ini, bahwa bermedia sosial harus satu paket dengan kesabaran, dengan kesadaran risiko bahwa kita akan selalu ketemu orang yang merasa lebih baik.

Dalam tradisi Islam, merasa lebih baik disebut ‘ujub’. Sikap ini dianggap satu dari tiga hal yang membawa diri pada kehancuran setelah tamak dan menuruti hawa nafsu. Mengapa? Karena ujub akan membuat orang tak memperbaiki diri, karena sudah merasa lebih baik.

Orang yang ujub punya kecenderungan narsistik dan denial. Ia merasa bahwa dirinya jauh lebih baik daripada yang lain, sehingga merasa punya hak untuk mengingatkan, mengoreksi, dan memberi saran agar orang lain bisa menjalani hidup dengan seleranya.

Dalam tradisi Islam, para sahabat Nabi berlomba untuk menjadi yang paling beriman dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang melalui hartanya, ada yang menjaga sholat sunah, ada yang melalui puasa, ada pula yang menyantuni anak yatim. Satu sama lain tidak saling mengklaim paling beriman.

Ini mengapa jika Anda beriman, sebaiknya menjauhi Instagram dan media sosial sejenis. Mengapa? Karena media sosial itu tempatnya riya, kolom komentar tempatnya ujub.

Dulu, saya pernah menulis bahwa saat ini yang menyedihkan dari politik dan media sosial adalah internet tak membuat kita jadi lebih baik. Internet dan media sosial mengeluarkan sisi paling buruk dalam diri kita untuk tampil di ruang publik. Memaki, mengecam, menghina, menyindir, dan pada beberapa kesempatan menyakiti orang yang lain.

Saat Rina Nose melepas jilbab, kita membenci dan menyakiti perasaannya. Sementara, saat Lindswell Kwok mengenakan jilbab, kita memuji seolah ia ahli surga. Tapi siapa sebenarnya yang bisa menilai iman seseorang?

Baca juga: Bacaan sebelum Anda Marah-marah

Saya percaya bahwa di media sosial saat ini, kita kerap salah paham terhadap banyak hal. Alih-alih berusaha memahami, kita kemudian memakai standar moral diri sendiri pada orang lain.

Misalnya mereka yang hijrah, dari nggak kenal agama sampai merasa kenal agama. Orang jenis ini kadang punya bakat menyebalkan, karena merasa sedang memperbaiki diri kemudian ingin tampil paling agamis, meski kadang jatuhnya jadi seperti ‘polisi moral’. Mengkritisi semua yang tak sesuai standar imannya.

Tentu tidak semua orang yang hijrah melakukan itu. Sampai saat ini belum ada data atau riset yang membuktikan bahwa mereka yang sering bilang “maaf, sekadar memberi saran” adalah orang-orang yang hijrah. Tapi, entah mengapa saya menemui banyak orang yang seperti itu.

Ini membuat saya yakin bahwa hal paling susah dari hijrah bukan mengubah perilaku dari yang bathil ke haq, tapi menghindari ujub, menahan riya, dan menjauhi perilaku takabur.

Ungkapan “maaf” semestinya lahir dari perasaan yang tulus, rasa menyesal dan bersalah karena berbuat salah. Tapi dalam konteks hari ini “maaf, hanya sekadar mengingatkan atau memberi saran” merupakan tameng atau hak untuk bersikap sombong.

“Kan saya udah minta maaf, jadi kamu nggak boleh marah kalau saya kasih saran atau diingatkan”, semacam itu. Mereka lupa, jika memang saling mengingatkan adalah ibadah, ia punya derajat berbeda dengan sikap ujub dan riya.

Artikel populer: Berhijrah Bukan Berarti Menjadi Hijaber-hijaber Snob

Ibu saya bilang fungsi ibadah ya pemujaan, sikap taklid dan tunduk pada Tuhan. Jangan sampai menggunakan ibadah dan doa buat nodong orang lain. Dalam hal ini, jika memang mengingatkan sesama umat beragama adalah ibadah, jangan sampai ia digunakan untuk menyudutkan, merendahkan, atau membuat orang lain tak nyaman.

“Hei kamu itu cara hidupnya salah, gini nih yang bener, menurut pemahaman agama saya”, semacam itu. Sudah riya, niatnya salah. Celaka dua kali.

Saya kira ada adab yang lebih sopan daripada mempermalukan seseorang di media sosial melalui kolom komentar. Saya sendiri sering gagal melakukan ini. Seringkali saya merasa paling tahu, paling berilmu, dan paling beragama.

Tapi, saat ada yang saya anggap salah, lantas emosi dan berkata kasar di media sosial, kemudian menyesal. Ini mengapa saya demikian jatuh cinta pada kata-kata Prof Nadirsyah Hosen terhadap wejangan Ibnu Athaillah di Al Hikam yang berbunyi:

“Terkadang Dia membukakan untukmu pintu taat, tapi Dia tidak membukakanmu pintu penerimaan, dan terkadang Dia menetapkan dosa atasmu, kemudian hal itu menjadi sebab sampainya dirimu kepada-Nya.

Menurut Prof Nadir, tafsir kata-kata itu adalah yang sudah taat tidak boleh sombong, karena ketaatan belum bermakna tanpa penerimaan-Nya. Ketaatan adalah kewajiban hamba, sedangkan diterima atau tidaknya amal kita adalah hak prerogatif Allah.

Pada saat yang sama, yang bergumul dengan dosa, jangan pernah putus asa karena setiap tetes air mata penyesalan adalah cara Allah memanggil kita kembali ke jalan-Nya. Boleh jadi perbuatan dosa yang kita lakukan adalah jalan bagi kita menemukan kembali kasih sayang dan ampunan-Nya.

Jadi sekali lagi, maaf, jika tulisan ini membuat Anda tidak nyaman. Sebagai sesama umat beragama, saya hanya ingin mengingatkan.

2 COMMENTS

  1. seandainya anda berada pada posisi mereka yg ingin memberikan saran di sosmed melalui kolom komentar apa yg anda sampaikan dan bagaimana caranya?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.