Kebencian sudah Overdosis, Siapapun Berhak atas Hidupnya

Kebencian sudah Overdosis, Siapapun Berhak atas Hidupnya

Ahok dan Veronica (grid.id)

Sebastian Marroquin adalah seorang arsitek yang hebat di Kolombia. Tapi, ia tak dikenal dunia perihal kemampuannya dalam mendesain rumah yang indah bagi keluarga-keluarga di Kolombia.

Bagi sebagian orang, ia tetap dikenal dengan nama lamanya, Juan Pablo Escobar, anak dari Pablo Escobar – mantan gembong narkoba nomor satu di dunia. Bagi orang-orang itu, Marroquin pantas dinistakan.

“Mereka tahu aku punya bakat sebagai seorang arsitek. Namun, mereka memutuskan untuk memilih orang lain yang tak memiliki hubungan dengan ayahku. Menyedihkan betul, karena aku dihakimi karena masa lalu ayahku dan bukannya apa yang bisa kulakukan,” ujar Marroquin, seperti dilansir Archpaper.

Sebagai akibat dari orang-orang yang tak bisa adil terhadap keluarga Escobar, Marroquin terpaksa harus mati-matian dalam bekerja keras. Meski terus mendapatkan penolakan demi penolakan, ia terus berusaha.

Saat ini, Marroquin telah menciptakan banyak taman dan ruang terbuka hijau di Kolombia dan Argentina.

Yang paling mengesankan adalah bagaimana Marroquin memberikan hunian gratis kepada musuh-musuh ayahnya kala mereka memutuskan untuk bertobat.

Kini, Marroquin bermimpi untuk membangun gedung dan taman, yang akan membuat Kolombia menjadi kian nyaman dihuni sekaligus menghapus stereotip terhadap dirinya. Memang tak mudah, tapi Marroquin berusaha keras untuk itu.

Di belahan dunia yang lain, ada Veronica Tan yang harus bernasib sama dengan Marroquin. Veronica memang bukan anak dari juragan narkoba seperti Escobar. Tapi ia harus merasakan beban yang sama dengan Marroquin.

Veronica yang merupakan istri dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok juga harus menanggung beban yang dirasakan Ahok. Bayangkan saja, saat Ahok dikabarkan menggugat cerai Veronica, orang-orang mencela apa yang dilakukan Ahok dan mengaitkannya dengan Veronica.

Mengatakan bahwa inilah azab sang penista agama dan bla bla bla bla perihal Veronica. Anda bisa tenggelam ke kolom komentar berbagai media untuk mengetahui itu, dan menyadari betapa menyedihkannya berurusan dengan hal seperti itu.

Padahal, kalau kita hendak berpikir, salah apa Veronica – saat berada dalam cobaan terberat dalam hidupnya – masih dikaitkan dengan masalah itu lagi?

Apa karena ia membela suaminya di persidangan – yang jelas sangat manusiawi? Kalau kita berada di posisinya, kita tentu akan melakukan hal serupa.

Apakah sudah menjadi tabiat bangsa ini yang selalu mengaitkan masalah seseorang dengan istri/suaminya, anaknya, keluarganya, sahabatnya, atau siapapun yang dekat dengannya? Apa itu yang dimaksud dengan adil sejak dalam pikiran?

Saya jadi teringat sebuah kutipan dalam artikel yang dipublikasikan oleh The Atlantic. Terkadang, orang-orang merasa perlu menyalahkan orang lain demi membuat dirinya bisa merasa aman. Dengan menciptakan stereotip dan pelabelan terhadap suatu hal, orang bisa merasa memiliki kuasa dan merasa lebih baik.”

Sayangnya, stereotip memang lebih sering tersulut dengan emosi. Pada akhirnya ini membuat kita mengubur akal sehat. Kita jadi buta dan menganggap siapapun yang berhubungan dengan Escobar atau Ahok adalah sosok yang tak benar. Dan, kita tak menerima orang yang berbeda pendapat. Titik.

Ini, jelas salah.

Dengan sikap seperti itu, kita akan terjebak dalam kesombongan. Pada akhirnya, kita membuang waktu untuk menyalahkan si ini karena semata ia dekat dengan si anu. Orang-orang tengik seperti itu kadang merasa dirinya seorang malaikat.

Padahal ya, hanya iblis yang berperilaku seperti itu. Saat Adam dan Hawa membuat iblis terusir karena tak mau tunduk di depan manusia, iblis mencap Adam, Hawa, dan seluruh manusia adalah makhluk yang brengsek.

Dan, bagaimana iblis membuktikan bahwa ia benar? Ia membuat teori di kepalanya sendiri, dan terus berkoar-koar demi meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia utarakan itu benar adanya.

Dengan kondisi seperti itu, saya prihatin. Sebab, kalau begini terus, kita tak hanya membiarkan politik kita menjadi tak sehat, tapi juga mengancam kehidupan bermasyarakat. Pecah belah.

Bayangkan, suatu hari nanti, kalau ada orang yang terjebak dalam kontroversi – entah sengaja atau tidak – ia bisa dimusuhi hingga tujuh turunan. Apa itu yang kita mau? Kalau harta tujuh turunan sih, mau. Lha, kalau kebencian?

Tapi semoga saja saya salah dan kita tak lagi mendiamkan logika keliru seperti tadi. Dan, semoga siapapun bisa menemukan jalan kebahagiaannya masing-masing. Sudah terlalu banyak kebencian di dunia ini, termasuk kepada keluarga Escobar, keluarga Ahok, dan mungkin saja keluarga anda.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN