Begini yang Seharusnya Dilakukan Kubu Jokowi Agar Orang Tidak Golput

Begini yang Seharusnya Dilakukan Kubu Jokowi Agar Orang Tidak Golput

Ilustrasi (Waldryano via Pixabay)

Esai ini saya susun untuk para pendukung Jokowi, mulai dari partai politik, tim sukses, juru kampanye, relawan, hingga rakyat biasa. Pokoknya semua yang akan mencoblos Jokowi.

Ini sekaligus merespons argumentasi yang menilai bahwa keputusan Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai pendampingnya adalah rasional. Karena itu, kelompok minoritas dan kaum progresif seharusnya rasional juga.

Dengan demikian, mencoblos Jokowi dan Ma’ruf Amin sebagai pasangan capres dan cawapres dalam Pilpres 2019 menjadi pilihan yang rasional.

Apa iya begitu?

Saya ingin membantah semua argumentasi tersebut, sekaligus memberi masukan tentang bagaimana seharusnya meyakinkan minoritas dan kaum progresif untuk memilih Jokowi, jika memang ingin rasional.

Pertama, tentang rasionalitas Jokowi dalam memilih Ma’ruf Amin. Kemudian, soal konsep rasionalitas itu sendiri. Sudah lama saya ingin membagikan konsep rasionalitas yang saya pelajari dari kuliah umum Karlina Supelli di Salihara, beberapa waktu lalu.

Diskusi tentang rasionalitas sangat relevan untuk membantu kita menyusun cara pikir yang lebih kritis. Cara berpikir yang tidak terjebak dalam paradoks.

Semua orang paham bahwa keputusan Jokowi memilih Ma’ruf Amin karena mempertimbangkan politik identitas. Sederhana saja, jika kebanyakan pemilih saya peduli dengan identitas Islam, maka saya harus menggandeng tokoh Islam yang dapat menjamin suara agar bisa menang.

Apakah itu rasional? Tentu rasional.

Namun, menuduh golput sebagai pilihan yang irasional, ada baiknya kita berpikir kembali. Pertama-tama, kita perlu mengerti konsep rasionalitas itu sendiri.

Baca juga: Kata Para Ahli tentang Ma’ruf Amin dan Sandiaga Uno

Dalam teori filsafat, menurut Karlina Supelli, terdapat rasionalitas sebagai instrumen (instrumental rationality) dan rasionalitas epistemik (epistemic rationality).

Instrumental rationality adalah saat seseorang melakukan sebuah aksi yang paling rasional untuk mencapai tujuannya. Tujuan yang ingin dicapai tidak harus rasional – bisa saja irasional.

Sementara, epistemic rationality adalah saat seseorang terus menerus mengajukan pertanyaan, meragu-ragukan segala sesuatu, menilik dan memeriksa ulang kepercayaannya sendiri, berani mengubah pikiran, opini, dan kesimpulan sendiri berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan dalam menggali kebenaran.

Hasil dari proses berpikir menggunakan epistemic rationality dapat ditemukan dalam ide-ide tentang kemasyarakatan, demokrasi, kebhinekaan, dan sebagainya.

Artikel populer: Orang Selalu Bicara Papua, Sekarang Saatnya Mendengar

Sampai di sini, kita bisa lihat bahwa keputusan Jokowi memilih Ma’ruf Amin – seorang yang memiliki rekam jejak anti Hak Asasi Manusia (HAM) dan anti minoritas, namun dapat menggaet mayoritas – termasuk instrumental rationality. Keputusan yang rasional, tapi semata untuk mencapai satu tujuan, yaitu kemenangan.

Namun, kita tidak selesai sampai di instrumental rationality saja, bukan? Jika mengaku paling rasional, kita juga harus menggunakan proses berpikir epistemic rationality dan bertanya lebih jauh: Apa yang akan terjadi, jika Jokowi dan Ma’ruf Amin menang?

Lantas, bagaimana kita bisa yakin Ma’ruf Amin tidak akan menggunakan kekuasaannya untuk menyudutkan minoritas? Bagaimana Ma’ruf Amin akan mendorong toleransi di negeri ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab, bukan oleh hipotesis pribadi, melainkan oleh fakta. Bisa berupa rekam jejak dan/atau sesuatu yang dapat dimintai pertanggungjawabannya di kemudian hari seperti pernyataan publik, visi-misi, hingga program kerja.

Itu baru benar-benar rasional.

Jawaban-jawaban tersebut berguna untuk para juru kampanye Jokowi-Ma’ruf Amin agar dapat memposisikan dirinya lebih kuat ketika ingin meyakinkan orang lain untuk mencoblos pasangan tersebut.

Begini…

Meminta seseorang – sebut saja Mino – untuk mencoblos pemimpin dengan rekam jejak yang menyulitkan Mino sama saja meminta Mino untuk menjadi irasional. Orang rasional mana yang mau memilih pemimpin seperti itu?

Dengan demikian, orang yang tidak memilih (golput) adalah orang yang rasional, bukan irasional.

Adapun kunci perolehan suara dari minoritas untuk kubu Jokowi-Ma’ruf Amin sesungguhnya terletak pada minoritas yang irasional. Artinya, seberapa ‘baik’ dan ‘legowo’ mereka untuk memilih orang yang telah menyakiti mereka.

Jika kubu Jokowi-Ma’ruf Amin berpikir bahwa irasionalitas tersebut sulit diandalkan untuk meyakinkan mereka yang golput, yang memutuskan untuk tidak memilih karena alasan rasionalitas, kubu Jokowi-Ma’ruf Amin sebaiknya menggunakan strategi yang rasional saja.

Bagaimana strategi rasional yang bisa meyakinkan minoritas?

Ma’ruf Amin harus mengeluarkan pernyataan publik yang menyangkal rekam jejak konservatifnya selama ini. Contohnya, berkomitmen untuk melindungi kegiatan beribadah, mengkaji ulang SKB tiga menteri, menyatakan kelompok ragam identitas gender dan kelompok rentan lainnya sebagai bagian dari Indonesia, serta berjanji untuk melindungi hak-hak mereka.

Meyakinkan minoritas dan kaum progresif menjadi penting untuk mengurangi poros golput, yang katanya, ehm, diharamkan.

Jika Ma’ruf Amin tidak mau menyatakan itu, silakan tetap mengandalkan sesuatu yang irasional. Silakan terus menggaungkan ajakan untuk ‘berkompromi, harap maklum, atau berkorban demi kepentingan yang lebih besar’.

Itu tentunya tidak buruk-buruk amat, dan bisa saja berhasil. Namun, itu sangat subyektif dan tergantung pada ‘kebesaran hati’ individual.

Jika tidak berhasil, ya jangan salahkan mereka yang golput. Mereka yang tidak bisa legowo karena sudah terlalu lama ditindas. Dan, ingat, ini pilihan yang rasional, terutama bagi kelompok minoritas.

Jadi kesimpulannya bahwa ‘rasionalitas’ Jokowi dalam memilih Ma’ruf Amin adalah kalkulasi yang tidak lengkap. ‘Rasionalitas’ Jokowi memilih Ma’ruf Amin adalah instrumental rationality untuk mencapai gol jangka pendek. Tetap saja bahwa berharap minoritas akan mencoblos adalah irasional.

Kelompok minoritas bisa jadi akan golput, kecuali Ma’ruf Amin bersedia menarik dan menyangkal pandangan konservatifnya secara publik.

Berani nggak?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.