Agar Kamu Nggak Kagetan, Kalau Ada Pernikahan Sederhana atau Super Mewah

Agar Kamu Nggak Kagetan, Kalau Ada Pernikahan Sederhana atau Super Mewah

Suhay Salim (Instagram)

2 Desember 2018 merupakan momen bersejarah. Bukan, bukan karena ada reuni alumni 212, melainkan hari penting bagi para beauty enthusiast pengikut setia Suhay Salim. Mengapa demikian? Penting ini.

Yap, betul sekali, tanggal 2 Desember 2018 adalah hari pernikahan Suhay Salim, beauty vlogger tersohor. Yang semakin menarik diperbincangkan adalah gaya pernikahan Suhay yang begitu nyantai dengan tema “anti ribet”.

Hal itu tentu saja menyedot antusiasme warganet. Apalagi, momentum pernikahan Suhay berdekatan dengan pernikahan ala Crazy Rich Surabayan yang gebyarnya beda-beda tipis dengan pernikahan di film Crazy Rich Asians sendiri.

Respons terhadap keduanya beragam. Ada yang kagum, ada yang iri, ada yang nyinyir, ada juga yang nggak peduli. Saya termasuk dalam barisan yang kagum sekaligus iri terhadap pernikahan Suhay, sekaligus golongan yang nggak peduli dengan pernikahan ala Crazy Rich Surabayan.

Sebagai golongan esensialis yang malas berkutat dengan hal-hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat, memang agak sensi sama printilan acara pernikahan yang seolah harus diada-adakan demi mencapai pernikahan yang ideal sesuai standar sosial.

Baca juga: Utang Nggak Utang Asal Kawin

Ketika Suhay hadir membawa ide baru yang bisa dibilang nekat dengan menikah hanya berpakaian hang out, tanpa gebyar-gebyor, dan falalal filili yang mengikutinya, saya seolah punya panutan baru.

Tak disangka, orang-orang seperti saya ternyata banyak juga jumlahnya. Yah, nggak kalah dengan massa aksi reuni 212 lah. Berapa? Jutaan? Puluhan ribu? Mulaiii…

Alasan kami sebenarnya beragam, tetapi memiliki benang merah yang seragam. Selain karena ribet, kebutuhan setelah menikah jauh lebih banyak dan krusial daripada pestanya. Sayang aja kalau harus terlalu konsumtif dengan menggelar acara pernikahan yang biayanya sampai ratusan juta rupiah untuk durasi 3-5 jam.

Sebab itu, keberanian Suhay Salim mendobrak standar pernikahan yang konsumtif seolah memberi ruang untuk suara-suara sobat missqueen yang ingin efisien dalam menggelar acara kawinan.

Eh, tapi tunggu dulu…

Sebelum muluk-muluk menjunjung tinggi dan memuja sikap Suhay, ada baiknya kita obyektif juga. Sebenarnya apa yang ingin diusung oleh Suhay tidak serta-merta ‘pernikahan yang sederhana’.

Tolong, suara umat jangan terbelah.

Jangan sampai fenomena ini berujung pada oposisi biner yang membandingkan pernikahan mewah dan sederhana layaknya sesuatu yang benar atau salah, hitam atau putih, positif atau negatif.

Baca juga: Sudah Nikah, Kerja, tapi Tinggal di Rumah Mertua

Pada dasarnya, baik pernikahan mewah maupun sederhana, keduanya sama-sama berangkat dari fantasi sang pengantin. Lebih khusus pengantin perempuan. Mengapa? Sebab perempuan muda yang memasuki usia (yang dianjurkan) menikah, lebih sering terpapar wacana pernikahan yang dianggap ideal sesuai standar sosial.

Itulah mengapa perempuan terkesan lebih berfantasi tentang apa dan bagaimana kalau menikah nanti. Mulai dari tema resepsi, gaya pakaian, makanan, hingga souvenir.

Lalu, bagaimana fantasi pernikahan itu terbentuk?

Dalam konsep psikoanalisis, fantasi itu layaknya the scene of desire dalam pikiran kita. Kok bisa sih manusia punya desire atau hasrat? Sebab, seiring bertambahnya usia, manusia berhadapan dengan banyak scene of life, tempat di mana mereka ‘bercermin’ merefleksikan hidupnya.

Kita melihat kehidupan orang lain sebagai sebuah ‘cermin’, kemudian kita anggap hidup orang itu (seharusnya) sama dengan kita. Padahal, jelas berbeda. Dari perbedaan-perbedaan yang ditemui saat ‘bercermin’ itulah manusia seolah merasa dirinya kurang (lack). Kalau sudah merasa kurang, akhirnya manusia berhasrat untuk memenuhi kekurangannya itu.

Apa yang dialami Suhay ketika membangun fantasinya bisa jadi serupa dengan saya dan mungkin kamu, yang merasa kurang efisien ketika harus menghamburkan banyak uang untuk sebuah acara pernikahan. Yang merasa sakralnya pernikahan cukup pada prosesi ijab qobul untuk kemudian syukuran semampunya.

Artikel populer: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Pernikahan tersebut tentu tidak banyak hingar-bingar, tapi bisa jadi tetap bersahaja. Walaupun sikap semacam ini sering dianggap egois, terlalu cuek, dan tidak memikirkan banyak pihak.

Begitu pula sebaliknya. Orang-orang yang menikah dengan pesta yang mewah, bahkan super mewah, kemungkinan besar memiliki rasa kurang mantap apabila pernikahan tidak digelar secara maksimal. Karena itu, kita juga perlu menghargai fantasi pernikahan yang ingin mereka bangun.

Bisa jadi mereka memang mau dan mampu untuk menggelar acara dengan biaya berlebih. Bisa jadi hidup mereka sudah tidak lagi memusingkan biaya hidup setelah acara. Pun, mereka ingin memuliakan tamu undangan dengan sebaik-baiknya.

Yah, meski ada juga dari mereka yang berasal dari kelas menengah, tapi karena ingin ‘naik kelas’, terpaksa ngutang atau mencari donatur, eh sponsor.

Semuanya balik ke preferensi masing-masing. Seperti halnya menghargai keberpihakan politik, pilihan karier, dan keyakinan, maka kita sepertinya juga perlu melatih diri untuk menghargai pilihan konsep pernikahan setiap orang.

Jadi, mau nikah dengan cara sederhana atau melalui perhelatan akbar, berlatihlah untuk tidak terlalu menyanjung, juga tidak terlalu sinis dalam menilai. Doakan saja yang terbaik.

Nah, kalau fantasi pernikahanmu seperti apa, gaes?

2 COMMENTS

  1. Bagaimana jika ada yg berperasaan menghargai tamu undangan? Org datang ke resepsi kn artinya meninggalkan kegiatan pribadi yang mungkin itu menghasilkan uang ato apalah …, pergi ke salon , beli parfum, beli pakaian yg cocok sesuai yg mengundang. Juga untuk pasangan kita dan lain”…
    Itu kn ada nilainya bro .. ga datang juga takut dikata kurang menghargai. Lumrah orang bersosialisasi. Semua percaya diri kok.. , dengan apa adanya, kalau toh dipandang lebih , mungkin dari kita yang kurang jd memangdangnya luar biasa.

  2. Yang aman buat semuanya ; ortu seneng, temen deket ngga ngerasa dilupain, orang-orang sekitar TKP ngga keganggu (boleh lha mereka ngikut makan-makan walau bukan tamu undangan), ngga ada catering yang kebuang percuma, dan ngga ngutang. Makin banyak yang diundang buat syukuran dari missqueen sampe kaya makin seneng, karena makin banyak yang doain (bukan yang ngomongin betapa simpel atau mewahnya). Soal kebutuhan pasca nikah, bisa diusahain. Gimana niat sih. Mau berbagi atau mau jadi trending topic. Kalau bisa dapet dua-duanya ya syukur deh. Ikut seneng dan didoain langgeng

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.