Agar Gajimu Terasa Cukup, Termasuk untuk ‘Cheating Day’

Agar Gajimu Terasa Cukup, Termasuk untuk ‘Cheating Day’

Ilustrasi (Image by Igor Ovsyannykov from Pixabay)

“Berapa, sih, gaji yang cukup untuk hidup di kota besar seperti Jakarta?” Pertanyaan itu sempat ramai di Twitter. Sebenarnya tidak ada jawaban yang pasti untuk pertanyaan tersebut. Sebab, iman gaya hidup bakal mengikuti pendapatan.

Bagi sebagian orang, gaji dua digit per bulan masih terasa kurang karena habis untuk kebutuhan sehari-hari dan hura-hura di akhir pekan. Sementara itu, ada yang bisa menabung hingga 50% atau lebih dari gaji atau pendapatannya, meski gajinya tipis-tipis di atas UMR.

Tentu, tulisan ini tidak bermaksud agar kamu menerima nasib begitu saja, wahai sobat misqueen… Bagaimanapun, manusia selalu ingin lebih baik dengan gaji atau pendapatan yang besar. Namun, ada kalanya kita tidak sering-sering nengok ke atas dan bisa menikmati hidup saat ini.

Lantas, apa solusinya supaya gaji terasa cukup? Sesungguhnya simpel saja, tapi nyatanya tak mudah dilakukan. Kuncinya tata kelola. Meski di luar status kita karyawan, kalau untuk urusan duit sendiri jadilah seorang direktur yang menjaga determinasi dan kedisiplinan keuangan.

Baca juga: Beberapa Profesi yang Ngehits, meski Berpenghasilan Pas-pasan

Determinasi dan kedisiplinan secara tidak langsung ikut membentuk gaya hidup yang tak melulu mengikuti arus. Dengan begitu, kita jadi merasa lebih tenang secara finansial. Jadi, siapa bilang mengelola keuangan itu harus rela menderita? Masih bisa buat cheating day kok, eh?

Lagipula, uang seberapa banyak kalau nirkelola ya habis juga. Yang ada malah merasa kurang melulu, barang pun tak punya. Kamu?? Tapi tenang, berikut ini tips yang terbukti ampuh, sehingga gajimu akan terasa cukup.

Pola pikir “belanja terus sampai mati

Memasang target adalah hal paling dasar dan penting dalam segala proses apapun, termasuk urusan keuangan. Namun, sebelum itu, ada satu mindset yang perlu diubah. Pola pikir “kita belanja terus sampai mati”, kalau kata Efek Rumah Kaca. Yup, selingkung kapitalisme, konsumerisme, dan hedonisme.

Setelah done dengan itu, lanjut menentukan target. Teruntuk kamu yang masih percaya tatanan saving society, ya jangan langsung pasang target tinggi-tinggi, semisal uangnya buat beli rumah atau tanah. Apalagi, selama ini kamu tidak disiplin transfer ke rekening doi menabung.

Baca juga: Gaya Hidup Minimalis yang Maksimalis Lagi Ngetren sebagai Lawan Setimpal Budaya Konsumerisme

Ibarat seorang bocah yang baru bisa mengendarai sepeda tentunya bakal kagok ketika disuruh mengemudikan sepeda motor, meski keduanya sama-sama beroda dua. Intinya, step by step. Asalkan nggak putus nyambung kayak kisah cintamu menabungnya.

Jadi, pasang target yang kira-kira realistis dulu. Misalnya, beli mobil baru atau traveling ke luar negeri, hehehe. Yah, minimal bisa buka usaha atau rutin investasi. Atau, kalau belum menemukan target yang tepat, pasang target tabungan Rp 25 juta per tahun.

Kalau target itu kelak terasa ringan, naikkan. Lumayan kan bisa tambah-tambah biaya nikah. Dikira biaya nikah cukup Rp 5 juta seperti yang diekspos oleh akhitivis dan ukhtivis anti-pacaran, apa?

Tiga kebutuhan paling esensial

Untuk yang satu ini, tidak perlu ketat hingga merinci semua yang akan dibeli selama 30 hari. Terlebih, bagi orang yang nggak suka riweuh. Cukup buat garis besarnya saja kira-kira berapa uang yang harus dikeluarkan untuk tiga kebutuhan paling esensial.

Misalnya, gajimu Rp 5 juta sebulan. Kamu bisa bagi tiga: Rp 1,2 juta untuk kosan – jika perantau, Rp 1,8 juta untuk biaya hidup sehari-hari selama sebulan, dan sisanya ditabung atau investasi. Makan di gerai atau resto favorit cukup satu-dua weekend saja. Mulailah survei tempat makan murah tetapi enak. Percayalah, menemukan tempat seperti itu terasa menyenangkan sekali.

Baca juga: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

Kemudian, filosofi “aku belanja, maka aku ada” walau kartu kredit mendekati limit jangan sampai bikin perut kamu melilit, apalagi sembelit. Belanja yang perlu-perlu saja. Intinya, jangan tunduk pada konsumerisme. Tsahhh…

Dalam kacamata pemikir psikoanalisis, Sigmund Freud, mungkin perilaku semacam itu berada pada tingkat bawah sadar, nyaris seperti hasrat seksual. Belanja-belinji fancy dalam rangka mencari orgasme semata. Setelah orgasme, yang tersisa adalah rasa lemas. Maksudnya, lemas karena tabungan terkuras.

Tabungan harta karun

Memiliki satu rekening dengan jumlah saldo yang besar bakal mempengaruhi psikologis kita soal uang. Kita bisa seenaknya menarik uang, terlebih dengan segala kemudahan sistem perbankan dan aplikasi pembayaran di era revolusi industri 4.0 ini.

Sebab itu, kita perlu membaginya minimal dalam dua rekening. Rekening pertama, isinya uang tabungan. Yang kedua, rekening untuk biaya kebutuhan sehari-hari. Untuk kartu ATM rekening tabungan, tolong dijauhkan dari dompet untuk meminimalisir penyelewengan anggaran. Tapi jangan jauh-jauh, ntar kangen heuheu…

Kartu ATM tersebut bisa disimpan di tempat yang aman, tapi ribet kalau mau dibuka. Anggaplah itu semacam harta karun.

Artikel populer: Mukena Dijual Rp 3,5 Juta kok Anda Julid?

Cheating Day? Lakukan!

Saya pun selalu berpikir, “Untuk apa uang ditabung, kalau tak merasa senang?” Itulah mengapa cheating day terasa penting. Ini wujud selfappreciating dan self-love atas kerja keras selama ini.

Untuk cheating day, bisa menggunakan uang lebih dari pengeluaran sehari-hari. Atau, mengeluarkan uang dari tabungan setelah memenuhi target 25%, 50%, atau 75% dari pendapatan. Kita bisa gunakan uang itu untuk apa saja: belanja, makan, atau traveling ke tempat yang tidak terlalu jauh. Intinya, apapun yang terjadi, jangan sampai lupa caranya bersenang-senang.

Sedekah bukan cuma urusan pahala

Sebenarnya, ada satu cara lagi selain membiasakan diri mengelola keuangan agar gaji berapa pun yang kita terima terasa cukup. Ya, bersedekah secara rutin. Entah itu per hari, minggu, atau bulan.

Bersedekah bukan cuma urusan pahala, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa yang perlu ditengok itu bukan hanya mereka yang berada di atas, melainkan yang berada di bawah. Dari situ, kita bisa mendapatkan hal-hal baik, termasuk terapi mengendalikan nafsu. Nafsu konsumerisme.

Keren kan tips yang terakhir itu? Udah cocok jadi perencana keuangan pendakwah, belum?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.