Apa Masih Perlu Membahas Agama Pelaku Teror?

Apa Masih Perlu Membahas Agama Pelaku Teror?

Ilustrasi (Samuel Zeller via Unsplash)

Rasanya baru kemarin kita masih berselimut duka selepas peristiwa kerusuhan para napi teroris di rutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Mereka tak hanya membuat kerusuhan, namun tak segan-segan membunuh lima orang polisi dengan keji.

Kerusuhan itu terjadi karena akumulasi kekesalan, setidaknya itu menurut mereka. Meski demikian, pemicunya amatlah sepele, yakni jatah makanan yang tersendat. Gara-gara itu mereka sampai membunuh lima orang yang tak bersalah.

Setelah napi teroris itu menyerah, hingga kamudian Kemenkumham memindahkan mereka ke Lapas Nusakambangan, Cilacap, tim pengacara mereka merasa keberatan. Alasannya itu melanggar HAM para napi teroris.

Lha, bagaimana bisa, sehabis menghilangkan hak hidup banyak orang secara sengaja dan keji, terus teriak HAM?

Lalu, tak lama setelah peristiwa di Mako Brimob, kembali terjadi teror susulan. Bom meledak di tiga titik di Surabaya, yang semuanya adalah titik vital bagi para umat Kristiani menjalankan ibadahnya, yaitu gereja.

Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, GKI Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno, Surabaya, menjadi target ledakan para pelaku bom bunuh diri, yang menganggap diri mereka sebagai ‘jihadis’. Hingga kabar terakhir dari kepolisian, sebanyak 13 orang meninggal dunia dan 43 orang terluka.

Di tengah rasa duka yang mendalam, kita kembali dikejutkan oleh satu bom lagi yang meledak di komplek Rusun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur. Selanjutnya, ledakan terjadi di gerbang pintu masuk Polrestabes Surabaya, Jawa Timur.

Jancok kan?!

Masyarakat terang saja meradang. Kecaman kepada pelaku teror, serta ucapan belasungkawa untuk para korban, terus mengalir sepanjang hari. Tak hanya masyarakat kita, dunia pun ikut bersuara menanggapi peristiwa ini. Sri Paus bahkan khusus menyatakan berbelasungkawa atas kejadian ini.

Mungkin kalau boleh pinjem lagunya Koes Plus, inilah sebenar-benarnya Kisah Sedih di Hari Minggu. Atau, Gloomy Sunday-nya Billy Holliday yang benar-benar gloomy. Bendera setengah tiang bahkan tak mampu menggambarkan betapa banyak luka yang ditimbulkan oleh aksi keji ini.

Dan, tentu saja, peristiwa ini menjadi sorotan netizen kita. Mulai dari ngawur-ngawuran berlomba menyebarkan foto-foto korban ledakan bom bunuh diri yang tak etis, ribut sendiri saling hujat, hingga saling serang mengenai agama para pelaku teror ini.

Banyak pula yang merasa perlu meluruskan bahwa para pelaku teror ini tak beragama. Lha, apa masih perlu membahas agama para pelaku teror?

Para pelaku teror ini memiliki agama. Itu jelas terlihat dari identitas mereka, terlepas KTP asli atau palsu. Selain itu, penampilan dan kesehariannya juga konon terlihat ‘saleh’.

Lalu, untuk apa disangkal, dengan menyebut mereka tak memiliki agama? Karena jelas-jelas, mereka melakukan bom bunuh diri dengan alasan yang menurut mereka ‘benar secara agama’.

Tapi, apakah perbuatan mereka sesuai ajaran agama yang sesungguhnya? Oh tidak. Itu juga seharusnya sudah jelas.

Ibaratnya dalam satu karung jeruk, pasti ada satu atau dua buah jeruk yang busuk, bukan? Apa jeruk-jeruk yang busuk itu kemudian dianggap sebagai buah apel, bukan lagi buah jeruk? Nggak tho?

Kenyataan bahwa mereka memiliki agama tak perlu terus diperdebatkan serta disangkal. Bukan apa-apa, itu hanya akan memancing kericuhan baru yang tak perlu.

Ada yang tersinggung, ada pula yang terus menyinggung. Pada akhirnya merasa tertuduh oleh pihak lain. Itu tentu diharapkan oleh para pelaku teror dan simpatisannya!

Kita di sini bicara tentang orang-orang yang tak berakal sehat, tak berempati, nalar serta logikanya mati, apalagi kalau sekadar bicara rasa dan hati. Bukankah perdebatan soal agama para teroris itu sia-sia?

Akhiri polemik itu, bukan tentang apa agamanya, tapi tentang apa yang diperbuat, tentang apa yang dilakukannya.

Membicarakan apa agama mereka tak akan pernah ada titik temu. Itu justru hanya akan menimbulkan friksi-friksi baru yang timbul di tengah masyarakat. Lalu, jika friksi tersebut membesar, apa tidak malah menimbulkan chaos di kemudian hari?

Kita bicara tentang manusia-manusia tak waras yang menganggap dirinya ‘paling benar’. Jika sudah demikian, apa gunanya kita berdebat tentang agama atas mereka? Lebih baik kita berbicara tentang langkah apa yang sebaiknya dilakukan dalam menghadapi mereka.

Mungkin kita perlu berkaca pada gerakan Ta’ayush. Gerakan ini terinspirasi dari cara pandang Martin Buber, seorang filsuf Yahudi. Gerakan Ta’ayush telah bertahun-tahun menjadi jembatan bagi kalangan grassroot masyarakat Israel dan Palestina.

Ta’ayush yang secara harfiah berarti hidup berdampingan ini menjadi pemantik damai antara kedua pihak yang bertikai.

Mereka, para pengikut gerakan Ta’ayush ini menganggap bahwa pertikaian, saling bunuh serta saling serang, takkan memecahkan masalah. Menurut mereka, konflik adalah sesuatu yang tak perlu, karena pada dasarnya mereka masih saudara serumpun, yang semestinya hidup damai berdampingan serta saling tolong menolong.

Sama halnya dengan kita, tak perlulah berkonflik, berdebat tentang agama, atau kesukuan seseorang. Toh, pada dasarnya, orang-orang yang hidup di negara ini masih bersaudara.

Agama bukanlah alasan untuk terpecah belah hingga keadaan semakin susah. Jangan sampai kalimat Jonathan Swift ini menjadi benar adanya. “Kita punya agama yang cukup untuk membuat kita saling membenci, tapi tak cukup untuk membuat kita saling mencintai…”