Adik Nikah Duluan, Kakaknya Beneran Susah Dapet Jodoh?

Adik Nikah Duluan, Kakaknya Beneran Susah Dapet Jodoh?

Ilustrasi (Jeremy Wong via Unsplash)

Dua tahun lalu, tepatnya tiga minggu setelah wisuda, beberapa teman dan emak-emak di kampung tak henti-hentinya melontarkan pertanyaan, “Kamu kapan nikah, kok adiknya duluan?” Lalu, ada juga yang bilang, “Kamu yang selesai wisuda, kok adiknya yang nikah?”

Mereka merasa heran ketika adik saya lebih dulu menikah. Istilahnya ‘dilangkahi’. Padahal, selama ini, menikah muda apalagi masih kuliah, jarang terjadi di kampung kami.

Tapi, tetap saja, urusan kawin-mawin ini selalu menjadi topik terhangat di kalangan masyarakat, yang sukses bikin anak-anak muda jadi galau. Bagaimana tidak, menikah muda disewotin, menikah sebelum dapat kerja dikhawatirin, menikah saat masih kuliah disalahin, menikah tak sekufu disisihin.

Giliran tak kunjung menikah dibawelin. Apalagi sampai dilangkahi, alamat dinyinyirin. Serba salah memang. Kenapa sih seneng banget ngurusin ranah pribadi seseorang?

Di Indonesia khususnya di beberapa adat tertentu, mendahului atau melangkahi kakak menikah adalah suatu pantangan atau pamali. Terlebih, yang dilangkahi adalah kakak perempuan. Kecuali, mau memenuhi syarat-syarat tertentu.

Jika tidak, sang kakak bakal sulit dapat jodoh, sementara si adik bakal mengalami hal-hal buruk, katanya. Tapi, suka atau tidak, sampai sekarang mitos tersebut masih dipercaya, walaupun tidak semua orang meyakini itu.

Pamali melangkahi kakak menikah itu sebetulnya satu dari sekian banyak yang dipercaya masyarakat kita. Ada begitu banyak pamali yang terbiasa kita dengar sejak masa kanak-kanak.

Baca juga: Kenapa sih Apapun Masalahnya, Menikah Solusinya?

Dulu, seringkali orang tua kita bilang, “Jangan keluar rumah kalau sudah maghrib. Nanti dibawa genderuwo.” Aduh mak, atut… Ya sebetulnya sih tujuannya agar anak-anak tidak main di luar saja. Sebab maghrib, bagi yang beragama Islam, adalah waktu untuk istirahat, sholat, mengaji, dan belajar.

Lalu, ada juga pamali tentang duduk di depan pintu. “Jangan duduk di depan pintu, nanti susah dapat jodoh.” By the way, ini kenapa urusannya bawa-bawa jodoh melulu sih? Padahal ya, bilang aja kalau duduk di depan pintu itu menghalangi jalan orang. Kalau kesenggol atau jatuh kan sakit, meski tak sesakit hati ini, aihh…

Dan, masih banyak lagi pamali-pamali lainnya.

“Jangan duduk di bantal, nanti pantatmu bisul.” Bantal tentunya digunakan untuk kepala ketika tidur. Tidak etis saja, jika bantal diduduki.

“Jangan makan ditutup panci.” Tujuannya agar hatimu tidak tertutup untukku. Eh.

Baca juga: Bagaimana Caranya Bisa Bahagia sebelum Menikah?

Balik lagi soal pamali melangkahi kakak menikah. Di Minangkabau, jika adik tidak bisa menunda pernikahan, ada sebuah ritual atau acara yang mesti dilakukan untuk meminta maaf, minta izin, dan memberikan palangkah sapatagak (perlengkapan dari ujung kepala hingga ujung kaki). Tujuannya agar tidak sial. Namun, tidak semuanya memberlakukan adat tersebut.

Saya sebagai perempuan Minang yang mengambil garis keturunan ibu (matrilineal) tidak mempercayai hal itu. Aturan tersebut tidak masuk akal.

Namun, menurut ayah sebagai orang Mandailing, ritualnya mesti dilaksanakan atau setidaknya adik saya memberikan apapun yang saya mau sebagai palangkah. Bukankah itu materialistik sekali?

Lagipula, urusan jodoh kan beda-beda ya. Ada yang datang cepet, ada yang lama. Kalau aturan seperti itu diwajibkan, bisa menimbulkan konflik di dalam keluarga. Masa konflik gara-gara urusan kawin, kan nggak banget.

Konon, selain penangkal kesialan dan bentuk penghormatan, pemberian palangkah bertujuan untuk menyenangkan hati sang kakak. Nah, untuk alasan yang terakhir, masuk akal juga.

Tapi, bagaimana kalau hati sang kakak justru senang melihat adiknya akan menikah, terlebih dengan orang yang bisa membahagiakannya? Nggak perlu ada palangkah, bukan? Kelar urusan.

Artikel populer: Sebab Menikah itu Menyempurnakan Separuh dari Gengsi Sosial

Hingga suatu saat, tepatnya pada akhir 2017, saya pernah menolak lamaran dari seorang laki-laki yang tidak saya kenal. Perihal ini, seorang teman sempat mengejek. Ia bilang, “Wah, jangan-jangan karena kamu menyetujui pernikahan adikmu. Jadi imbasnya ke kamu. Ada orang yang mau, eh kamunya nggak mau. Kamu mau, eh dianya yang nggak mau.”

Helloooo… Masih percaya aja sama mitos? Katanya jodoh, rezeki, serta hidup dan mati berada di tangan Tuhan. Kamu memilih, Tuhan yang menentukan.

Tidak ada aturan bagi seorang kakak mesti kaya dulu sebelum adiknya kaya. Tidak ada aturan untuk seorang kakak mesti meninggal dulu sebelum adiknya meninggal. Dan, tentunya tidak ada aturan bagi seorang kakak mesti menikah dulu sebelum adiknya menikah.

Rencana Sang Pencipta jauh lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Apa yang kamu ketahui, Dia bahkan lebih mengetahui dari itu. Apa-apa yang tidak kamu ketahui, Dialah pemilik kuncinya. Tinggal bagaimana kita berikhtiar, karena tidak ada usaha yang sia-sia.

Lantas, kalau ada orang yang masih bertanya kapan kamu menikah, dibawa selow aja. So, no worries honney. Don’t be sad. Setiap insan akan menempuhnya dalam waktu yang berbeda-beda. It’s only a matter of time. Kamu percaya pemilik cinta, bukan?

Kurangi mitos, perbanyak cinta, eh.

3 COMMENTS

  1. Assalamualaikum Fa, wah makin keren tulisanmu ya. Makin dibaca makin menarik aja. Thanks ya, keep spirit always.

    Ilham Hamdani

  2. Jangankan menikah… Saya (orang jawa) yang baru tunangan saja sudah seperti di ??? 🙄 yahhh… Begitulah. Karena kakak saya belum tunangan apalagi menikah 😔
    Padahala ya, kakak saya aja nggak masalah tuh mau saya tunangan duluan, nikah duluan, tapi omongan tetangga itu lhoooo … Huftttttt.

  3. Dulu waktu adik (cowok lagi) mau nikah duluan, ada yg nyinyir: “Kamu kebalap, dong.” Saya jawab aja: “Emangnya F1?” Kadang suka gak ngerti pikiran orang. Takdir urusan Tuhan kok situ ngatur2?

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.