Ada yang Hilang dalam ‘Buffalo Boys’

Ada yang Hilang dalam ‘Buffalo Boys’

Film Buffalo Boys (Screenplay Films)

Perfilman Indonesia kembali menyajikan genre action, setelah sekian lama aliran ini tidak muncul. Buffalo Boys hadir di tengah maraknya film horor, komedi, dan romantis.

Meski tampak bergaya western, film ini setidaknya menyuguhkan suasana baru. Sebab, selama ini film nasional seolah tak pernah lepas dari sesuatu yang berbau supranatural dan komodifikasi tubuh perempuan.

Sekilas, kalau dilihat dari judulnya, Buffalo Boys kental dengan maskulinitas. Terlebih, dari posternya, ada gambar laki-laki memakai topi ala koboi, serta perempuan dan lambang kerbau. Kemudian, warna dasarnya hitam dan tulisannya merah. Pokoknya ‘garang’.

Tapi yang membuat penasaran adalah penampilan Pevita Pearce dalam film tersebut. Semula, ketika melihat trailer-nya, saya sempat mengambil kesimpulan pendek bahwa peran perempuan dalam film laga Indonesia biasanya hanya sebagai pemanis.

Namun, hal itu terlihat berbeda setelah menonton filmnya. Dalam Buffalo Boys justru muncul seorang perempuan yang sedang menunggang kerbau sambil memanah. Perempuan bercadar itu memiliki sorot mata yang tajam. Cadar digunakan untuk menutupi identitasnya.

Dia berlatih memanah dan tidak ada yang mengira perempuan bercadar itu adalah Pevita Pearce yang sedang memainkan perannya sebagai Kiona. Sontak, adegan itu membuat saya berpikir kembali. Jika yang menunggang kerbau adalah Kiona, mengapa judul film ini dilekatkan dengan kata boys?

Saya pun makin penasaran, bukan hanya pada alur cerita dan setting kolonial, tapi juga setting budaya yang masih sangat lekat dengan budaya patriarki.

Jika ditelisik secara simbol, kerbau merupakan representasi dari kekuatan, ketangguhan, kesetiaan, dan kemakmuran. Kerbau dalam sejarah masyarakat Jawa tak bisa hanya dinilai sebatas hewan, namun memiliki hubungan erat terutama dengan masyarakat agraris.

Kerbau membantu para petani di ladang atau sawahnya. Kerbau ibarat teman atau pendamping petani kala harus berjuang melakukan sistem produksi di lahannya.

Dalam film Buffalo Boys, ternyata kerbau tak hanya digunakan oleh petani dalam kegiatan produksi, tapi juga sebagai sarana perjuangan mendapatkan kemakmuran dengan melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial.

Kerbau dijadikan alternatif bagi para pejuang untuk ditunggangi dalam melancarkan serangan. Kerbau yang berbadan gemuk dan terkenal lamban disandingkan dengan kuda yang biasa digunakan oleh penjajah ketika masuk ke desa-desa untuk melakukan perampasan.

Pada dasarnya, kerbau tidak hanya sebagai transportasi alternatif, melainkan juga simbolisasi dari masyarakat pertanian yang melakukan perlawanan terhadap pemerintahan kolonial.

Pada saat itu, petani dipaksa untuk menanam tanaman komersial dan tidak diperkenankan menanam tanaman subsisten seperti padi. Dengan adanya aturan yang demikian, maka penduduk banyak yang kelaparan dan petani yang menanam padi digantung bahkan dibakar hidup-hidup.

Yang lebih menarik kerbau itu ditunggangi oleh Kiona. Dalam masyarakat Jawa yang kental dengan budaya patriarki, terutama pada era pemerintahan kolonial, ‘wanita berkerbau’ dianggap bertentangan dengan tradisi.

Ketika itu, perempuan ditindas secara bertubi-tubi. Satu sisi, dia harus melawan penjajah, sisi lain melawan budaya patriarki. Perempuan tidak memiliki tempat untuk melakukan gerakan melawan kolonialisme, karena dihambat budaya patriarki yang sudah mendarah daging.

Kiona mendobrak budaya itu dengan berlatih menunggang kerbau sambil memanah. Ia ingin mengusir penjajah dari desa agar masyarakatnya menjadi makmur.

Peran besar Kiona ini menjadi hal yang tabu dalam masyarakat, tak heran dia dianggap sebagai liyan. Kiona seharusnya berperilaku sebagai perempuan Jawa yang feminin, penurut, dan lemah lembut. Terlebih, ia adalah perempuan yang memiliki status sosial yang cukup terpandang, karena anak kepala desa.

Namun, Kiona tetap kukuh untuk menentang pemerintahan kolonial, sekaligus menghendaki runtuhnya budaya patriarki.

Diskursus budaya patriarki ini juga ditampilkan dalam film Buffalo Boys. Ini tampak dari dialog antara Kiona dan Suwo. Suwo mempertanyakan mengapa perempuan cantik seperti Kiona berlatih panah dan menunggang kerbau?

Kiona menjawab pertanyaan Suwo dengan menyindir, “Bukankah seharusnya laki-laki ikut terlibat dalam pengambilan keputusan penting?”

Suwo kemudian tertawa dan menjawab pertanyaan Kiona dengan mengatakan bahwa dia juga merasa terbebani oleh ‘tugasnya sebagai lelaki’ bahwa lelaki harus kuat, tidak boleh menangis, dan tidak boleh manja, serta harus menjadi pelindung.

Dialog itu seolah ingin mendekonstruksi budaya yang ada bahwa pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin bukanlah suatu hal yang terberi, namun dikonstruksi oleh masyarakat.

Selama ini, kita mengenal tugas perempuan hanyalah bersifat domestik dan laki-laki di sektor publik. Perempuan tidak pernah dilibatkan dan dipercaya untuk membuat keputusan yang penting.

Tapi lets see, dialog selanjutnya yang diungkapkan oleh Suwo membuat kita sadar bahwa budaya patriarki tak hanya merugikan perempuan, tapi juga laki-laki. Lelaki pun mengalami siksaan batin, jika tidak bisa memenuhi ‘tugas’-nya dan dianggap gagal sebagai lelaki.

Jadi jelas bahwa gerakan feminis seharusnya bukan melawan lelaki, tapi terhadap budaya patriarki. Tidak hanya perempuan yang memiliki semangat dan gerakan feminis, tapi juga lelaki. Tidak hanya lelaki yang melanggengkan budaya patriarki, tapi juga perempuan.

Sampai pada klimaks film ini, saya masih mengagumi ceritanya yang ingin mendekonstruksi budaya patriarki sekaligus melawan kolonialisme. Namun, pada akhir cerita, saya kecewa karena peran perempuan ‘dihilangkan’.

Perempuan tidak muncul sebagai pahlawan, tapi justru hanya para lelaki. Laki-laki berkerbaulah yang kemudian menyelamatkan hidup perempuan, sehingga nama yang muncul adalah Buffalo Boys.

Di sisi lain, film ini berusaha untuk mendekonstruksi budaya patriarki, namun di sisi lain malah terjebak dalam pelanggengan budaya patriarki.

Ke mana perginya buffalo girl?

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.