Ilustrasi (Photo by Sharon McCutcheon from Pexels)

Drama ajakan memboikot produk tertentu kembali terulang. Setelah roti dan skincare, kini giliran produk salah satu produsen barang rumah tangga terbesar di dunia yang jadi sasaran. Gara-garanya memasang logo warna-warni dalam rangka merayakan Pride Month.

Sebagian masyarakat Indonesia yang terkenal paling beriman di dunia dan akhirat ini murka, karena perusahaan multinasional tersebut menyatakan komitmennya untuk mendukung gerakan dan perjuangan hak-hak kelompok lesbian, gay, bisexual, transgender, queer, and intersex (LGBTQI+).

Ada yang menganggap pemboikotan itu tergolong mustahil alias cuma bacotan. Sebab dari kita buka mata setiap pagi sampai merem lagi malamnya, produk dia lagi-dia lagi. Namun, ada juga yang merasa yakin bisa memboikot produk-produk tersebut. Pun, ada yang sekadar nyeletuk boikat-boikot tanpa memahami makna dan tujuan dari boikot itu sendiri.

Boikot bisa dibilang wujud protes sekelompok orang terhadap seseorang atau organisasi tertentu dengan cara menolak untuk menggunakan, membeli, atau berurusan dengan pihak yang diboikot. Umumnya, boikot dilakukan secara terorganisir, nir-kekerasan, dengan tujuan membuat atau memaksa pihak tertentu untuk mengubah kebijakannya.

Baca juga: Yakin Mau Boikot Produk Pro-LGBT?

Boikot juga bisa diartikan sebagai tindakan persekongkolan sekelompok orang untuk menolak bekerjasama, menggunakan, atau berurusan dengan seseorang, produk, atau organisasi tertentu.

Menurut buku Captain Boycott and the Irish, boikot memboikot berawal dari tindakan sekelompok petani yang ditindas habis-habisan oleh seorang pemodal/tuan tanah bernama Lord Erne. Kata “boikot” sendiri diambil dari nama Charles Cunningham Boycott, kaki tangan Erne sang landlord yang super masyhur. Bukan kaleng-kaleng tanahnya di Kabupaten Mayo, Irlandia.

Suatu hari, para petani yang dipimpin oleh James Redpath memohon kepada Charles Boycott agar menurunkan harga penggarapan lahan pertanian. Namun, permohonan para petani tersebut ditolak oleh Charles Boycott. Hingga akhirnya, sejarah tercetus pada 23 September 1880 karena warga setempat kesal sampai ke ubun-ubun atas tindakan Charles Boycott dan Lord Erne yang semena-mena.

Para petani memutuskan untuk bersekongkol dalam kebajikan guna menyabotase tuan tanah yang menindas mereka. Para petani tidak mau menggarap lahan Lord Erne. Sedangkan para peternak enggan bekerja di peternakan sapi Charles Boycott, hingga si kapten itu bersama keluarganya harus memeras susu dan mengolahnya sendiri. Tak hanya itu, para tukang pos dan penjaga toko juga tidak mau melayani dan membeli susu perahan Charles Boycott.

Baca juga: Kegagalan Heteroseksual Melawan Homofobia dan Transfobia

Alhasil, Charles Boycott benar-benar lelah jiwa raga atas tindakan warga. Para petani kemudian sepakat akan kembali menggarap lahan asalkan Charles Boycott mengundurkan diri dari jabatannya. Tindakan sabotase ini dikenal sebagai tindakan mem-boycott.

Jadi, sudah jelas yah netijen? Boikot itu tujuan awalnya baik sebagai bentuk solidaritas dan aksi perlawanan nir-kekerasan yang terbukti efektif diterapkan di seluruh dunia. Aksi boikot juga sering terjadi di Indonesia, semisal buruh pabrik es krim yang mogok kerja karena persoalan upah. Atau, mahasiswa yang memboikot kelas-kelas, lalu cuti kuliah bersama-sama demi memprotes uang kuliah.

Sebab itu, marilah kita gunakan boikot sebagai upaya perlawanan nir-kekerasan demi keadilan kaum tertindas. Buat yang anti bakar ban dan nggak mau disiram water canon, boikot adalah alternatif yang bisa disambi dengan rebahan di rumah.

Baca juga: Aktivis Gerakan Sosial dalam Pusaran Kekerasan Seksual, Misoginis Total?

Lantas, apa bedanya sih dengan upaya sekelompok orang yang teriak-teriak ingin memboikot produk tertentu karena perusahaan yang menghasilkan produk tersebut mendukung gerakan dan perjuangan hak-hak kelompok LGBTQI+?

Perbedaannya terletak pada landasan gerakan perlawanan dan subjek yang melakukan boikot. Pada mulanya, boikot merupakan upaya solidaritas untuk mendukung kaum rentan dan marginal guna mendapatkan hak-haknya. Aksi ini berdasarkan pengalaman ketertindasan. Sedangkan memboikot produk karena produsennya mendukung hak-hak LGBTQI+ cenderung dilandasi oleh kebencian sekelompok orang dan supremasi hetero.

Jadi, niatnya sudah beda, begitu juga dengan cara dan tujuannya. Bukannya berniat mengentaskan ketidakadilan, boikot produk dengan alasan produsennya mendukung hak-hak LGBTQI+ justru menegakkan status quo yang selama ini mendiskriminasi kawan-kawan LGBTQI+ sehingga mereka terpinggirkan. Bagaimanapun, mereka yang berbeda orientasi seksual adalah saudaramu dalam kemanusiaan.

Artikel populer: Ketika Perempuan Curhat Jadi Korban Fakboi

Selain nggak relevan karena berbeda tujuan politis, kamu-kamu akan kesusahan loh kalau memang benar memboikot semua hal yang mendukung hak-hak LGBTQI+. Hari gini, brand mana sih yang nggak support LGBTQI+? Boro-boro brand, semua media sosial yang dipakai netijen untuk menyerukan aksi boikot sudah sejak lama mendukung LGBTQI+ kok? Nggak uninstall sekalian?

Pun, para tokoh dan selebritas terkenal di dunia juga support hak-hak LGBTQI+. Itu sudah jadi semacam tuntutan bisnis untuk merebut hati masyarakat yang sudah semakin open minded.

Jadi, kamu memboikot karena kamu tertindas atau penindas?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini