Ilustrasi. (Photo by Ekaterina Bolovtsova from Pexels)

Mantan menteri yang didakwa menerima suap dalam pengadaan bantuan sosial untuk penanganan pandemi Covid-19 dicaci maki netizen. Sebab dalam nota pembelaan, dia meminta hakim untuk membebaskannya.

Itu yang bikin geram. Duit yang diduga diterimanya adalah duit rakyat buat makan rakyat yang sedang susah cari makan di masa pandemi. Enak banget mau bebas begitu saja?

Tapi kalau diingat-ingat, para terdakwa seperti dia bukannya memang biasa begitu ya? Mereka hampir selalu minta dibebaskan dari segala tuntutan. Secara garis besar alasannya sama saja, mulai dari merasa dikorbankan, merasa tuntutan salah alamat, hingga ‘masih dibutuhkan keluarga’.

Mantan menteri dalam kasus korupsi ekspor benih lobster juga minta dibebaskan. Dalam nota pembelaan, dia beralasan bahwa bukti yang diajukan jaksa ke pengadilan sangat lemah. Dia juga beralasan bahwa dirinya masih dibutuhkan istri dan anak-anaknya. Yaelah, bukan cuma dia aja kalee yang dibutuhkan keluarga.

Baca juga: Ibarat Virus yang Enggan Pergi, Apakah Pandemi Korupsi Bisa Berhenti dengan Hukuman Mati?

Mereka rupanya sangat mirip. Sama-sama terjerat kasus suap saat masih menjabat sebagai menteri, sama-sama di angka puluhan miliar rupiah, sudah begitu sama-sama merasa diperlakukan tidak adil dan minta dibebaskan.

Oh ya, masih ada lagi. Waktu itu juga ada mantan menteri dalam kasus suap dana hibah yang minta dibebaskan lewat nota pembelaan. Begitu juga dengan mantan menteri era sebelumnya yang tersandung kasus penyalahgunaan dana operasional.

Alasan mereka dalam nota pembelaan kurang lebih sama saja, merasa tidak adil lalu menyangkal dakwaan dan alasan masih dibutuhkan keluarga. Alasan-alasan itu semacam template.

Jadi, sudah sangat klise terdakwa korupsi minta dibebaskan dari segala tuntutan. Biasalaahhh… Apalagi dalam hukum pidana, membela diri adalah hak terdakwa.

Baca juga: Bukan “Jurassic Park” Komodo, yang Kita Butuhkan “Night at the Museum” Koruptor

Oh tidak, saya tidak sedang membela terdakwa korupsi, karena saya bukan pengacaranya. Namun, aturannya memang begitu. Pembacaan nota pembelaan atau pleidoi merupakan tahapan atau acara hukum pidana yang harus dilalui.

Sebelum ada putusan hakim, bahkan sebelum putusan itu berkekuatan hukum tetap, terdakwa korupsi punya hak untuk membela diri, menyangkal bahkan minta bebas.

Perkara dia seolah tidak tahu diri dan tak punya malu minta dibebaskan, itu soal lain. Tapi jangan khawatir, kita masih bisa kok gemes-gemes geregetan.

Yang bikin gemes adalah dakwaan yang mereka sangkal tidak menemukan alamat semestinya. Banyak orang jadi curiga – karena dalam berbagai kasus korupsi, tidak mungkin dilakukan sendiri. Semisal terdakwa menyangkal terima duit suap, seharusnya ada kejelasan soal siapa yang sebenarnya menerima? Karena faktanya ada aliran duit, lalu mengalir ke mana dong?

Baca juga: Kata Kunci Supaya Pejabat Publik Nggak Ngambek kalau Dikritik

Kalau memang tidak menerima suap, ayo bilang siapa yang korup?! Atau, kalau memang terima, ngaku sajalahh…

Mengaku seperti seorang kepala desa di Karanganyar yang 10 tahun lalu terjerat kasus korupsi. Dia diadili pada tahun 2011 karena korupsi anggaran pendapatan dan belanja desa. Alih-alih meminta dibebaskan, ia justru meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman seberat-beratnya. Dia mengakui segala dakwaan, tidak menyangkal.

Bahkan kades tersebut menyebutkan bahwa ada bawahannya yang secara tidak langsung terlibat, tapi itu adalah kesalahannya sebagai pemimpin. Bisa dibilang, dia adalah koruptor yang langka. Meski begitu, koruptor tetap saja mencuri uang rakyat.

Lagi pula, mengaku seperti itu sebetulnya hal yang biasa saja. Sebab sudah seharusnya begitu, berani berbuat ya harus bersedia bertanggung jawab.

Artikel populer: The Queen’s Gambit dan Percaturan Politik Indonesia

Sedianya kalau memang terima duit atau terlibat dalam urusan entit-mengentit, para mantan menteri yang terjerat kasus korupsi sampai miliaran rupiah itu bisa mencontoh kades tadi. Tapi kalau memang tidak terima duit, tolonglah kasih tahu ke mana duitnya?

Mengaku seperti itu memang bukan perkara mudah. Malunya pasti nggak ketulungan, kan? Kalaupun disuruh orang, bahkan dia sendiri tidak kecipratan, sulit juga baginya untuk langsung mengaku dan membeberkan semuanya. Bisa jadi dia akan berhadapan dengan masalah keamanan dalam hidupnya. Seberapa kuat sih perlindungan saksi di negeri ini?

Sekalipun ia membuka tentang siapa yang menyuruhnya atau siapa yang menikmati hasil korupsi, belum tentu juga kasusnya bisa tuntas. Yaa… biasalaahhhh…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini