Yang Kusuka dari Fahri, tapi Tak Sampai Klepek-klepek

Yang Kusuka dari Fahri, tapi Tak Sampai Klepek-klepek

AAC2 (MD Pictures)

Di layar lebar, wajah cantik Keira alias Chelsea Islan berlinang air mata. Sambil terisak, dia berucap, “Nikahi aku, Fahri.”

Sontak, satu teater penonton pun tertawa. “Hahahaa!”

Dalam rangka menjadi anak yang berbakti, beberapa hari lalu saya menemani ibunda buat menonton Ayat-Ayat Cinta 2 (AAC2) di bioskop. Awalnya, saya kira bakal disuguhi dengan drama menye-menye, namun ternyata saya disuguhi dengan film komedi level meta yang menyegarkan kesumpekan akibat kejaran kerja akhir tahun.

Oh iya, untuk mencapai kesegaran batin saat menonton film, diperlukan keikhlasan dalam menyerahkan akal sehat. Karena jika kita ngotot bertanya-tanya “kenapa begini? kenapa begitu?” pada setiap plot film, kepala bisa meledak.

Eniwei, film ini bersentral pada tokoh Fahri. Si abang ganteng abang kaya abang pinter pencuri perhatian. Seperti protagonis khas sinetron dan FTV pada umumnya, Fahri ditampilkan bagai malaikat. Kalau kata GGS-nya Arap, “Gak punya sayap tapi mirip malaikat.”

Jujur sih, awalnya saya sudah membuka fikiran bahwa seorang manusia yang nyaris sempurna kayak Fahri mungkin ada. Tapi citra yang ditunjukkan pada Fahri tadi cuma ditempelkan lewat pujian tanpa bukti yang memadai.

Misal, pujian ‘Fahri pintar dan seorang dosen yang amazing!’ cuma hadir lewat dialog para mahasiswi dan Hulya – sepupu Aisha yang mau kuliah di kampus tempat Fahri mengajar. Oh iya, juga dialog Dianitami sebagai pihak kampus yang memberhentikan Fahri sebagai dosen di kampus.

Tapi sampai akhir film, tidak ditunjukkan bagaimana kehebatan Fahri sebagai dosen. Bahkan, perlu dicatat, tak nampak pula adegan Fahri yang benar-benar mengajar.

Jadi, selain wajah tampan dan istiqomah untuk sholat di depan kelas, saya tidak melihat kualitas pengajar yang membuat para cewek klepek-klepek pada dirinya. Tapi, perempuan yang jatuh hati pada Fahri banyak sekali, lho.

Mantan mahasiswa perantauan di Mesir itu selain jadi dosen juga punya bisnis minimarket. Tentunya, sebagai karakter utama yang from zero di AAC1 to hero di AAC2, bisnis abang Fahri tokcer sehingga bisa punya mobil SUV mengkilap dan asisten asal Turki bernama Hulusi. Selain itu, ia punya rumah mewah di komplek elit.

Fahri sebetulnya punya sisi lain yang menarik, yang membuat saya suka pada sosoknya. Beneran. Nggak percaya? Yuk disimak…

Di komplek perumahan elit, tempat Fahri tinggal, kita disodori dengan kisah ketulusan hatinya. Pertama, konflik Fahri dengan kakak-beradik Keira dan Jason. Mereka berdua sebel sama Fahri sebagai muslim paska serangan bom di London.

Selain itu, ada juga Nenek Catarina, seorang Yahudi yang sering sensi tapi kepo kepada Fahri. Namun, karena Islam mengajarkan bahwa kita harus membantu sesama tetangga apapun agamanya, Fahri terus membantu mereka sekalipun hanya berbalas air tuba.

Misal, saat Fahri merespon tindakan Jason yang sering mengutil di minimarket-nya. Ketimbang melaporkan Jason ke pihak berwajib, Fahri justru mengambil kebijakan anti kepemilikan privat (ceileh) dengan mempersilahkan Jason mengambil produk yang dibutuhkan secara bebas di sana.

Fahri pun membebaskan mobilnya untuk dimanfaatkan bersama tetangga lain, seperti Keira dan Nenek Catarina, yang dia berikan tumpangan supaya bisa sampai di tempat yang dituju. Fahri pun mempersilahkan mobilnya untuk dijadikan media vandalisme oleh Keira.

Awalnya sih, saya kira lebay. Tapi saat Fahri berkata, “Silakan coret mobil saya kalau itu akan menenangkan hatimu, namun yang pasti itu tidak akan mengembalikan ayahmu yang telah pergi.”

Saya jadi terkesan dengan caranya menangani masalah; sederhana dan tepat sasaran, tanpa perlu pake emosi.

Beda kan kalau Fahri malah merekam video waktu Keira mencoreti mobilnya, lalu mengunggahnya di Facebook sambil dikasih kepsyen mendayu-dayu seperti: “Astagfirullah, beginilah ulah seorang kafir terhadap mobil pengusaha muslim.”

Pada beberapa adegan, Fahri menunjukkan cara yang sama dalam mengatasi konflik. Misal, saat melihat ribut-ribut jemaah masjid dengan seorang pengemis bernama Sabina. Ketimbang ikut-ikutan main ‘gebuk’ atau ‘bakar’, Fahri justru mengajak dzikir jemaah supaya emosi yang keburu menggebu bisa reda.

Baru setelah tenang, Fahri mengkonfirmasi kebenaran kisah Sabina. Karena tentu tidak baik terburu-buru menyebar fitnah dan termakan hoax, supaya kita bisa melihat jelas duduk permasalahan yang ada.

Kalau dilihat-lihat, keunggulan Fahri sebenarnya berada pada bagaimana dia mengatasi konflik antar manusia dengan cara yang cenderung tak biasa.

Pemeran AAC2 (id.bookmyshow.com)

Namun sayang, ambisi film AAC2 untuk membuat Fahri sebagai malaikat malah membuat kualitas itu terasa lebay. Pokoknya, Fahri harus menjadi genius, billionaire, playboy, philantrophist kayak Tony Stark.

Contohnya, mulai dari banyaknya perempuan yang naksir Fahri just because, hingga ditasbihkannya Fahri sebagai guardian angel-nya Keira sampai mau dinikahi ala sumpah Dayang Sumbi di Tangkuban Perahu.

Selain itu, Fahri seolah menjadi malaikat bagi Nenek Catarina yang nyaris digusur dari rumah sendiri, atau waktu Fahri menyewa aktor untuk memberi Keira pelajaran tentang bahayanya dunia prostitusi.

Ada banyak lagi adegan-adegan yang merusak akal sehat, yang tak ada hubungan dengan plot kisah pencarian Fahri pada ayat-ayat cintanya alias Aisha, namun dijejalkan di film berdurasi 125 menit ini. Bersamaan dengan kebetulan-kebetulan dipaksakan ala deus ex machina yang mengubah alur cerita.

Pada satu titik, saya bahkan merasa jika pada film ini bisa menemukan adegan mobil Fortuner menabrak tiang listrik sampai penumpangnya benjol segede bakpao. Adegan itu bukan hal aneh lagi. Sehingga wajar, ketika Keira memohon dinikahi Fahri, seluruh penonton di teater malah tertawa. Mereka sudah muak, Bang!

Belum lagi dialog-dialog Fahri yang sebenarnya bisa dibuat sederhana, namun didandani dengan latar musik motivasional orkestratif, padahal hanya berisi kata-kata mutiara tanpa isi.

Seperti adegan Fahri menegur Hulusi dan mengguruinya tentang Bhinneka Tunggal Ika atau adegan debat konflik Timur Tengah yang malah berujung pada kehidupan personalnya Nenek Catarina.

Duh, coba deh kalau adegan-adegan itu tidak diiringi dengan latar musik megah, pasti jadinya bakal krik, krik, krik. “Ngomong apa sih, lu, Ri?”

Percakapan yang mengena justru saya temukan pada adegan Fahri dan Misbah – teman Fahri kuliah di Mesir – yang tengah berbincang di masjid. Di tengah kekalutan hatinya, Fahri meminta nasihat dari kawan lamanya. Misbah pun menjawab lewat dialog sederhana, “Buat apa sih kamu melakukan ini semua? Kamu yakin niatmu murni karena Allah?”

Saya yakin, peringatan begini akan mengena pada siapa saja yang memaknai hidupnya sebagai ibadah pada Sang Pencipta.

Sayang, film ini justru banyak menghadirkan hal-hal besar, namun tidak masuk akal. Padahal, dalam atmosfer penjaga moral ala cekrek-lapor-upload, kita perlu banyak tokoh seperti Fahri yang sederhana, rasional, dan tidak gampang emosi.

Akhirnya, kita banyak disuguhi Fahri yang justru lupa sama istri sendiri. Btw, sih, dalam alibinya Fahri, Aisha yang dikenalnya di AAC1 adalah Rianti Cartwright, sementara di AAC2 wajahnya berganti jadi Dewi Sandra. Nanti di AAC3, wajahnya berubah lagi jadi Tatjana Saphira?

Duh, aku gagal klepek-klepek kepadamu, Fahri. Jangan nikahi aku, Fahri…

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN PESAN

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.