article
Film Imperfect (Starvision Plus)

Dalam kesibukannya nge-tweet kritik tentang apapun, termasuk menyasar Presiden RI Joko Widodo dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Ernest Prakasa kembali menelurkan film. Temanya agak drama, tapi tetap penuh komedi. Judulnya Imperfect.

Film ini mengambil ide dari buku yang juga berjudul Imperfect karya Meira Anastasia, istri Ernest, meski isinya nggak sama-sama banget. Dalam film Imperfect juga nggak ada pemandangan ciamik seperti di Susah Sinyal, fokusnya di Jakarta saja seperti Cek Toko Sebelah.

Tema yang diambil sebenarnya berat, perihal body shaming khususnya terhadap perempuan. Dapat dibaca dari tagline film ini: “Karier, Cinta, & Timbangan”.

Meski begitu, film ini justru dibuka oleh body shaming yang sangat familiar karena sering disampaikan kepada bapak-bapak muka pas-pasan seperti saya, yaitu sebait kalimat ‘pujian’ kepada anak yang baru lahir, “Wah, untung nggak kayak bapaknya…”

Hmmm…

Baca juga: Tak Harus Putih, Saya Hitam dan Itu Baik-baik Saja

Kalimat pembuka film ini sebenarnya sudah menjadi bukti bahwa dalam durasi 1 jam 53 menit kita akan disuguhi beragam adegan dewasa. Iya, serupa tweet kondang dari @safirawwww yang berbunyi, “Film ini mengandung adegan dewasa, 21+…” Ini maksudnya adegan berangkat kerja pagi pulang sore, macet2an terus pas tanggal tua ngeluh-ngeluh gitu? 🙁

Mau bukti lain? Mari kita kuliti satu per satu.

  1. Biaya Hidup

Orang dewasa di Indonesia sebagian adalah generasi sandwich. Saya masih beruntung karena bapak dulu PNS, jadi ada uang pensiun golongan IV yang lumayanlah untuk hidup sehari-hari. Anak-anak paling mendukung uang pulsa dan bayar listrik. Sementara yang lain? Ada begitu banyak generasi milenial yang harus membagi gajinya untuk membiayai hidupnya sendiri, orangtua, dan anak.

Biaya di sini bukan hanya soal kehidupan sehari-hari, tapi juga kalau ada utang, sebagaimana yang dimiliki oleh Ibu Ratih (Dewi Irawan), calon mertuanya Rara (Jessica Mila). Anak-anak yang punya semangat berbakti pada orangtua di tengah kariernya yang sedang mampet adalah profil banyak orang dewasa di Indonesia saat ini.

  1. Karier dan Pengorbanan

Dunia kerja di swasta terbilang sadis, kalau kita-nya biasa-biasa saja. Makanya, banyak yang kemudian pengen jadi PNS, padahal mereka nggak tahu bahwa gawe jadi PNS muda terutama di Kementerian/Lembaga itu nggak kalah sadisnya. Heuheu~

Baca juga: Makna Lain di Balik Seleksi CPNS, Jutaan Orang bahkan Tidak Menyadari

Mengingat kesadisan itu, ada banyak hal yang harus diperjuangkan, termasuk bagaimana Rara berusaha memperbaiki penampilannya agar kariernya di Malathi, tempatnya bekerja, bisa berpeluang naik. Begitu sudah mendapatkan posisi yang bagus, Rara kemudian sempat lupa bahwa untuk hal-hal yang sudah dia dapatkan itu, ada hal-hal lain yang bisa saja hilang darinya.

Tak sedikit pasangan yang putus hubungan kekasih karena persoalan karier. Bahkan, ada pasangan suami-istri yang bercerai karena salah satu penyebabnya adalah masalah pekerjaan. Jadi, adegan demi adegan, ketika sikap Rara yang sempat ‘berubah’, sesungguhnya adalah profil banyak orang dewasa.

Cuma, yang bikin heran satu aja sih. Di berbagai kantor yang pernah saya masuki, kalau promosi dari staf ke manajer di tempat yang sama, kenaikan gajinya paling cuma Rp 1 juta. Kok, gaya hidupnya Rara bisa berubah lumayan drastis dengan kenaikan segitu, yak?

  1. Rahasia dan Idealisme

Ibu Debby (Karina Suwandi) tampak begitu kejam memperlakukan Rara terkait dengan penampilan. Pada akhir film, terungkap sebuah rahasia yang melatarbelakangi perlakuan tersebut.

Faktanya, banyak orang dewasa juga memiliki sebuah rahasia ketika memaksakan sesuatu kepada anaknya. Beberapa orangtua yang gagal di akademis ketika muda, berusaha mendorong anaknya untuk berprestasi di dunia itu. Sebagian orangtua juga berupaya mendidik anaknya dengan terlalu lemah lembut, karena ada trauma masa lalu ketika melihat rumah tangga orangtuanya begitu penuh dengan teriakan dan ancaman.

Sesungguhnya, begitu banyak idealisme orangtua yang sangat terkait dengan sebuah rahasia pada kehidupannya. Rahasia yang disimpan begitu rapat oleh orang-orang dewasa.

Baca juga: Film ‘Kim Ji-young’ Indonesia Banget, Laki-laki Berani Nonton Nggak?

  1. Kegemukan

Dikisahkan bahwa Rara itu sudah gemuk dan berkulit gelap sejak dini. Jadi, boleh dibilang dalam usia ke-28, dia sudah sangat terbiasa jadi gemuk. Sementara itu, pada kebanyakan orang, usia 28 tahun justru menjadi awal badannya ‘membesar’ seiring dengan metabolisme yang mulai menurun.

Bagi para pria dewasa, kegemukan itu terkait dengan gaya hidup yang secara perlahan menciptakan tas pinggang abadi. Kalau perempuan, pada umumnya adalah dampak dari berumah tangga, biasanya terjadi setelah melahirkan. Jadi, isu kegemukan ini sungguh sangat terkait dengan orang dewasa.

  1. Bubur Ayam

Waktu kecil, pengetahuan yang disampaikan adalah sarapan itu harus penuh gizi. Setidaknya ada karbohidrat – yang umumnya adalah nasi, ada lauk pauk, sayuran, buah, plus susu. Padahal, saya tahu sendiri bahwa guru yang mengajarkan soal sarapan itu kepada anak SD juga setengah mati untuk bisa membelikan anaknya buah yang tidak itu-itu saja, apalagi beli susu.

Nah, begitu dewasa – apalagi kerja di belantara beton Jakarta – sarapan penuh gizi adalah mimpi belaka. Selain faktor keuangan, ada aspek ketersediaan dan kemudahan akses.

Artikel populer: Selamat Datang! Barisan Pelamar Kerja yang Tak Punya Akses dan Peluang

Jadi, adegan Rara dan Fey (Shareefa Daanish) sering sekali sarapan bubur ayam di meja kerja pada pagi hari adalah realitas orang-orang dewasa yang berangkat pagi, macet-macetan di jalan, sikut-sikutan di KRL, dan hidupnya penuh dengan keluhan.

Bubur ayam disediakan begitu masif oleh abang-abang dengan gerobak di berbagai akses masuk kantor, selain juga ketoprak dan nasi uduk. Harganya juga terjangkau untuk kocek orang dewasa.

Dan, yang paling penting, bubur dalam kemasan styrofoam itu bisa dibawa ke meja kerja, kemudian dibuang ke tempat sampah dan berkontribusi pada bertambahnya limbah styrofoam di dunia. Duh…

Di luar film Imperfect, bubur ayam juga menjadi isu orang dewasa. Nggak percaya? Lihat saja di media sosial, orang-orang ribut soal makan bubur diaduk atau nggak diaduk. Ini penting!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini