3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

3 Nasihat yang Tidak Perlu Didengar oleh Orangtua Milenial

Ilustrasi (Prawny via Pixabay)

Voxpop kerap membahas soal percintaan dan pernikahan. Kita tahu bahwa di Indonesia Raya ini pertanyaan “kapan” adalah sesuatu yang abadi.

Lagi jomlo, ditanya “kapan punya pacar?” Sudah punya pacar, ditanya “kapan nikah?” Baru saja menikah, ditanya “kapan punya anak?” Seolah-olah punya anak di era milenial ini segampang menyalahkan presiden.

Apabila proses punya anak itu sudah dilampaui, persoalan berikutnya adalah soal mengurus anak tersebut. Para orangtua milenial yang newbie tidak hanya dihadapkan pada ketidaktahuan dalam hal parenting, namun juga nasihat-nasihat bijak yang kadang-kadang kalau dicerna, ya tidak bisa dibilang bijak juga karena berkonteks menggurui.

Nasihat-nasihat itu juga tidak visible dan sering tanpa empati. Paling parah, hal semacam ini justru hadir dari orang terdekat, ya kakek-nenek si bayi, ya paman-bibi si orangtua newbie, bisa juga sekadar tetangga julid.

Berdasarkan pengalaman sebagai bapak milenial newbie, berikut ini 3 nasihat yang hampir pasti dilontarkan, namun sebenarnya tidak perlu didengarkan. Cukup diiyakan saja supaya nggak kualat.

Pengabaian perlu dilakukan guna menjaga kewarasan sebagai orangtua baru dan pada akhirnya bermuara pada kesehatan, keselamatan, serta kewarasan si anak juga.

1. “Nggak boleh pakai diapers, lho…

Sebenarnya memang yang terbaik untuk bayi adalah popok kain, karena seorang anak tidak boleh berlama-lama dengan hal yang najis. Begitu kotoran keluar, mau buang air kecil atau besar, seharusnya langsung dibersihkan.

Baca juga: Mengapa Harus Minder Jadi Bapak-bapak Rumahan? Lihatlah Bagaimana Saya Mendobrak Kultur

Ketika anak masih di kandungan, saya dan istri juga belanja popok kain, yang kemudian ditambahkan juga oleh eyangnya. Bagaimanapun, popok sekali pakai itu ada kandungan kimia, yang kemudian direbus dan dipakai pemuda harapan bangsa untuk mabuk.

Masalahnya adalah hidup dengan bayi merah itu pasti jauh dari ideal. Jam tidur jelas tidak akan ideal. Gerak tubuh ibu baru juga tidak akan ideal karena masih pemulihan, tidak peduli lahiran normal atau operasi sesar. Bapak-bapak juga mengalami shock pada perubahan kehidupannya.

Sekarang, dengan popok kain, kalau bayi buang air kecil atau besar, dampaknya sungguh-sungguh menyeluruh dan sangat sistemik. Baju dalam, baju luar, celana, popok itu sendiri, sampai sprei dan kasur tempatnya berbaring bisa kena dampak.

Belum lagi kalau habis pipis, lantas semua kelengkapan diganti, dan lima menit kemudian si bayi malah buang air besar. Sulit untuk tetap waras dalam momen seperti ini.

Jika yang seperti itu adalah Nia Ramadhani Bakrie yang pembantunya puluhan, tentu tidak masalah. Sekarang bagaimana kalau itu terjadi pada sepasang pasutri muda yang jauh dari orangtua dan belum nemu asisten rumah tangga?

Terlebih, kejadiannya siang hari ketika si bapak yang umumnya tidak dapat cuti mendampingi istri melahirkan itu sedang bekerja? Yakinkah kita bahwa si ibu muda yang barusan operasi sesar bisa tabah dan tetap waras untuk mencuci semua kelengkapan itu?

Baca juga: Emak-emak Rumahan Bergelar Sarjana, Menurut Ngana?

Sementara, yang kasih nasihat hanyalah pengunjung biasa atau keluarga dekat yang hanya melihat si bayi dari video call belaka.

Saya dan istri pernah mencoba popok kain, namun demi kewarasan kami, popok sekali pakai pada akhirnya menjadi pilihan yang rasional. Apalagi, orang-orang yang menyarankan pakai popok kain itu nggak akan pernah juga membantu untuk mencuci segala dampak dari ekskresi anak saya.

2. “Aduh, pokoknya jangan daycare, deh.” Atau, “Ih, pembantu sekarang mah ngeri-ngeri.

Seiring mahalnya hidup, suami dan istri bekerja adalah solusi bertahan hidup. Lha, gaji Rp 20 juta berdua saja kadang masih ribet untuk hidup di Jakarta Raya? Maka, ketika cuti 3 bulan dilakoni para ibu, pilihan nasib si anak kelak ketika ibunya masuk kerja pasti sudah dipikir baik-baik.

Yang jadi soal adalah ketika ibu newbie yang gamang butuh pendapat, nasihat yang muncul justru menimbulkan ketakutan. Kita harusnya paham bahwa psikologis ibu baru belumlah senormal ketika dia gadis.

Jika si ibu mulai milih daycare, muncul pendapat yang menakut-nakuti dengan pengasuh cuek hingga penularan penyakit. Apabila opsi asisten rumah tangga yang diambil, dikasihlah video ART memukul anak di Malaysia.

Padahal, yang dibutuhkan oleh ibu muda adalah gambaran kehidupan sehari-hari, bukan gambaran keburukan dari setiap pilihan yang akan diambilnya. Jadi, jika ada nasihat yang bau-baunya sudah bikin pikiran ngeri dengan asupan ketakutan berlebihan, memang sebaiknya diabaikan saja.

Artikel populer: Muda Belum Tentu Kaya, Tua Habis Harta: Milenial

3. “Anakmu kurang gizi itu, tambah sufor dong.”

Para orangtua milenial ini dihadapkan pada fakta baru dunia kesehatan bahwa ASI eksklusif itu penting. Padahal, mereka sendiri sedari orok sudah minum susu formula (sufor), karena tahun 80 dan 90-an awal itu adalah normal bagi bayi baru lahir untuk langsung minum sufor.

Tapi, kini?

Saya bahkan harus tanda tangan tanggung jawab untuk membolehkan rumah sakit memberikan sufor saat ASI ibunya belum sepenuhnya cukup dan si bayi sudah hampir dehidrasi.

Perbedaan konsep itulah yang kadang bikin pertentangan. Si nenek merasa bahwa memberikan sufor akan baik-baik saja, karena toh buktinya si anak sekarang sudah bisa nikah dan punya anak.

Si anak yang sudah melahirkan telah punya mindset modern untuk berikhtiar ASI eksklusif. Mau nolak nasihat nenek takut durhaka, mau mengikuti arahannya kok ya beda dengan harapan bisa ASI eksklusif 6 bulan.

Satu-satunya nasihat yang harus didengarkan dalam hal ini hanyalah dokter spesialis anak yang pegang si bayi. Sisanya? Ya, abaikan saja daripada bikin senewen, tentu dengan terlebih dahulu mengiyakannya.

Nasihat-nasihat bijak tersebut adalah paket penyerta dari kebahagiaan yang kita alami. Komentar-komentar yang didasari rasa sayang, namun sering tanpa empati.

Jadi, niat baik siapapun yang melontarkannya tetaplah kudu dihargai, tinggal para orangtua milenial yang harus mampu menyaring semua masukan. Yah, sekadar untuk memastikan bahwa dirinya bisa tetap sehat jiwa raga dalam menjalani perubahan hidup yang sudah pasti tidak mudah itu.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.