Ilustrasi plus size (Photo by Meital Anlen on Unsplash)

Mengapa perlu dijembreng tagar #BodyShaming, #FatAcceptance, hingga #ToxicPositivity? Gara-gara ada influencer perempuan yang mengomentari tubuh perempuan lain di gym sebagai ‘polusi visual’. Sontak, para netizen termasuk selebritas lokal protes dan angkat bicara.

Namun, awalnya si influencer sama sekali tak merasa salah dengan alasan “kebebasan berpendapat” hingga “hanya mengingatkan”. Banyak pula pendukung setianya yang membela dan masih menganggap bahwa body positivity itu sama dengan cuek terhadap kesehatan tubuh sendiri.

Berbagai alasan mereka pakai, selain “sekadar mengingatkan” dan “namanya juga kebebasan berpendapat”, ada juga yang menuduh, “Elo ini denial banget, ya? Udah bagus ada yang ngingetin elo. Bukannya elo terima kasih.”

Wadidaw, hellooo… Siapa yang minta “diingetin” keleus? Memang sih banyak yang belum tahu unsolicited advice. Kalau diterjemahkan, yaitu nasihat yang tidak diminta. Sudah tidak diminta, malah defensif dan ngotot lagi. Padahal, ocehan ‘polusi visual’ itu toksik banget. Apanya yang ‘kebebasan berpendapat’ dari upaya mempermalukan atau menghina tubuh orang lain?

Baca juga: ‘Body Shaming’ Nggak Lucu, Karena Cantik Itu Hanya Mitos

Ngomong-ngomong soal body shaming, biasanya yang menjadi korban adalah orang-orang yang kelebihan berat badan. Nah, kamu-kamu yang menganggap fat acceptance hanya sebuah omong kosong, mungkin karena belum pernah tahu rasanya kelebihan berat badan. Entah karena sudah dari sananya begitu atau masalah metabolisme.

FYI aja nih, #FatAcceptance adalah gerakan masyarakat akar rumput untuk mengubah perilaku sosial terhadap orang-orang dengan kelebihan berat badan. Gerakan ini sudah dimulai sejak 1970 di Amerika Serikat. Kamu saja yang mainnya kurang jauh, eh di Google ada deng.

Intinya kurang lebih sama dengan perlakuan masyarakat terhadap orang yang berbeda warna kulit ataupun disabilitas: memanusiakan manusia.

Kalaupun ada orang yang ingin mengurangi berat badan dengan alasan kesehatan, itu lain soal. Tubuh mereka sendiri, toh? Yang jadi ‘polusi visual’ maupun ‘polusi sosial’ justru ujaran dan perlakuanmu yang menganggap bahwa tubuh mereka tak sesuai standar kecantikan yang toksik itu.

Baca juga: Tara Basro dan ‘Body Positivity’ sebagai Perlawanan yang Revolusioner

Saya pernah sekantor dengan seorang laki-laki yang hampir tiga kali melecehkan saya terkait berat badan. Kejadian pertama saat acara buka puasa bersama di kantor sekaligus lembur. Ketika hendak berbuka, tiba-tiba dia menghampiri, lalu komentar begini:

“Cewek makannya jangan banyak-banyak.”

Merasa terganggu, saya balas menatapnya, namun masih berusaha kalem. Dengan senyum sinis, saya tanya balik, “Kata siapa?”

“Kata gue?”

“Oh, gitu?”

Lalu, tanpa peduli, saya mulai mengunyah di depannya. Santuy saja. Lagian kok ngatur-ngatur?

Namun, peristiwa serupa terjadi lagi. Saat saya bawa sekantong kerupuk Palembang ke kantor, dia kembali berulah. Mulailah dia nyinyir, “Apakah kamu masih suka olahraga? Berapa lama? Sampai keringatan nggak?”

Diihhh segitunya…

Karena memang bukan urusannya, saya menjawab sekenanya. Maksudnya mau mengusir ala-ala jutek, eh dia malah ‘menasihati’ kalau makan kerupuk jangan banyak-banyak. Ujung-ujungnya, dia mengambil kantong kerupuk tersebut sambil berujar, “Kalo gitu ini gue ambil, ya?”

Wooiii… Celamitan bilang!

Kemudian, saya ngomong ke dia, “Bung, tadi kan gue udah bilang, kalo mau ambil aja. Nggak usah pake bahas berat badan segala.”

Baca juga: Sesungguhnya Malapetaka bagi Orang yang Mengontrol Tubuh Perempuan

Mau tahu gimana sikapnya?

Laki-laki itu malah berang. Selain membanting kantong kerupuk, dia ngomel-ngomel, “Galak amat, sih?” Terus, ngambek seharian. Biarin aja.

Lalu, pada momen ketiga, rupanya nyali dia mulai ciut. Ketika saya menyantap mi instan, dia masih mencoba untuk berkomentar, “Perasaan gue liat lo makannya mi instan melulu.” Kala itu, saya langsung menjawab singkat, “Masih punya waktu lo merhatiin makanan gue!”

Itu saya, kalau kamu pernah mengalami hal serupa?

Tentu, setiap orang punya daya tahan psikis yang berbeda-beda ketika dirisak soal kelebihan berat badan. Bisa jadi ada yang minder, stres, depresi, jatuh sakit, hingga ingin bunuh diri.

Oh ya, perempuan yang kalian permalukan karena kelebihan berat badan bisa jadi penyintas kekerasan seksual, lho. Pernah baca analisis dalam artikel The Second Assault oleh Olga Khazan di The Atlantic? Disebutkan bahwa sekitar 57 ribu korban kekerasan seksual cenderung mengalami obesitas di kemudian hari.

Bahkan, beberapa di antara mereka mengatakan bahwa tubuh gemuk bisa menjauhkan mereka dari kemungkinan diperkosa lagi, karena dengan anggapan bahwa laki-laki biasanya tidak tertarik dengan perempuan gemuk. Sedih nggak tuh, dengarnya?

Artikel populer: Kita Tetap Bisa Pakai Makeup dan Skincare Sekaligus Melawan Standarisasi Kecantikan

Fat acceptance memang hanya untuk orang yang benar-benar butuh. Kalau kamu nggak mau percaya atau malah menganggapnya sampah juga nggak apa-apa. Tapi tolong, jangan menghina. Orang-orang dengan kelebihan berat badan hanya butuh menerima dan berdamai dengan diri sendiri, apa adanya.

Pesenam senior profesional Berty Tilarso pernah bilang bahwa porsi olahraga dan makan boleh sama, hasilnya bisa beda-beda bagi setiap orang. Ada yang setelah tiga bulan olahraga langsung kelihatan lebih ramping. Ada yang tetap sama, namun baju-baju lama yang semula sempit jadi muat lagi. Buktinya, saya dulu pernah turun 20 kg dalam dua tahun setelah ikut program beliau, tapi ketika itu banyak yang bilang saya masih kelihatan besar.

Jadi, kalau kamu memang tulus khawatir sama kesehatan teman atau keluargamu yang kebetulan berbodi besar, perhatikan 3 hal penting ini:

Pertama, kira-kira mereka butuh nasihat dari kamu, nggak? Tunggu saja sampai mereka bertanya atau curhat.

Kedua, daripada komen penampilan fisik, mending fokus sama kesehatan. Ajak mereka olahraga bareng. Ajak mereka mengkonsumsi makanan sehat. Kamu pun ikutan makin sehat dan jadi teman yang lebih baik.

Ketiga, mending langsung ngomong sama orangnya daripada asal komen di media sosial.

Simpel, kan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini