‘27 Steps of May’: Keluarga Penyintas Kekerasan Seksual juga Perlu Didampingi

‘27 Steps of May’: Keluarga Penyintas Kekerasan Seksual juga Perlu Didampingi

Film 27 Steps of May (Green Glow Pictures)

Tulisan ini saya buat setelah menonton film 27 Steps of May. Raihaanun, Lukman Sardi, dan Ario Bayu membintangi film yang disutradarai Ravi Bharwani ini. Secara garis besar, film 27 Steps of May menceritakan seorang gadis bernama May yang mengalami tindak kekerasan seksual ketika masih sekolah. May hanya hidup dengan ayahnya, diperankan sangat bagus oleh Lukman Sardi.

May harus menjalani hidup yang sangat berat. Bahkan, delapan tahun setelah kasus perkosaan itu, dia tetap dilanda ketakutan untuk keluar rumah. Ketakutan bersentuhan dengan laki-laki bahkan itu ayahnya sendiri. Ketakutan terhadap makanan yang berwarna karena trauma yang mendalam.

Baca juga: Kau Terpelajar, Cobalah Pahami Bagaimana Jadi Penyintas Kekerasan Seksual

Ayah May, satu-satunya orangtua yang dia miliki (tidak ada penjelasan mengapa May hanya punya satu orangtua), menjalani dua kehidupan yang bertolak belakang. Di depan May, dia adalah sosok ayah yang lembut, pengertian, melayani anaknya yang penuh ketakutan dan tidak mau bicara.

Di belakang May, ayahnya menjalani hidup sebagai petinju dan petarung bebas untuk menyalurkan amarahnya. Melepaskan kekesalan hatinya atas rasa bersalah tak mampu menjaga anaknya.

Saya rasa spoiler-nya cukup ya 🙂

Mari kita bayangkan ada 4.000-6.000 korban kekerasan seksual berdasarkan data Komnas Perempuan. Selain 4.000-6.000 korban, ada puluhan bahkan mungkin belasan ribu keluarga korban yang sama juga dengan korban, tak ada habis-habisnya menyalahkan diri sendiri, terguncang batinnya, dan mengalami masa-masa sulit untuk hidup seperti sedia kala.

Baca juga: Kamu Bilang Perempuan di Rumah Saja Biar Aman, tapi Nyatanya Tidak

Selama ini, saya merasa korban yang harus ditemani, mendapat konseling, akses pendidikan dan kesehatan, pendampingan hukum, dan lain-lain. Tapi ternyata, keluarga dan orang-orang dekat di sekitarnya juga perlu mendapat pendampingan, karena merekalah yang ada setiap hari bersama korban.

Ya, mereka yang setiap hari melihat langsung proses korban menjalani hari-harinya. Bagaimana mereka menjalani hidup dengan melihat korban linglung, mencoba bunuh diri, tidak mau bertemu orang asing, mengucilkan diri, dan sebagainya.

Perasaan campur aduk keluarga antara menyerahkan kepada hukum atau ambil tindakan main hakim sendiri tentu terjadi. Apalagi, jika mereka melihat pelaku tak tersentuh hukum, bahkan diputus bebas dengan memanfaatkan celah hukum yang ada. Hari-hari berat tersebut harus dijalani. Hari ke hari. Melihat langsung korban, memandang keadaan diri, dan kebingungan harus melakukan apa.

Artikel populer: Wahai Suami, kok Ngebet Banget Sampai Istri Sendiri Diperkosa?

Kekerasan seksual dan kekerasan terhadap perempuan yang terjadi dengan berbagai cara (fisik, digital, relasi kuasa, dan lain-lain) bagai sebuah puncak gunung es. Tak hanya di Indonesia, namun juga di dunia.

Menjaga perempuan agar aman, setara, dan bebas menentukan pilihan harus menjadi agenda besar negeri ini. Sebuah agenda yang teramat sangat penting hingga seluruh perempuan dan laki-laki perlu duduk, jalan, dan bergerak bersama-sama menyelesaikannya.

By the way, yang terbiasa nonton film Hollywood akan mudah merasa bosan melihat film 27 Steps of May ini. Terasa alurnya sangat lambat dan membosankan. Saran saya, ikuti semuanya. Tahan rasa bosan itu. Seluruh adegan-adegan film tersebut bagai puzzle yang terangkai satu sama lain. Di ujungnya, penonton akan menemukan makna tersebut.

Salam nonton!

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.