Yang Tersisa dari Saling Berbalas Aksi
CEPIKA-CEPIKI

Yang Tersisa dari Saling Berbalas Aksi

tirto.id

Boleh dibilang minggu ini adalah minggu yang paling melelahkan buat orang Indonesia. Ribuan orang menempuh perjalanan dari Ciamis ke Jakarta dengan… berjalan kaki! Epik. Kalau saya tidak salah, Ciamis-Jakarta itu 269 km jauhnya. Lha kok yang ratusan kilometer, beli rokok ke warung depan aja kita manggil gojek. Jadi ya memang luar biasa.

Ini masih ditambah lagi dengan jutaan (menurut satu pihak) atau ratusan ribu (menurut pihak yang lain) orang yang juga datang ke ibukota di hari yang sama, hasilnya kolosal. Sholat jumat terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.

Tapi soal jumlah peserta ini juga jadi rame. Satu orang menyebut angka 7 jutaan, yang lain menyebut 2 jutaan, yang lain lagi 500 ribuan, lalu ada yang 300 atau 200 ribuan. Udah kayak tawar-tawaran kain di Glodok. Ini wartawan apa gak bingung ya harus nulis berapa jumlah peserta aksi di medianya? Atau jangan-jangan mereka juga pakai metode nawar barang:

“Udah, pasnya berapa nih? 300 dikasih gak? 500 deh. Kalau gak mau saya tinggal nih…” Sambil ngarep dipanggil sama abang yang jualan.

Dua hari kemudian ada aksi balasannya juga. Sama-sama capek. Jalannya sih gak jauh, tapi yang capek mungkin hatinya karena di-bully di media sosial gara-gara jumlah pesertanya gak seepik aksi sebelumnya, karena yang epik cuma sampahnya yang berserakan di mana-mana. Lha aksi kok balas-balasan, kalau surat cinta gak apa-apa.

Saya catat balas-balasan aksi ini sudah mulai dari bulan November, dari aksi 411 yang dibalas aksi 1911, lalu dibalas aksi 212, lalu dibalas lagi dengan aksi 412. Ditambah tentara sama polisi yang ikut-ikutan bikin aksi, 1811 dan 112. Rasanya seperti nonton surat-suratan segitiga antara Cinta, Rangga, sama Trian di AADC2.

Bahkan gara-gara balas-balasan aksi ini, katanya Vietnam sampai mau ikut-ikutan. Vietnam yang gak terima kalah 2-1 dari Boaz dan kawan-kawan di 311 katanya mau menggelar semifinal balasan di negaranya. Kalau menang sih, ya kita gak bisa bilang apa-apa. Tapi kalau sampai mereka kalah, mari kita bully kuminis-kuminis itu di media sosial:

“Ah, semifinal bayaran, lu….”

Satu yang mencuri perhatian dari aksi-aksi itu adalah, siapa lagi kalau bukan, Jokowi, presiden kita yang dibenci separuh penduduk Indonesia dan dicintai separuh lebih dikit penduduk Indonesia yang lain. Yang dikomentari bukan aksinya atau pidatonya, tapi aksesorinya. Pasca aksi 411, yang dikomentari jaket bombernya; waktu aksi 212, yang dibahas payung birunya.

Mana Kaesang ikut-ikutan pula. Selain jaket dan payung, itu anak sempat-sempatnya nawarin Makobar pas sang bapak ketemuan sama beberapa tokoh di istana.

Sempat bertanya-tanya juga saya, berapa lama waktu yang dibutuhkan Kaesang untuk berpikir lalu membuat status untuk mengomentari bapaknya? Jangan-jangan kecepatan netizen menyebarkan berita hoax yang katanya melebihi kecepatan cahaya itu sebenarnya setara dengan kecepatan pedagang online menangkap peluang jualan.

Tapi teori itu kayaknya gak berlaku buat Sari Roti.

Mungkin yang punya Sari Roti belajar dari kesalahan dua stasiun televisi nasional, tivi One dan Metro tivi. Pasca pilpres, saham tivi One sempat anjlok dan netizen mem-bully-nya dengan memelesetkan slogan mereka “terdepan mengaburkan.” Metro tivi nasibnya juga gak kalah sial, setelah aksi 212 muncul ajakan untuk memboikot stasiun tivi yang oleh netizen dipelesetkan jadi “Metro tipu” itu.

Sekarang saya bingung, kalau kita nanti, misalnya, gak suka sama Erdogan, terus siapa yang mau kita boikot? Anteve karena mereka menyiarkan Shehrazat, Elif, dan Cansu dan Hazal? Terus kalau Kim Jong Un yang bikin ulah, apa semua stasiun tivi mau kita boikot karena hampir semua stasiun televisi menyiarkan drama Korea?

Eh, tapi Kim Jong Un itu Korea Utara kok ya? Ah, bodo amat, sama-sama Koreanya ini….

Padahal Sari Roti cuma mau bilang kalau mereka gak mau terlibat politik, gak ikut yang ini, gak memihak yang itu. Tapi seperti kata Dante, neraka terdalam memang disediakan buat mereka yang netral. Maka ya memang apesnya Sari Roti aja. Buat pedagang, saya rasa yang bisa mengimbangi panasnya api neraka adalah sengsaranya produknya gak laku karena diboikot.

Lagian Sari Roti juga ada-ada aja. Kapan sih ada produk yang dipakai oleh peserta satu aksi yang kemudian dihubung-hubungkan dengan pilihan politiknya? Kecuali kalau yang punya jelas-jelas menyatakan mendukung atau anti salah satu kelompok. Kalau cuma dipakai, ya banyak pastinya.

Ambil saja salah satu contoh, es teh misalnya. Gak usah disurvey, gak usah dikasih bukti foto atau video, saya yakin banyak yang minum es teh pas aksi kemarin. Bayangkan kalau satu hari, ketika saya menyuguhi teman yang datang ke rumah dengan es teh lalu dia menolak sambil berkata:

“Saya gak mau minum es tehmu. Es tehmu ini radikal-fundamentalis, tidak toleran, dan tidak pro-kebhinnekaan.”

Etapi sekarang efeknya udah gitu kok ya? Sari Roti bukan cuma mau diboikot, tapi juga sudah dihujat. Lha terus besok kalau saya ada tamu, mesti dikasih hidangan apa? Atau mungkin ada baiknya kalau besok pada mau bertamu ke rumah orang, dikasih tau dulu kita itu alumni aksi yang mana. Biar yang punya rumah gak salah gitu kalau mau nyuguh….

  • Langit Amaravati

    Brengsek banget tulisan ini. Hahaha. Tapi bener sih.