Yang Tersirat dari Standar Samping dan Kunci Stang Motor

Yang Tersirat dari Standar Samping dan Kunci Stang Motor

nomadicpursuits.com

Hidup di Indonesia itu unik. Debat panjang tak hanya masalah pilihan politik atau figur, tapi juga perbedaan pilihan roti. Belum lagi soal air minum dalam kemasan yang serupa minuman keras.

Kita belum menyebut tentang perkara kecil di Bandung maupun urusan baliho di Jogja. Ngomong-ngomong soal baliho, bukankah yang seharusnya diturunkan itu semuanya ya? Yang ada di sekeliling Jogja, Bantul, maupun Sleman.

Cobalah ke Jogja dan wisata mata dari perempatan Gejayan hingga Jalan Solo. Dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, mata akan lelah karena yang dilihat di kiri dan kanan bukan pohon cemara, tapi baliho aneka rupa.

Sudah, lupakan Jogja dengan segala balihonya. Lupakan kisah hotel yang nyerobot trotoar dan kampung belakang hotel yang krisis air. Mari kembali kepada konteks Indonesia yang seolah lupa topik rutinnya: Natal.

Sebenarnya kurang greget kalau ngomongin peristiwa kelahiran Nabi Isa dan hubungannya dengan kondisi terkini Indonesia. Kita melompat dulu sekejap pada peristiwa Paskah, saat Nabi Isa wafat. Berhubung situs ini menyajikan beragam pandangan, maka mestinya boleh.

Alkisah, sebelum Pontius Pilatus menyerahkan Nabi Isa untuk disalibkan, keduanya terlibat dialog yang kalau dihitung-hitung termasuk kategori kalimat-kalimat yang cukup panjang, yang diucapkan Nabi Isa sepanjang kisah sengsara.

Percakapan panjang itu berakhir kala Nabi Isa menyebut tentang ‘kebenaran’ dan Pontius Pilatus bertanya, “Apakah kebenaran itu?”

Pontius Pilatus menyebut sebuah pertanyaan yang tidak ada kedaluwarsanya, beda sama isu roti. Pertanyaan tentang kebenaran berlangsung dari tahun ke tahun, pacar ke pacar, abad ke abad, mantan ke mantan.

Pertanyaan serupa yang lantas membawa seorang Niklas Koppernigk alias Nicolaus Copernicus maupun Galileo Galilei pada pertentangan tiada akhir. Teori heliosentris yang dibawa Copernicus membawa semarak pada kehidupan beragama kala itu.

Lewat Buku Pintar Iwan Gayo, kita dapat mengerti akhir cerita kehidupan seorang Copernicus dan bagaimana bertahun-tahun kemudian, buah pemikirannya tetiba diakui sebagai kebenaran.

Kebenaran terus dicari hingga tahun 2016, dan rupanya terjadi pergeseran makna. Kebenaran masa kini kiranya relevan dengan selera. Sebuah kabar bohong alias hoax yang berseliweran di Facebook dengan mudah menjelma menjadi kebenaran.

Kabar itu dibagikan, dibumbui, dikomentari oleh orang-orang baik, rajin beribadah, dan pernah ke surga. Lebih cakep lagi, kebenaran yang relevan dengan selera tidak sekadar menjadi ranah orang kurang berpendidikan. Doktor yang marah-marah pada hoax juga ada.

Kemarahannya ditulis di Facebook, lantas dibumbui dengan komentar ciamik oleh sang profesor. Sungguh lintas pemikiran, bukti bahwa di Indonesia telah terjadi pemerataan nan paripurna, bahkan sampai pada level isi otak.

Salah satu yang ngehits di negeri yang katanya Zamrud Khatulistiwa ini adalah standar ganda. Katanya standar ganda itu adalah membolehkan kegiatan sejenis di kota A, namun melarangnya di kota B. Saya agak bingung kala sebagian orang menyebut tentang standar ganda tersebut. Bagi saya kok tidak demikian.

Tukang parkir minimarket yang bisa nongol tanpa diduga saja paham bahwa standar ganda adalah tipe parkir paling asyik. Maka setelah berkontemplasi dengan bergoyang Maumere, saya sadar bahwa sebenarnya pertanyaan Pilatus tadi sungguh relevan dengan urusan standar.

Setelah berdiskusi dengan mamang parkir yang sedang menghisap kretek, saya kemudian sampai pada kesimpulan untuk menjawab pertanyaan Pilatus. Kebenaran masa kini rupanya adalah standar samping dan kunci stang pada sepeda motor.

Mengapa?

Dengan semakin padatnya dunia ini dengan manusia – yang sebagian di antaranya tukang nyinyir kayak tulisan ini – maka tanah menjadi semakin berharga, termasuk tempat parkir.

Cobalah parkir sepeda motor dalam posisi miring, kemudian kunci stang, layaknya parkir kebanyakan sepeda motor di dunia ini, niscaya akan sulit dipindahkan maupun digeser sekalipun. Butuh gesekan maupun angkat ban depan, jika memang benar-benar perlu dipindahkan.

Hal itu kiranya sama dengan kebenaran yang kekinian. Seorang bergelar S2 bisa dengan mudah membagikan berita dengan foto korban kebakaran di Afrika yang diberi caption korban Rohingya. Tanpa peduli gelar yang disandangnya, foto dan berita itu menjadi satu paket kebenaran. Mau diklarifikasi dengan sumber lain manapun, tetap sulit.

Satu dua kali saya diblok di Facebook, karena mengingatkan seorang kakak kelas untuk tidak menyebar hoax. Ini menjadi bukti nyata bahwa semakin ke sini, pemikiran opung Nietzsche tentang kehendak dasar manusia semakin kelihatan benar. Facebook saya, kuasa saya.

Orang yang mencoba memberikan kebenaran dalam bentuk klarifikasi, namun ternyata tidak sesuai selera, adalah orang yang tidak benar. Secara prinsip, hal itu sama dengan sepeda motor yang diparkir standar samping dan stangnya dikunci.

Jika motor itu hendak dipindah, susahnya bukan main. Kalau dikasih tahu, ngeyelnya minta ampun. Kalaupun dipindah juga nggak akan tepat-tepat benar posisinya. Rawan gesekan pula karena arah di stang terbatas. Proses klarifikasi kebenaran yang sesuai selera juga sulit dan rawan gesekan.

Mengingat selera orang berbeda-beda, sudah jelas bahwa kebenaran setiap orang akan berbeda pula, dan bisa saja dianggap mengganggu oleh tetangga sebelah.

Semisal parkir sepeda motor. Kiri dan kanannya sudah standar ganda – yang di tengah itu – lantas muncul sepeda motor masuk begitu saja untuk diparkir miring. Ada probabilitas dia akan mengganggu sepeda motor di sebelah kirinya, jika hendak keluar.

Kebenaran sesuai selera pada prinsipnya juga mengganggu yang lain. Kalau tidak mengganggu, tidak akan ada status di Facebook yang bilang unfollow ataupun unfriend karena terlalu sering bersikap provokatif.

Kebenaran kekinian lah yang membentuk jurang pemisah itu. Hanya butuh waktu tujuh tahun lebih sedikit sejak benda bernama Facebook nongol di hadapan kita. Bahwa kebenaran masa kini itu sifatnya saling mengganggu.

Kebenaran menurut teman yang seleranya beda dengan saya adalah gangguan. Mirip sepeda motor yang parkir dengan standar samping dan kunci stang, yang merusuhi posisi parkir saya yang sudah enak dan rapi. Begitu juga sebaliknya.

Satu hal lagi yang cocok antara parkir standar samping dan kunci stang dengan kebenaran masa kini. Cobalah parkir di halaman yang cukup luas dengan standar samping dan stang dikunci, lantas dorong maju sepeda motor itu. Mau didorong sampai lebaran kuda sekalipun, sepeda motor itu hanya akan berputar di situ-situ saja.

Perdebatan tentang kebenaran kekinian yang sesuai preferensi masing-masing itu juga sama, akan di situ-situ saja. Perbedaan pendapat tidak akan bertemu, justru semakin meruncing dengan dukungan data yang terus menerus diperbarui, baik itu berita beneran maupun hoax. Tidak akan ada yang mengalah.

Faktanya, yang mengalah untuk mundur teratur dari dunia maya adalah kaum netral yang kelelahan berada dalam deru debu perdebatan antar selera nan tiada ujung itu. Tahu sendiri, menjadi netral di era kebenaran kekinian itu adalah hina.

Meskipun jejak digital itu kejam, namun berita-berita yang satu selera tetap dibagi sekadar untuk menegaskan preferensi maupun memang sengaja untuk jadi bahan adu selera yang lantas dibungkus menjadi adu kebenaran.

Klarifikasi maupun sanggahan orang lain pada kebenaran yang kita buat di status Facebook kan tinggal diabaikan. Kalau keliru benar, tinggal minta maaf dalam sebuah status dan jangan lupa tambahkan kata ‘tapi’. Minta maaf boleh, tapi kebenaran yang kita sampaikan tetaplah sebuah kebenaran, sebab itu menyangkut selera.

Maka benarlah yang dikatakan oleh Dumbledore. “Kebenaran adalah hal yang indah dan mengerikan, dan karenanya harus diperlakukan dengan sangat hati-hati.” Menyoal sepeda motor yang parkir dengan standar samping dan kunci stang, saya hakul yakin bahwa para tukang parkir satu selera dengan Dumbledore.