Yang Terlewatkan dari Om Santa dan Om Telolet Om
CEPIKA-CEPIKI

Yang Terlewatkan dari Om Santa dan Om Telolet Om

bestwallpaperhd.com

Beberapa hari menjelang Natal kemarin, bukan Jokowi saja yang galau, karena diserbu netizen dengan tagar #JokowiTakutFPI. Santa Claus di Kutub Utara sana pun gelisah mengetahui Indonesia kembali masuk daftar negara yang harus disinggahi.

Tentu bukan karena takut di-sweeping ormas gara-gara pakaian dan atributnya. Toh, semua itu cuma bisa-bisanya produsen salah satu minuman bersoda saja untuk mendongkrak penjualan akhir tahun. Makanya warnanya gitu, merah-putih kayak warna kemasan produk mereka.

Seandainya dulu yang punya inisiatif seperti itu adalah perusahaan milik Om Jaya Suprana, niscaya atribut dan pakaian Om Santa warnanya kuning dan ada ayam jagonya. Kebayang gak sih kalau baju Om Santa warnanya kuning? Masih mendinglah warnanya merah-putih. Jadi kan Ibu Ani bisa ngeles…

Lagipula Om Santa gak perlu takut, toh razianya di mal-mal dan pusat perbelanjaan. Ngapain juga Om Santa Natalan di mal? Nyari diskonan? Si Om seharusnya ada di tengah-tengah kaum papa, membahagiakan anak-anak yang bukan hanya baik, tapi juga sengsara dan teraniaya. Anak-anak yang kehilangan tempat tinggalnya karena bencana alam, gempa, dan sebagainya.

Om Santa juga kudu hadir di antara anak-anak yang rumah orangtuanya digusur semena-mena oleh pemerintah. Anak-anak yang ketika orangtuanya beribadah dilempari bom molotov. Termasuk anak-anak yang kurang perhatian dan kasih sayang, karena orangtuanya sibuk berdebat soal pilkada dan agama di media sosial.

Gokil!

Itu satire apa khotbah akhir tahun?

Serius, Om Santa bukan takut sweeping ormas atau takut kepanasan karena harus pakai mantel tebal di negara yang berada tepat di garis khatulistiwa. Denger-denger sih, Si Om justru sedang pusing memikirkan kereta tuanya yang sudah old school, sudah so yesterday banget. Dari dulu cuma kereta salju yang ditarik delapan rusa kutub.

Sudah, ‘delapan rusa kutub’ itu gak usah dicocok-cocokin sama apa-apa. Kalau ngomongin angka kok mesti dicari-cari padanannya. Tapi angka delapan itu memang istimewa sih, bentuknya dua lingkaran yang gak terputus. Kalau dimistik, 8 itu 3, berarti Om Santa mendukung calon nomor urut 3. Eh tapi itu mistik lama, kalau mistik baru, 8 itu 0, berarti netral.

Lha kok malah jadi mbahas togel campur pilkada?

Kembali ke Om Santa dan keretanya, yang bikin beliau galau itu adalah tren ‘Om Telolet Om’. Tren itu bukan cuma terdengar sampai Amerika dan Madrid – sampai ke telinga Obama, Donald Trump, dan Cristiano Ronaldo saja – tapi juga sampai Kutub Utara dan mampir di kuping Om Santa. Kalau gak pasang telolet kok ya gak update, kalau dipasang kok ya keretanya jadi kayak bus AKAP.

Memang sih, kebahagiaan anak-anak Indonesia itu sederhana. Bahkan seandainya Om Santa gak ngasih hadiah, asalkan beliau bisa ngasih telolet, mereka sudah senang kok. Bahagianya ngalah-ngalahin anggota DPRD yang anggaran buat tunjangan sopirnya disetujui Plt Gubernur.

Tapi masak iya kereta Si Om mau dipasangi telolet? Terus tulisan Efisiensi-nya mau ditempel di sebelah mana?

Lagipula, kalau Om Santa sampai ngasih telolet, kan bangun semua orang satu kampung. Ini kan tidak sesuai dengan misinya yang senyap dan rahasia, yang dulu bahkan dilakukannya dengan menyelinap lewat cerobong asap.

Om Santa kan kerjanya diam-diam. Diam-diam mendatangi gereja yang dilempar bom molotov, lalu membersihkan sisa-sisa kerusakannya. Diam-diam membantu menyeberangkan – bahkan menjaga dan memastikan ibadah saudaranya aman – walaupun berbeda agama. Tugas Om Santa cuma membahagiakan anak-anak saat malam Natal, tidak peduli dia harus nyamar jadi apa.

Tsahh…

Itu satire apa khotbahhh lagiii…!

Oh ya, masih denger-denger ini, ada info lain yang menyebut kalau Om Santa memutuskan untuk datang ke Indonesia dan membagikan hadiah dengan menggunakan jasa pesawat komersial. Takut keretanya malah kena macet dan ditilang polisi kalau nekat pakai jalur busway.

Kalau berantem sama polisi nanti malah di-bully di media sosial. Memang sih minta maaf bisa menyelesaikan persoalan, tapi masak Om Santa minta maaf?

Eh tapi pesawat komersial di Indonesia kan terkenal sama delay-nya. Ini tentu saja membahayakan jadwal Si Om. Ditambah lagi pesawat salah satu maskapai justru tergelincir di Semarang pas Natal kemarin.

Waktu stafnya dengan bercanda bilang bahwa pesawat itu tergelincir karena nama maskapainya mirip sama nama produsen sabun cuci, Om Santa dengan serius balik nanya, “Kenapa mereka gak pakai sabun sirih aja sih?”

Tapi kembali ke media sosial, salah satu yang juga tidak luput dari perhatian Om Santa di media sosial adalah tagar #TerimaKasihMzKokok. Ini memang tagar dan tren lama, tapi harus dimaklumi, Om Santa cuma bekerja setahun sekali. Dan, alangkah berdosanya kalau sampai mengabaikan kebaikan orang yang sudah diberi ucapan terima kasih dari begitu banyak orang.

Saya yakin Om Santa sudah tahu siapa Mz Kokok itu, tapi justru itulah yang membuatnya kembali galau. Masalahnya sekarang, siapa yang mau ngasih hadiah ke siapa? Om Santa ngasih hadiah ke Mas Kokok Dirgantoro? Mau ditaruh di mana muka horang kaya Indonesia? Yang ada malah Om Santa yang pulang ke Kutub Utara dengan bergelimang harta.

Dan hadiah dari Mas Kokok, kita semua tahu, tidak pernah main-main. Waktu saya tanya redaktur Voxpop, Jauhari Mahardika, soal CEO-nya – kebaikan hatinya dan hadiah-hadiahnya – jawabannya singkat, tegas, padat merayap, “Alphard, 2016, Mas. 2017, nambah Rubicon.”

Nambah lho ini, bukan Alphard diganti Rubicon, tapi Alphard ditambah Rubicon.

Tentu bukan masalah bisa atau tidak mengendarai Alphard atau Rubicon, atau mengendarai keduanya secara bersamaan (ingat, Om Santa sudah berpengalaman mengendalikan delapan rusa kutub), yang membuat Om Santa galau. Masalahnya, kalau pakai Rubicon, bagaimana Si Om akan menjawab pertanyaan orang banyak di kemudian hari:

“Situ Santa apa ketua ormas?”