Yang Terhormat Bapak Pejabat, Tuan Sigit Purnomo

Yang Terhormat Bapak Pejabat, Tuan Sigit Purnomo

liputan6.com

Selamat untuk bapak Sigit Purnomo yang sudah mulai menjalankan tugasnya dengan baik sebagai wakil walikota Palu. Wah, sekarang bapak sudah jadi pejabat. Itu kenapa saya panggil nama asli bapak, Sigit Purnomo.

Pak Sigit jangan seperti Ahok. Sudah bagus-bagus nama asli Basuki Tjahaja Purnama, tapi mau dipanggil Ahok. Pak Ahok orangnya emang begitu. Lagipula, itu orang kan gubernur DKI Jakarta, daerah khusus ibukota. Namanya daerah khusus, mau-maunya si engkoh ajalah.

Jadi lupakan Pasha ‘Unyu’ ‘Ungu’, karena itu hanyalah nama beken di panggung. Sekarang pak Sigit bukan di panggung lagi, tapi di teras pemerintahan. Kalau ada pegawai Pemkot Palu yang panggil bapak, “Pak Pasha… Pak Pasha…”, bapak jangan nengok. Kalau perlu marahin, “Saya ini pejabat, bukan artis lagi!”

Pak Sigit seharusnya nggak perlu malu, karena banyak peserta apel kesadaran yang tertawa saat bapak memasuki mimbar upacara. Mereka itu tertawa gembira, karena baru pertama kali melihat wajah pak Sigit secara langsung. Mungkin para peserta belum sadar kalau bapak sudah jadi pejabat. Namanya juga apel kesadaran.

Jadi bapak jangan baper dan teriak-teriak pakai mikrofon. Sadar pak, bapak bukan penyanyi lagi yang teriak-teriak di panggung. Bapak lupa ya, bapak ini sudah jadi pejabat.

Seorang pejabat itu harus menjunjung tinggi budaya feodal. Harus menjaga jarak antara dia dan rakyatnya. Pejabat harus dilayani, bukan melayani. Pejabat harus tampil sebagai sosok yang menakutkan. Bukan begitu pak Pasha? Eh, maaf, pak Sigit.

Buktinya bapak memerintahkan Polisi Pamong Praja untuk memeriksa siapa saja peserta apel yang menertawakan bapak. Kalau orang sudah punya kekuasaan memang begitu, cenderung represif. Itu baru sama anak buah, bagaimana dengan pedagang kaki lima? Pengamen jalanan? Pengemis? Pekerja seks komersial (PSK)?

Untung si ajudan nggak diomelin. Kurang ajar betul dia. Berani-beraninya membisiki pak Sigit, karena beliau salah menjawab laporan komandan upacara. Saat upacara siap dilaksanakan, pak Sigit malah menjawab, “Laksanakan!”, padahal seharusnya “Lanjutkan!”. Kalau saya sih jujur nggak tahu soal protokoler upacara. Tapi saya kan bukan pejabat.

Andaikata saya jadi pejabat seperti pak Sigit, saya akan santai saja kalau ditertawakan. Kalau perlu menertawakan diri sendiri. Lho, kok begitu? Memang agak susah sih menertawakan diri sendiri. Apalagi kalau kita punya gengsi segede Gunung Rinjani.

Untuk yang satu itu, saya teringat beberapa esai yang ditulis Etgar Keret, salah satu penulis unik dengan gaya tulisan yang cenderung mengolok-olok diri sendiri. Konon, orang-orang yang berani menertawakan diri sendirilah yang akan memiliki rasa aman tingkat tinggi dalam dirinya.

Banyak orang yang menjadi stres, karena hidup mereka dikendalikan oleh pendapat atau pandangan orang lain. Takut orang ngomongin jelek-jelek tentang dirinya, takut ditertawakan, takut dicibir. Hidupnya jadi penuh ketakutan.

Saya masih terbayang kisah pak Joko Widodo (Jokowi) saat baru menjadi walikota Solo. Jokowi juga sempat ditertawakan peserta apel. Jadi ceritanya Jokowi diminta untuk memimpin upacara. Beliau sempat kebingungan. Kemudian dipanggil ajudannya untuk mengajari. Ajudan pun mengajarinya.

Pertama, kalau komandan upacara mengatakan upacara siap dilaksanakan, jawab saja lanjutkan, kata si ajudan. “Ooh gampang,” sahut Jokowi. Kedua, lanjut si Ajudan, kalau komandan upacara nanti hormat, bapak hormat juga. “Ooh gampang,” jawab Jokowi.

Kemudian, ketiga, kalau komandan upacara melaporkan bahwa upacara sudah selesai, jawabnya bubarkan. “Ooh gampang,” kata Jokowi lagi. Nah, saat apel dilakukan, baru ketahuan kalau ternyata ada yang tidak diajarkan oleh ajudannya, yakni soal kelanjutan dari hormat.

Saat komandan upacara memberi instruksi hormat gerak kepada peserta, Jokowi pun ikut hormat. Namun, ia bingung kenapa tangan komandan upacara tidak turun-turun?

Semenit, dua menit, tiga menit, orang-orang sudah ada yang tertawa. Komandan upacara sudah gerak-gerak tangan ngasih kode minta Jokowi segera menurunkan tangan. “Waaduuuh…. keleru saya ini,” ujar Jokowi sambil tertawa. Setelah beliau menurunkan tangan, semua peserta upacara tertawa.

Toh, biar ditertawakan atau bahkan menertawakan diri sendiri, Jokowi bisa jadi Presiden beberapa tahun kemudian. Oh ya, ngomong-ngomong, Presiden itu pejabat bukan ya? Kalau pak Sigit kan sudah barang tentu pejabat. Sudah jelas? Jelas? Jelas?!

Foto: liputan6.com