Yang Saya Alami setelah Memutuskan Pakai Kerudung Lebar

Yang Saya Alami setelah Memutuskan Pakai Kerudung Lebar

Ilustrasi (kabarmakkah.com)

Saya pernah menemui sebuah toko baju yang punya slogan you are what you wear. Dan, sebagai orang yang sudah biasa ketemu teman yang dandanannya amburadul namun ternyata berotak cemerlang dan berhati sutra, saya sangat nggak setuju dengan slogan itu.

Namun ternyata, saya harus kembali sadar diri bahwa orang lain berhak berpikiran lain dengan saya, termasuk dalam mempercayai slogan toko baju itu. Saya harus kembali membuka mata bahwa masih banyak manusia di bumi ini yang masih menilai seseorang dari pakaian yang dikenakan.

Masih banyak manusia yang justru mengkhususkan atribut yang harusnya bersifat umum dan boleh dipakai siapapun untuk segolongan orang tertentu. Setidaknya ini saya buktikan dari beberapa kejadian yang saya alami akhir-akhir ini.

Kejadian 1

Waktu itu, ketika saya naik angkot dan melewati sebuah perempatan, ada sekelompok ikhwan bercelana cingkrang dan akhwat berkerudung lebar yang tengah mengibarkan bendera dengan latar warna hitam sedang melakukan orasi bertemakan kenaikan harga BBM, surat kendaraan, dan mungkin juga cabai.

Karena saya juga berkerudung lebar, saya memanfaatkan momen itu untuk memperhatikan kerudung mbak-mbak yang lagi semangat itu. Siapa tahu, ada salah satu model kerudungnya yang bisa ditiru, kan lumayan untuk referensi kerudung baru. Hingga akhirnya, seorang penumpang membuyarkan pengamatan saya dengan pertanyaannya.

“Loh mbak, nggak ikut demo juga? Kan kerudungnya mbak sama kayak mereka.”

Saya yang nggak siap ditanyain cuma bisa nyengir sambil mbatin, “Owalah bu, mbok ya jangan jangan nganggep yang berkerudung lebar itu hanya kelompok mereka toh, kan saya yang nggak paham blas tentang konsep khilafah ini jadi sungkan.”

Tapi that’s all, saya cuma mbatin dan nggak lebih.

Kejadian 2

Suatu ketika saya berkunjung ke pesantren tempat saya dulu belajar, tentunya dengan kerudung lebar yang memang baru saya pakai beberapa bulan ini. Sebagai alumni yang baik dan beradab, saya menyapa setiap santri yang saya temui sambil obral senyum tulus tanpa sedikitpun bumbu modus.

Tiba-tiba seorang adik kelas menyalami saya sambil ngomong, “Peehh… Kudungmu kok maleh gede mbak, tapi tetep NU toh?”

“Iyo lah,” jawab saya sekenanya dan sambil mbatin yang kira-kira isinya begini, “Oalah dek, mbok kira orang NU nggak ada yang berkerudung lebar? Lha wong yang pake cadar juga banyak kok. Dolanmu kayaknya emang kurang jauh, dek.”

Kejadian di atas memang tampak sederhana, namun ternyata merasuki pikiran saya juga setelahnya. Apalagi setelah beberapa pesan singkat masuk dengan komentar yang mirip cerita di atas gara-gara saya pasang foto sedang berkerudung lebar.

Ini tentunya bukan karena saya takut dibilang berpaling dari NU dan hijrah menuju organisasi harokah yang lain, serius bukan. Lha wong kalau mau ngotot ngaku NU saya juga nggak punya bukti, semisal kartu anggota dan sebagainya. Mau bermodal hafalan tahlil, organisasi sebelah juga belakangan sudah mulai mau tahlilan.

Ini hanya tentang keprihatinan saya tentang pikiran manusia-manusia yang mengkhususkan atribut tertentu – yang dalam hal ini kerudung lebar – seakan hanya milik organisasi tertentu. Padahal kan ya jelas, Islam itu memerintahkan berjilbab. Tanpa embel-embel kalau kelompok satu jilbabnya harus lebar, kelompok dua secukupnya saja, dan kelompok ketiga boleh diputer-puter sedemikian rupa.

Belum lagi, kalau yang nanya pake nada nyinyir, seolah-olah organisasi yang memang mewajibkan wanitanya berjilbab lebar itu Islamnya nggak lebih baik dari dirinya. Malah gak jelas kan?

Kita sudahi saja prasangka-prasangka nggak penting yang selama ini telah menyibukkan hati dan pikiran kita. Memeluk Islam tanpa merasa paling benar. Memeluk Islam tanpa rasisme pada tubuh sendiri. Dan, saling menutupi kekurangan tanpa merasa diri paling baik dengan melek pada kebaikan yang ada pada orang lain.

Kalau yang berkerudung lebar selalu dianggap identik dengan kelompok tertentu – yang dianggap kurang baik – kan ya kasihan manusia-manusia seperti saya ini. Sudah berniat mencontoh kebaikan, lha kok malah dapat komentar-komentar yang dibumbui kecurigaan.

Memang kerudung lebar milik siapa?

  • Ikrom Zayn

    jadi baik sekarang itu butuh perjuangan ekstra mbak
    semoga tetap istiqomah dengan kerudung lebarnya. insha Allah barokah

  • aku masih termasuk golongan kerudung kurang lebar hehe

    • aan faqot

      insyaAlloh seiring waktu nanti juga bisa pake kerudung lebar..