Yang Memuaskan dan Mengecewakan dari Warkop DKI Reborn

Yang Memuaskan dan Mengecewakan dari Warkop DKI Reborn

indosinema.com

Kita ini bangsa yang gagal move on secara paripurna. Sudahlah akui saja. Diam-diam baper masa lalu itu juga hak segala bangsa. Asalkan itu bikin bahagia, pacarmu kita bisa apa?

Salah satu fenomena kekinian yang bikin gagal move on adalah film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1. Buktinya, baru tujuh hari penayangan, jumlah penontonnya sudah mencapai 3,16 juta. Sekadar info, film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC 2) saja butuh waktu 14 hari untuk menembus 3 juta penonton.

Warkop DKI Reborn bisa dibilang sukses ‘melahirkan kembali’ sosok-sosok yang dirindukan masyarakat Indonesia. Mereka – tak lain dan tak bukan – adalah Dono, Kasino, dan Indro (yang masih kurus). Suka atau tidak, mereka adalah ‘kiblat’ dunia perkomedian di republik ini. Kalau nggak percaya, silakan tanya kepada guru spiritual kalian masing-masing.

Saya sendiri sudah menyaksikan bagaimana film garapan sutradara Anggy Umbara itu memuaskan kerinduan masyarakat. Tapi ada juga beberapa hal yang mengecewakan. Berikut ini saya urai dulu faktor-faktor yang bikin kita bahagia, bila menonton film Warkop DKI Reborn:

1. Pemilihan Aktor

Tim casting pemain patut mendapat apresiasi, karena bisa dikatakan bahwa mereka tidak salah memilih aktor-aktor pemeran pengganti Dono, Kasino, dan Indro (DKI). Mulai dari penampakan fisik, logat, dan lawakan khas Warkop DKI mampu diperankan secara baik.

Dalam film yang diproduksi Falcon Pictures ini, Katondio Bayumitra Wedya Abimana Aryasatya berperan sebagai Dono, Vino G Bastian sebagai Kasino, dan Tora Sudiro sebagai Indro. Awalnya, keterlibatan Abimana dan Vino sempat diragukan, karena minim pengalaman main di film komedi. Tapi, mereka mampu memuaskan penonton, terutama yang nge-fans sama almarhum Dono dan Kasino.

2. Adegan Legendaris dan Kekinian

Film yang kurang lebih berdurasi 1,5 jam itu juga masih tetap menampilkan adegan-adegan khas film Warkop DKI selama ini. Contohnya adegan nyemplung ke kali, terpental akibat tabrakan, dan pengulangan terhadap adegan-adegan legendaris dalam beberapa film lama Warkop lainnya.

Hal yang istimewa dalam film ini tentunya melihat bagaimana tim produksi ‘berdamai’ dengan kondisi kekinian. Mereka tidak memaksakan diri menjiplak adegan-adegan lama secara persis, melainkan lebih disesuaikan dengan kondisi sekarang.

Kita sama-sama tahu bahwa Jakarta yang sekarang bukan lagi Jakarta pada era film Warkop ‘CHIPS’, dimana ketika itu jalanan masih lengang. Mereka juga dapat menyesuaikan diri dengan kehadiran jalur Trans Jakarta dan fenomena ibu-ibu naik motor matik tak berhelm sambil lawan arus.

Fenomena itu tentunya belum ada pada era tahun 80-an. Bagi saya, penempatan adegan-adegan lama yang disesuaikan dengan situasi kekinian tersebut telah dieksekusi dengan cukup baik. Kalau adegan-adegan lama dengan mantanmu, bagaimana?

3. Dialog dan ‘Nyanyian Kode’

Selain dari adegan-adegannya yang mengocok perut, hal lain yang membuat Warkop DKI menjadi istimewa adalah dialog-dialog legendarisnya yang menjadi tren bahkan lestari hingga hari ini. Dalam film tersebut, dialog-dialog yang dihadirkan kembali, salah satunya, “Gile lu, Ndro!”

Tak ketinggalan, celetukan semacam “Namanya juga usaha” dan pastinya “Jangkrik Boss!” Sumpah serapah Kasino terhadap Dono yang melibatkan nama-nama penghuni Jurassic Park pun mengalir dengan alami tanpa adanya sensor. Semisal, “Dasar monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus. Kirik.”

Dan, jangan lupakan lagu ‘Nyanyian Kode’. Walaupun cara Vino membawakan lagu ini tidak sekonyol Kasino, tetapi cukup membuat saya dan orang-orang di bioskop tertawa terpingkal-pingkal. Namun, biar pun lagu ini sangat legendaris, jangan pernah gunakan lagu ini untuk kasih kode keras ke gebetan. Bukannya tambah deket, yang ada malah kabur, terus nikah sama orang lain, eh?

4. Kritis Menyentil

Sosok Dono, Kasino, dan Indro yang kritis dan menyentil pemerintah dalam lawakannya juga tidak hilang. Sebuah hal yang sangat dirindukan dari film-film bergenre komedi di Tanah Air, bukan? Bagi saya, ini adalah hal yang paling istimewa. Menertawakan mereka yang katanya mewakili wong cilik, tetapi nyatanya malah berpihak kepada wong gendeng. Eh, maaf… Sekadar suara rakyat kecil, bukannya mau usil.

5. Warkop Angels!

Yang tak kalah ditunggu-tunggu adalah ‘Warkop Angels’. Tampak sosok-sosok, seperti Hannah Al Rasyid, Nikita Mirzani, dan beberapa wanita ayu nan semlohay lainnya ikut memaniskan film Warkop DKI Reborn. Kalau dulu, siapa tak kenal barisan Eva Arnaz, Meriam Bellina, Kiki Fatmala, dan Nurul Arifin?

Dalam film Warkop DKI Reborn, porsi scene ‘Warkop Angels’ lebih terlihat pas. Kemunculan mereka tidak malah bikin basah merusak unsur komedi, justru semakin mengentalkan lawakan. Ya meski ada yang sigap ‘melindungi’ suaminya saat berfoto dengan Nikita Mirzani. Bukan begitu, bu Atalia?

6. Footage

Satu lagi bocoran untuk kalian. Kita tahu bahwa film-film Amerika produksi Walt Disney dan Pixar adalah contoh film-film yang memaksa kita untuk stay di kursi bioskop, walaupun filmnya sudah selesai. Sebab, credit scene atau footage-nya tak boleh dilewatkan.

Begitu juga dengan film Warkop DKI Reborn. Jangan cepat-cepat keluar dari bioskop ketika lampu sudah menyala, karena momen-momen lucu nan berharga masih hadir pada bagian footage. Kecuali, anda memang sudah kebelet mau ke toilet atau ditinggal gebetan.

Namun, dari beberapa hal yang memuaskan itu, film Warkop DKI Reborn juga tak lepas dari kekurangan-kekurangan. Berikut adalah beberapa kekurangan yang membuat ‘kelahiran kembali’ Warkop DKI menjadi sedikit mengecewakan:

1. Teknologi

Film Indonesia terus berkembang dari masa ke masa. Beberapa eksperimen kerap dilakukan, namun teknologi bak pisau bermata dua. Adegan-adegan film Warkop yang diformulasikan dengan teknologi modern kekinian, memang membuat eksekusinya menjadi lebih mulus.

Sebagian besar dialog dalam film sudah tidak di-dubbing lagi, karena zaman sekarang sudah ada microphone yang dapat merekam suara aktor dengan jelas saat syuting. Penggunaan sling juga dimanfaatkan dengan lebih baik, serta sound effect atau backsound yang lebih variatif.

Namun, dalam beberapa adegan yang menggunakan teknologi CGI itu, saya merasa adegan-adegan tersebut justru membuat Warkop terkesan berubah menjadi film komedi Sci-Fi. Bagi saya agak kurang pas, karena selama ini lawakan dan adegan-adegan Warkop terkenal dekat dengan fenomena riil di masyarakat.

2. Properti Dono Agak Berlebihan

Menurut saya agak berlebihan menjadikan Abimana sebagai sosok Dono yang gemuk. Saya rasa cukuplah gaya rambut dan gigi palsu yang perlu ditambahkan pada dirinya untuk bisa mengenali bahwa Abimana adalah seorang Dono. Perut gemuk Abimana, yang tentunya bukan perut asli, malah terkesan mengganggu karena masih kelihatan palsunya.

Ya kembali lagi, bahwa secara keseluruhan, tidak peduli secanggih apapun teknologi yang digunakan untuk kembali menghadirkan Warkop DKI, yang pasti film-film lama Warkop DKI yang asli tetap paling membekas di hati. Seperti halnya yang dikatakan oleh Indro, sang legenda hidup, “Tidak ada niat untuk menggantikan Warkop, melainkan hanya melestarikan.”

Bagaimana pun, usaha melestarikan Warkop DKI pastinya menuai pro dan kontra. Dalam sebuah kesempatan wawancara mengenai film ini, pakde Indro pernah melontarkan sebuah pertanyaan balik perihal tersebut ke publik, “Apakah kalian akan memutar film lama terus-terusan?”

Ah pakde, kalau aku sih, “Iyes…” Tak perlu sedu sedan seperti itu, pakde… Tapi kalau mau bereksperimen seperti halnya film Warkop DKI Reborn, ya monggo. Jangkrik, boss..!