Yang Membingungkan dan Menyebalkan dari Hipster Kekinian

Yang Membingungkan dan Menyebalkan dari Hipster Kekinian

deviantart.com

“Nggak suka baca buku. Nggak suka sama teori-teori!” tulis seorang hipster bernama Hani di profil akun instagramnya. Tulisan itu membuat saya jengah. Sebagai seorang sarjana sastra yang sangat mencintai sastra, kata-kata itu jelas sangat mengusik.

Apa iya hal seperti itu patut dibanggakan? Mendadak saya merasa muak. Rasa kagum saya terhadap Hani yang memiliki fisik menggemaskan bak Natalie Portman di film ‘Leon The Professional’ langsung musnah saat itu juga.

Sembari menyulut rokok dan menyesap kopi hitam dari cangkir, saya merenung. Sayup-sayup Nocturne No 2 in E Flat dari Chopin mengalun lembut, menggiring saya tenggelam dalam pusaran waktu, jauh ke beberapa tahun yang lalu. Masa-masa ketika saya masih menghabiskan waktu kosong perkuliahan dengan membaca karya Haruki Murakami di kantin kampus.

Saat itu, salah seorang teman saya menghembuskan sesuatu. “Ini baru anak sastra. Baca buku kerjaannya,” ujar Erdian, salah satu teman seangkatan saya. Entah perkataannya itu tulus atau sarkastis, saya tidak begitu peduli.

Mendengar itu, saya hanya bisa melengos dan tersenyum kecut. Bukan karena sombong, tapi saya sedang larut-larutnya membaca. Menurut saya, membaca buku itu seperti meditasi. Tidak bisa diganggu gugat. Saya tidak peduli kalau ada orang-orang yang tidak suka dengan kebutuhan saya yang satu itu.

Saya tidak peduli menjadi teralienasi dengan keadaan sekitar. Saya membaca, karena saya haus pengetahuan. Saya kepo dengan segala sesuatu. Untuk itu, saya harus membaca. Kalau tidak. Saya bisa gila. Lagipula, sebagai penulis, membaca itu adalah kebutuhan primer. Penulis yang tidak membaca sama saja dengan serdadu perang yang tidak mempunyai senjata.

Tidak, tidak. Semua orang itu harus membaca. Terutama untuk generasi-generasi muda. “Gue sebenarnya pengen banget mas bisa suka baca buku kayak lo, tapi kok susah ya,” tambah Erdian.

Ini ironis. Saat sebagian teman saya yang notabene adalah mahasiswa fakultas sastra ingin suka membaca (kabar yang saya dengar terakhir sih banyak junior saya yang tadinya tidak suka membaca, jadi suka membaca), Hani dengan bangganya malah pamer ketidaksukaannya membaca. Apa begini tingkah setiap hipster zaman sekarang? Bangga dengan kekerdilannya sebagai manusia?

Dalam puisi terkenal sekaligus kontroversial yang berjudul ‘Howl’, Allen Ginsberg sempat menyinggung fenomena hipster tersebut dalam bait puisinya yang berbunyi, “I saw the best minds of my generations destroyed by madness, starving hysterical naked. Dragging themselves through the negro street at dawn looking for an angry fix. Angel headed hipsters burning for the ancient heavenly connection to the starry dynamo in the machinery of night”.

Dalam penggalan puisi di atas, yang menurut kajian “sok tahu saya” bisa diartikan bahwa “individu-individu” dari generasi tersebut telah menggila (menenggelamkan diri dalam alkohol, seks, dan obat-obatan), karena keadaan lingkungan pasca perang dunia ke-2 saat itu.

Para “individu-individu” kulit putih menengah ke atas itu menghabiskan waktunya di bar-bar Jazz Bebop kulit hitam, melampiaskan hasrat dan emosi mereka di sana dengan “mencoba” menolak arus nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang mereka anggap sudah umum, medioker, dan membelenggu. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya tindakan mereka. Mungkin itu memang cara mereka menunjukan eksistensinya.

Lalu, saya iseng kembali menengok postingan terbaru Instagram Hani. Dan, betapa terkejutnya saya ketika melihat kalau dia baru saja mem-posting sebuah foto tumpukan buku dengan caption “Imaginary Spot”. Apa-apaan sih ini?

Seorang manusia bernama Hani yang sebelumnya bangga dengan ketidaksukaannya membaca buku tiba-tiba menunjukan sesuatu yang berbanding terbalik. Kontradiktif sekali. Ini benar-benar membingungkan sekaligus menjengkelkan. Apa dia mencoba mencuri perhatian saya? Dasar hipster munafik.

Saya sama sekali tidak mencoba untuk pretensius. Saya juga tidak ingin memamerkan kesukaan saya dalam membaca dan menjelek-jelekkan Hani yang tidak suka membaca. Itu haknya untuk tidak suka membaca. Haknya untuk lebih menyukai belanja barang-barang ber-merk dan nongkrong di kafe-kafe mahal. Haknya untuk menjadi cyber-mannequin di jejaring sosial.

Di sini, saya hanya mencoba melampiaskan keresahan saya. Ini menyedihkan. Padahal wangi Hari Buku Nasional belum juga pudar sepenuhnya. Jadi ini hipster zaman sekarang? Jadi ini yang dilakukan mereka untuk menolak arus yang menurut mereka populer, tapi justru mencoba untuk menjadi gaul dan populer? Sungguh paradoks. Seketika puisi  dari Ginsberg menjadi relevan lagi di masa kini.

Ternyata selain Hani, ada juga beberapa remaja kekinian yang menjadikan buku atau sesuatu yang berbau intelektualitas lainnya justru sebagai ajang pamer. Beda dengan Hani yang dengan bangganya tidak suka membaca buku, “spesies” lainnya ini malah menjadikan hal-hal seperti itu sebagai senjata untuk membuat dirinya terlihat keren dan gaul.

Dalam film ‘Manhattan’ dan ‘Midnight In Paris’, Woody Allen menyebut mereka sebagai kaum pseudo-intellectual. Orang-orang seperti ini lumayan sering saya jumpai. Apakah pseudo-intellectual juga termasuk kaum hipster? Hmm, entahlah.

Salah satunya adalah teman saya yang bernama Helmi. Pada suatu kesempatan, Helmi dengan semangat menggebu-gebu memamerkan semua pengetahuannya tentang film Italia. Tapi begitu saya tanya apakah dia pernah menonton film ‘8½’ dari Federico Fellini, dia justru memberikan jawaban yang membuat saya ingin tertawa terbahak-bahak. “Itu film apa? Gue nontonnya film-film Italia yang terkenal, Dim. Kayak ‘The Great Beauty’.

What the shit? Padahal semua pencinta film Eropa pasti tahu siapa itu Federico Fellini. Dan, Paulo Sorrentino, sutradara dari film ‘The Great Beauty’ adalah penggemar film ‘8½’ dari Federico Fellini. Saya tidak bermaksud ingin memamerkan bahwa pengetahuan film saya itu ada di atas Helmi. Sama sekali tidak. Tapi itu sungguh absurd menurut saya.

Yang lebih menggelitik lagi, Helmi ini memproklamirkan dirinya sebagai penulis. Penulis, seperti yang saya sebutkan di atas, haruslah orang yang gemar membaca. Ketidaktahuan Helmi akan Federico Fellini itu saya yakini karena dia tidak mau memperluas referensi bacaannya.

Pada awal 1940-an, hipster adalah orang-orang kulit putih menengah ke atas yang menolak sesuatu yang mainstream. Salah satunya dengan mencintai musik Jazz Bebop yang dimainkan orang-orang kulit hitam. Saya jadi teringat dengan salah satu adegan film ‘On The Road’. Film karya Walter Salles yang diadaptasi dari novel karya Jack Kerouac. Saat itu, ada satu scene ketika Carlo (Allen Ginsberg) asyik menyenandungkan Don’t Explain dari Billie Holliday. Tidak mau kalah, Dean ikut menyanyikan salah satu tembang dari Slim Gailard. Keduanya sama-sama musisi Jazz kulit hitam.

Dean (Neal Cassidy) dan Carlo (Allen Ginsberg) memang bukan hipster. Mereka adalah anggota dari Beat Generation, penganut antikemapanan yang menolak mentah-mentah budaya materialisme, yang memang erat kaitannya dengan kaum hipster yang berasal golongan kaum kulit putih menengah ke atas. Saat orang-orang kelas menengah ke atas itu mencoba untuk berbeda dengan menipu diri mereka sendiri, Dean dan Carlo telah lama menyukai sesuatu yang tidak mainstream itu langsung dari lubuk hati mereka yang paling dalam.

Dalam hal ini, saya merasa seperti Dean dan Carlo. Sedangkan Hani dan Helmi adalah produk, refleksi, atau representasi dari apa yang dilakukan hipster dari masa ke masa. Saya jadi teringat dengan tiga macam respon manusia terhadap absurditas hidup dari Albert Camus, yaitu pengakuan terhadap absurditas hidup, loncatan iman, dan bunuh diri.

Mungkin Hani dan Helmi termasuk golongan yang pertama. Mengakui dan menerima absurditas hidup dengan melakukan hal yang absurd pula. Kalau selalu melihat orang-orang seperti Hani dan Helmi terus, lama kelamaan saya bisa melakukan yang nomor tiga. Absurd memang.

Saya sama sekali tidak membenci Hani, Helmi dan hipster yang lain. Saya kagum dengan kalian dan integritas yang kalian punya sebagai hipster. Sekali lagi itu hak kalian. Kita punya kebanggaan masing-masing. Saya dengan membaca, kalian dengan pamer foto OOTD lengkap dengan #BuatYangTau2Aja di Instagram. Jika kalian merasa butuh untuk melakukannya, maka lakukan saja apa yang membuat kalian senang. Asal jangan jadi pribadi yang hipokrit! Iya nggak, Han? Jangan ya. Cantik-cantik masak hipokrit.

Saya cuma ingin mengatakan kalau membaca buku itu adalah cara menghabiskan waktu paling bermanfaat yang pernah ada. Selain melatih sistem kerja otak kita, kita juga akan banyak mendapatkan infomasi, ide, pengetahuan dan ilmu yang banyak. Membuat kita jauh lebih kreatif dan kritis dalam memaknai sesuatu.

Nantinya kita bisa berbagi untuk sesama. Yah, tapi kalau menurut kalian membaca itu tidak penting, ya jangan dilakukan. Terserah kalian sajalah pokoknya. Saya hanya bisa memberi saran. Kalau sudut pandangnya di balik, bisa saja orang-orang di luar sana yang melihat saya sebagai hipster atau pseudo-intellectual? Atau, jangan-jangan saya memang seperti itu ya? Hmm…

Yang terakhir saya mau memberi pesan untuk Hani dan Helmi di mana pun kalian berada sekarang. Hmm, Hani. Kalau kamu baca artikel ini, ya kalau dimuat sama Voxpop juga sih, coba deh kamu baca sekali-kali. Tapi, karena kamu nggak suka baca, nggak mungkin juga kamu baca artikel ini, hahaha… Selamat ber-amsyong ria deh. Lo juga, Hel. Malu ah, lo anak sastra bacaanya 5 cm sama Ayat-Ayat Cinta mulu. Hidup hipster! Aauuuuu… *HOWLING

  • Hahaha tulisan yang menggelitik, tapi saya setuju dengan beberapa poin terutama poin tentang “Saya cuma ingin mengatakan kalau membaca buku itu adalah cara menghabiskan waktu paling bermanfaat yang pernah ada”. Kadang imajinasi terliar saya lahir dari membaca buku, rasanya aneh tapi nagih.

    Well budaya populer memang sangat menarik ya mas?

    • Dimas Agung Tri Permadi

      Hahaha ya begitulah bung martin.
      Suka lucu aja sih ngeliatnya jdnya haha