Yang Lebih Berbahaya dari ‘WannaCry’

Yang Lebih Berbahaya dari ‘WannaCry’

Ilustrasi (bbc.com)

Warga internet lagi-lagi heboh. Ada program jahat (ransomware) yang berbahaya. Namanya, WannaCry. Dalam terjemahan bebas artinya ‘mau nangis’. Yang belum kenalan, nama aslinya Wanna Decryptor. Medok disebut WanaCrypt0r 2.0.

WannaCry menyebar luas lewat jaringan internet global hingga ke 150 negara. Siapa yang nggak wanna cry coba, kalau semua data di komputer kita nggak bisa diakses gegara terinfeksi WannaCry. Koleksi video 3gp kamu mungkin selamat, sebab WannaCry kabarnya mengunci segala jenis format dokumen, seperti Word, Excel, PowerPoint, JPG, PDF, dan Photoshop.

Paling data-data berupa foto editan atau meme saja yang kena. Tapi buat apa foto editan atau meme disimpan di komputer? Bukannya harus disebarluaskan di media sosial – entah itu berisi fakta atau hoax? Kalau perlu penyebarannya lebih luas dari WannaCry. Pokoknya sebar dulu, fakta atau hoax urusan belakangan. Ya nggak?

Eh tapi, bagaimana kalau yang kena itu data-data berupa karya tulis kita? Misalnya, naskah artikel untuk Voxpop yang kita yakin pasti tembus. Naskah novel yang sedang dalam proses persetujuan penerbit. Skripsi yang belum selesai-selesai. Atau, format undangan pernikahan yang sudah deadline, sementara kita sudah kebelet kawin? Mau nangis kan?

Begitu kita buka komputer, yang sudah tersambung internet, muncul pop-up window yang berisi pesan bahwa data pemilik komputer telah dienkripsi.

Kemudian muncul permintaan tebusan, kalau ingin data bisa diakses kembali. Yawla, orang nyari duit kok segitunya ya?

Dulu, ada orang-orang menggunakan sms atau telepon yang bilang kalau kita dapat hadiah mobil atau undian. Lalu kita diarahkan menuju ATM dengan segala macam administrasi yang mesti dilunasi. Eh, nyatanya penipu. Lalu ada juga si mama yang minta pulsa, si papa yang minta saham, eh?

Tapi sekarang sudah canggih. Nggak perlu tipu-tipu undian berhadiah pakai sms atau telepon segala. Tinggal curi atau kunci data komputer saja. Sangat milenial sekali. Wanna cry rasanya membayar sejumlah uang tebusan yang setara Rp 4 juta supaya data-data bisa dikembalikan.

Di Indonesia sudah ada bukti betapa beringasnya WannaCry yang mengganggu pelayanan di rumah sakit. Sampai tulisan ini diketik, ce ilee, para ahli belum menemukan anti-virus atau solusi yang jitu-jitu amat untuk membuka data yang terenkripsi.

Ini harus jadi pelajaran bagi pengguna komputer untuk sering-sering update anti-virus dan sistem operasi komputer. Jangan malah keseringan update status provokasi di media sosial. Dunia sudah bicara perang siber, kita masih perang komentar.

Saya jadi membayangkan, bagaimana jadinya kalau WannaCry tak hanya mengunci data komputer, tapi juga otak manusia?

Horor rasanya ketika kita tak bisa mengakses otak sendiri. Semua ingatan hilang. Lupa nama, lupa ilmu, sampai lupa kenangan bersamamu, halahh… Yah, kalau cuma masa lalu yang pahit-pahit itu sih tak mengapa. Lumpuhkan ingatanku, kalau kata anak alay.

Terus kalau WannaCry itu hanya menyerang otak para rentenir atau debt collector, itu juga bagus-bagus saja. Semua ingatan bahwa kita sudah nunggak utang tiga bulan terhapus. Mungkin kalau yang ini lebih pas namanya: WannaLaugh. Hahaha…

Enaknya lagi, buat orang yang baru putus atau apes jadi korban PHP, kena virus WannaCry. Mendadak bisa langsung bahagia dan jadi gampang move on. Nggak perlu lagi kirim karangan bunga, balon, atau status tegar padahal syedih.

Nah, yang lebih bagusnya lagi, WannaCry menyerang otak manusia yang selalu berpikir rasis, seksis, fasis, dan bengis. Apalagi juga melumpuhkan otak orang-orang yang selalu berpikir manipulatif dan koruptif. Lho kok jadi bermanfaat ya?

Tapi ada juga yang negatif, kalau WannaCry menyerang otak manusia, terutama mereka yang pintar-pintar, seperti ilmuwan, guru, dan profesor. Eh tapi belakangan ada doktor dan profesor yang ikut nyebarin hoax. Jangan-jangan apa yang saya bayangkan benar-benar terjadi?

Belum lagi, hari-hari ini, banyak orang yang akalnya lumpuh, jauh dari kewarasan berpikir dan nalar yang baik. Berdebat tiada habis tanpa logika, bertindak tanpa pikir-pikir, dan mengorbankan banyak orang. Seolah kewarasan otak sudah terkunci, tidak bisa dipakai, akibat sebuah virus yang justru lebih berbahaya dari WannaCry itu sendiri.

Virus kebodohan.

Ya, virus kebodohan terlanjur menyebar. Orang sering terpancing amarah tanpa mempedulikan lagi aturan. Gampang menilai orang dengan sebutan ini-itu, yang hanya berdasar pada kebencian. Belum lagi pikiran-pikiran yang delusional, yang tak hanya menyebabkan otak kita kerdil, tapi ikut mengkerdilkan bangsa ini.

Hari ini, data di komputer kita mungkin selamat. Tapi bagaimana kalau otak kita yang terkunci dengan virus kebodohan? Rasanya wanna cry beneran. Masa depan bangsa ini terancam!

Aihh…. Gokil, itu lagi orasi?

Ini serius. Bagaimana kalau virus itu menyebar dari otak ke jiwa kita? Kita jadi lupa hakikat diri, lupa Tuhan dan kuasa-Nya, serta lupa kalau hidup ini hanya sementara. Hmmm…

Saya sih berharap virus-virus yang bisa bikin bangsa ini wanna cry beneran itu nggak masuk ke otak atau jiwa kita. Termasuk ke hati kita semua. Ah, andai WannaCry itu virus yang menyerang hati, berapa rupiah yang harus kubayar untuk hati yang sudah kaucuri? Halahh…