Yang Kami Dapat dari Kunjungan ke Markas Ahmadiyah

Yang Kami Dapat dari Kunjungan ke Markas Ahmadiyah

bbc.com

Pagi itu, sekira pukul 08.00 WIB, sebanyak 25 orang termasuk saya bertolak menuju markas Jemaat Ahmadiyah di Bogor, Jawa Barat. Kami naik empat angkot yang bisa dibilang cukup gerah untuk takaran Kota Hujan. Tapi yang bikin tambah gerah itu macetnya. Masya Allah…

Perjalanan ke markas Ahmadiyah dari  hotel tempat kami menginap cukup jauh. Tapi ya sudah, orang sabar disayang Dian Sastro. Akhirnya, kami tiba juga di markas Ahmadiyah. Untuk masuk ke situ, angkot kami harus melewati gerbang utama – yang artinya harus sedikit memutari tempat tersebut.

Pandangan saya kemudian sedikit teralihkan pada seng-seng yang sudah lumutan – membentuk seperti benteng pembatas antara rumah masyarakat dan markas Ahmadiyah. Hal itu membuat saya bertanya-tanya, sama seperti Anda yang ingin bertanya, mau ngapain ke markas Ahmadiyah?

Jadi begini…

Saya bersama 24 orang lainnya mengikuti workshop di Bogor. Fokus dari workshop tersebut adalah pemahaman soal bahaya hoax. Selama dua hari, kami dibekali tentang jurnalisme keberagaman di era digital.

Di sana, kami juga berdiskusi banyak hal, seperti masalah kebebasan beragama dan berkeyakinan, HAM dan kebebasan, prinsip-prinsip jurnalisme keberagaman, serta teori maupun teknik pendokumentasian video.

Untuk mempraktikkan apa-apa yang sudah kami dapat dari diskusi, kami berkesempatan mengunjungi markas Ahmadiyah. Sampai di sana, kami langsung disambut oleh dua orang satpam berseragam rapi. Sebelumnya, mereka menanyakan identitas dan keperluan rombongan. Tak begitu lama memang, karena penyelenggara workshop sudah berkomunikasi terkait kunjungan.

Kami pun dipersilakan masuk.

Melewati gerbang utama, mata saya tertuju pada beberapa gedung yang hanya sebatas tiang. Mungkin pemilik bangunan enggan melanjutkan bangunan tersebut karena suatu hal. Dan akhirnya, di hadapan kami berdiri kokoh sebuah bangunan yang menjadi pusat markas Jemaat Ahmadiyah di Bogor.

Mereka langsung menyambut kami dengan jabat tangan dan senyum sumringah layaknya tuan rumah kepada tamunya. Kemudian kami dipersilakan masuk ke gedung tersebut dan duduk di salah satu ruangan untuk bercengkrama.

Dijelaskanlah sejarah singkat Ahmadiyah, yang katanya diterima dengan baik di 206 negara. Pengikutnya – yang sering dipanggil dengan sebutan Ahmadi atau Muslim Ahmadi – diceritakan sebagai orang-orang yang sangat terbuka, sehingga Ahmadiyah dihormati di negara-negara tersebut. Bahkan mereka memiliki rumah sakit terbaik di Pakistan.

Yendra Budiana, Jubir Ahmadiyah Indonesia. (Sejuk)
Yendra Budiana, Jubir Ahmadiyah Indonesia. (Sejuk)

Perbincangan lainnya tentu saja membahas duduk perkara terkait penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah di tempat itu pada 2005. Sebuah peristiwa yang masih menyisakan luka, selain tentunya tembok-tembok seng lumutan yang mengelilingi lokasi dan sisa-sisa tiang puskemas milik Ahmadiyah.

Sama halnya dengan manusia biasa, Jemaat Ahmadiyah masih menyimpan trauma atas kejadian tahun 2005. Siti Nur’aeni, sekretaris Tabligh Lajnah, bahkan mengatakan bahwa selama ini mereka sudah berusaha menjalin hubungan baik dengan masyarakat setempat. Gerakan keagamaan Islam yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India pada 1889 itu bukan kelompok tertutup.

Kami pun diajak untuk melihat sebuah ruang Tabligh Center yang berisi gambaran sejarah Ahmadiyah. Termasuk pendiri Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Banyak anggapan masyarakat umum yang mengatakan Ahmadiyah itu tidak menganggap Nabi Muhammad sebagai nabi. Tapi menurut penjelasan salah seorang pengikut Ahmadiyah, semua itu tidak benar.

Di ruangan tersebut juga terdapat buku-buku risalah tentang Ahmadiyah. Harapan mereka, buku-buku tersebut bisa menjadi jawaban atas semua tuduhan yang mengatakan Ahmadiyah itu sesat atau apapun itu. Jika Anda kepo ingin baca bukunya, minta saja ke mereka. Gratis.

Oh ya, di lingkungan markas Ahmadiyah ini juga ada kampus yang mereka dirikan. Ahmadiyah tahu betul pendidikan merupakan elemen penting untuk menunjang kehidupan. Maka dari itulah, lahir sebuah kampus bernama Mubarak. Kampus tersebut disiapkan untuk mencetak mubaligh-mubaligh. Sebab, semua mahasiswanya adalah laki-laki.

Saya sempat ke ruangan mereka. Ternyata kelas mereka berada di bagian luar masjid Ahmadiyah. Masjid tersebut berada di lantai dua gedung yang sama. Di sana, kelas hanya di batasi papan tulis saja. Mahasiswa dan dosen berpakaian rapi berbalut kemeja putih dan celana hitam. Dan, tak lupa songkok hitam.

Selain itu, Ahmadiyah memiliki sekolah umum setingkat PAUD, SD, SMP, dan SMA. Ahmadiyah sendiri mewajibkan pengikutnya untuk sekolah. Mereka juga menyiapkan beasiswa untuk anggota yang kurang mampu dan berprestasi.

Meski telah tersebar di dua ratusan negara di dunia, Jemaat Ahmadiyah di Indonesia tergolong minoritas, yang kerap didiskriminasikan. Yendra Budiana, seorang pria yang menjabat sebagai jubir Jemaat Ahmadiyah Indonesia menjelaskan, sebelum 2005 tidak ada perselisihan antara Jemaat Ahmadiyah dan masyarakat.

“Hanya karena sebuah publikasi, provokasi yang berlebihan, sehingga memunculkan stigma. Jadi kenapa masyarakat melakukan kekerasan karena di sana ada fitnah-fitnah atau ketidaktahuan/informasi yang kurang tentang Ahmadiyah,” jelas Yendra.

Suasana di ruang Tabligh Center. (Sejuk)
Suasana di ruang Tabligh Center. (Sejuk)

Saya mencoba menelaah setiap penjelasan dari mereka, kemudian dibandingkan dengan kehidupan beragama sehari-hari sebagai umat Islam. Dan, memang tak ada yang berbeda. Mereka makan, berbicara, sholat, sekolah, sama seperti halnya aku dan kamu. Yang membedakan hanya perspektif masing-masing. Bagaimana kita memandang sebuah masyarakat yang beragam sebagai anugerah Tuhan. Bukan begitu?

Membahas tentang Ahmadiyah di kalangan masyarakat Indonesia memang masih tabu. Atau bahkan terlalu seksi untuk dibahas. Kita tidak tahu pasti apa penyebabnya. Sepengetahuan saya, masyarakat kita menganggap Ahmadiyah itu sesat. Benar begitu? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Terlepas dari apapun agama kita, kewajiban kita hanya ada satu, yakni menghormati hak-hak orang lain.

Pertama kali bercakap-cakap dengan Jemaat Ahmadiyah yang selama ini hanya bisa dilihat di layar kaca, rasanya memang agak berbeda. Itulah pentingnya dialog, bukan stigma, apalagi kekerasan. Islam adalah agama damai.

Tapi saya tak ingin mengambil kesimpulan mengenai ini. Namun pada hakikatnya, pemerintah maupun masyarakat harus menghormati kebebasan beragama, berorganisasi, berpendapat, dan memilih keyakinan yang mereka percayai. Asal, semua itu tidak mengancam kedaulatan negara dan kesatuan bangsa.

Gokil… Itu penataran P4?

Ya pada intinya, kita syukuri saja keberagaman ini, termasuk dengan kekasih Anda sendiri – kalau punya. Ya betul itu, saya gak sedang bercanda. Kalau doi bilang “Kita udah beda, kayaknya sampai di sini saja”, tinggal jawab saja begini: “Perbedaan itu anugerah, beib… Perbedaan membuat kita kaya, justru kita bisa jalan karena perbedaan itu.” Saya jamin… Jamin balikan? Nggak juga sih… 🙂

Ah, waktu sudah menunjukkan Pukul 12.00 siang. Sudah tiga jam kami di sini. Setelah sholat Dzuhur, kami bertolak pulang. Saya dan teman-teman membawa pengalaman tersendiri usai bertandang ke markas Ahmadiyah tersebut. Sebuah pengetahuan yang kaya, tentang apa dan bagaimana seharusnya bangsa ini memiliki pandangan yang lebih majemuk. Bukan menjadi bangsa yang suka memecah belah.

Karena kalau pecah itu artinya membayar. Siapa yang bayar?! Ya situlah…