Yang Fana Adalah Waktu, Mantan yang Abadi!

Yang Fana Adalah Waktu, Mantan yang Abadi!

freevector.com

Beberapa jam menjelang perombakan kabinet atau reshuffle jilid II oleh Presiden Jokowi, sejumlah nama sebenarnya sudah beredar di grup-grup layanan berkirim pesan hingga media daring. Bahkan ada susunan kabinet baru lucu-lucuan, dimana nama kita masuk sebagai menteri baru. Tentu itu hoax. Siapa kita bisa jadi menteri? Anak ketua umum partai, bukan.

Tapi ada yang menarik dari beredarnya nama-nama tersebut. Entah sengaja atau bagaimana, nama pertama yang muncul paling atas adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan, Wiranto. Lalu Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Atau sebaliknya. Kesan yang langsung muncul ketika itu adalah: “Wah, ceritanya balik lagi?”

Wiranto, Sri Mulyani, dan beberapa menteri baru akhirnya dilantik. Saya kira banyak orang tahu kalau Wiranto dan Sri Mulyani adalah mantan menteri. Om Wir pernah jadi menteri koordinasi politik dan keamanan (Menkopolkam) pada era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kalau bu Srimul pernah menjabat sebagai menteri keuangan pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY.

Kini, seiring dengan waktu, Wiranto dan Sri Mulyani pun menempati pos yang sama, meski beda bos. Met balikan, wahai para mantan… Entah siapa yang nggak bisa move on. Presiden, menterinya, atau kita? Siapa itu yang bikin status, “Welcome back, welcome back.”

Sudah menjadi hal yang lazim, kalau ada yang balikan, ada pula yang jadi mantan terbaru alias teranyar. Lho, mantan kok terbaru? Sebut saja Ignasius Jonan, Saleh Husin, Marwan Jafar, Yuddy Chrisnandi, Rizal Ramli, Sudirman Said, Anies Baswedan, dan Ferry Mursidan Baldan.

Yang unik adalah Rizal Ramli. ‘Si Rajawali Kepret’ itu hanya jadi menteri dalam tempo yang terbilang singkat. Cuma 11 bulan, sudah jadi mantan. Ah pak Rizal, waktu memang sesuatu yang fana. Terus bergulir, tak ada yang tahu berapa lama jadi menteri. Bisa sehari, sebulan, setahun, atau bahkan adem ayem sampai saat ini, seperti mbak Puan Maharani. Oh ya pak, apa kabar mbak Cornelia Agatha?

Selain mereka, ada juga barisan para mantan yang sebenarnya nggak mantan-mantan amat. Mereka hanya pindah pos saja. Tinggalkan yang lama, masuk ke pos yang baru. Hatinya tetep ke pakde Jokowi. Sebut saja Luhut Binsar Pandjaitan, Bambang Brodjonegoro, Thomas Lembong, dan Sofyan Djalil.

Kalau melihat reshuffle kali ini, saya juga teringat curhatan beberapa kawan baik. Ada yang putus sama pacar, meski nggak sampai unggah video sambil mewek sesegukan ngabisin tisu. Ada pula yang punya pacar baru dan balikan sama mantan. Kalau saya sendiri? Tetep menjomblo. Life.

Tapi demi keamanan dan stabilitas dunia asmara, saya tetap rela berbagi cerita tersebut, yang kebetulan mirip dengan hajatan reshuffle kali ini. Kita mulai dari para mantan teranyar biar baper.

Teman saya yang baru putus mengakui kalau ia masih suka mengingat-ingat kenangan saat masih memadu kasih. Tentunya penuh suka, duka, duka, dan duka… Banyak kekonyolan dan kegaduhan yang tersisa. Hati serasa teriris dengan sebilah penggaris, lalu meninggalkan luka segaris.

Di kabinet juga begitu. Saya ambil contoh Ignasius Jonan, mantan menteri perhubungan. Menteri yang dulu hobi banget bobo di gerbong kereta itu pernah kisruh soal layanan transportasi online. Ia sempat mengeluarkan surat larangan beroperasinya ojek dan taksi berbasis aplikasi. Berbeda dengan Jokowi, yang hanya minta ditata, bukan dilarang. Ah, beda prinsip. Persoalan klasik dalam suatu hubungan, bukan?

Lalu kasus “Brebes Exit” saat arus mudik Lebaran lalu. Diduga ada 12 korban meninggal akibat macet parah di pintu keluar jalan tol Brebes. Bukannya minta maaf karena penanganan mudik yang masih semrawut, Jonan malah bikin gaduh republik media sosial Indonesia. Seolah dia tak percaya orang meninggal karena macet. “Kalau kecelakaan mungkin.” Begitu kata beliau.

Sekarang giliran tentang kawan saya yang punya pacar baru. Seolah gerak cepat, baru jadian langsung diperkenalkan ke semua teman dan orangtua. Upload foto mesra di medsos, lalu langsung rapat panitia pernikahan. Ya salam, ini gercep apa kebelet?

Di kabinet juga mirip-miriplah. Kalau teman saya itu tagline-nya: “Kawin, kawin, kawin”, kalau kabinet pak Jokowi kan “Kerja, kerja, kerja.” Sebut saja para menteri baru itu Budi Karya Sumadi, Airlangga Hartarto, Eko Putro Sanjoyo, Asman Abnur, Muhajir Effendy, Arcandra Tahar, dan Enggartiasto Lukita. Sama seperti pacar baru, mereka akan dilihat kesetiaan dan pengorbanannya dalam menjalin hubungan bekerja.

Para menteri baru bisa berguru kepada Luhut Pandjaitan (menteri koordinator kemaritiman) dan Sofyan Djalil (menteri agraria dan tata ruang). Sudah jelas, Sofyan Djalil dan Luhut Pandjaitan adalah mantan terindah. Ingin balikan terus. Susah pindah ke lain hati.

Buktinya, Sofyan Djalil pernah menjadi menteri BUMN, lalu menkominfo pada era Presiden SBY. Kemudian sempat menjadi menteri koordinator perekonomian di era Jokowi. Lalu pindah ke menteri PPN/Bappenas dan kini menjadi menteri agraria dan tata ruang. Warbiyasak.

Luhut Pandjaitan juga menarik. Ia pun pernah menjadi menteri di era yang berbeda. Opa Luhut pernah diangkat sebagai menteri perindustrian dan perdagangan ketika presidennya Gus Dur. Kemudian jadi menkopolhukam di era Jokowi saat reshuffle jilid I. Kini, beliau menjadi menko kemaritiman. Militan sekali. Milih-milih jabatan, maksudnya?

Yang pasti, barisan para mantan masih mendominasi reshuffle jilid II. Ada yang mantan lama bekas presiden terdahulu, ada pula mantan anyar yang hanya pindah posisi. Lagipula, mantan memang abadi. Yang fana itu waktu. Kalau gajah mati meninggalkan gading, kalau manusia meninggalkan apa? Ya mantan-mantan. Begitu seterusnya sampai akhir zaman.

Saya hanya bisa menghela napas dan teringat sepenggal puisinya Sapardi Djoko Damono, seorang pujangga tersohor di negeri ini. “Yang fana adalah waktu, kita abadi.” Tapi saya akan koreksi sedikit. “Yang fana adalah waktu, mantan yang abadi.”

Salam jari-jari!