Yakin Mau Boikot Produk Pro-LGBT?

Yakin Mau Boikot Produk Pro-LGBT?

lifehacker.com.au

Bukan hal yang luar biasa, ketika orang membenci sebuah prinsip atau aktivitas, maka orang itu marah dan memboikot segala hal yang terkait. Benci sama tentara Amerika, berhenti makan di McD. Tapi kemudian memilih KFC.

Lah, ini soal selera makan atau kebencian sih?

Lalu yang lagi ramai sekarang ini adalah benci sama Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Muncul seruan pemboikotan terhadap siapapun yang mendukung hak-hak LGBT. Bahkan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang bijaksana akan menerbitkan fatwa yang mengharamkan semua kegiatan yang mendukung hak-hak LGBT.

Saya sebenarnya malas pakai kata haram. Kesannya seperti minuman keras, makan daging babi, atau berzina. Apa iya, kalau berdiskusi secara terbuka membahas hak-hak LGBT dengan beragam perspektif itu haram layaknya makan babi, minum bir, dan berzina? Berdosa gitu?

Mungkin saja setelah ini bakal ada aksi-aksi sweeping, karena semua kegiatan itu dianggap terlarang. LGBT dicap sebagai bahaya laten, yang berpotensi menjadi ancaman serius bagi bangsa dan negara.

Sementara para penyebar paham khilafah secara terang benderang menggarap anak-anak muda di kampus sebagai basisnya. Jadi, siapa yang berpotensi menjadi ancaman serius di negeri yang katanya NKRI dan Pancasila adalah harga mati ini?

Sekarang kita balik lagi ke masalah boikot-boikotan. Yang terbaru seruan boikot Starbucks, karena CEO gerai kopi itu menyilakan orang yang menentang hak-hak LGBT untuk angkat kaki dari Starbucks. Lalu, Line juga dikecam habis-habisan, karena menyediakan stiker bernuansa LGBT, meski akhirnya Line mencabutnya.

AA Gym, seorang ulama tersohor, bahkan mengaku berhenti menggunakan layanan Line, karena aplikasi berkirim pesan itu dianggap mempromosikan LGBT. Ah, AA, bagaimana kalau Line menyediakan stiker poligami?

Nanggung kalau cuma Line, Starbucks. Biar tambah bijaksana dan adil, boikot juga ratusan produk pro-LGBT lainnya. Sebut saja, Microsoft, Facebook, Google, Gmail, Youtube, WhatsApp, Apple, IBM, eBay, Levis, Nike, Oreo, sampai bedak bayi buatan Johnson and Johnson.

Sekarang begini bro, sis.. Yakin bisa hidup tanpa komputer? Yakin nggak mau berdakwah lewat Facebook? Nggak mau kirim pesan pakai email atau WhatsApp? Nggak mau minum-minum cantik di Starbucks? Nggak mau belanja online?

Jujur saja, kalau saya nggak sanggup. Tapi, kalau ada yang sanggup, silakan saja. Apalagi kalau ada anak bangsa yang bisa bikin produk tandingan, top banget.

Kalau perlu kasih label halal, mosok cuma jilbab saja yang halal. Bikin sistem operasi komputer sendiri yang bisa menandingi Microsoft, bisa mengalahkan Facebook, Google, dan lain-lain agar kita tidak hidup seperti di zaman batu.

Tapi kalau cuma boikot-boikotan, mungkin arwah seorang agen lahan bernama Charles Boycott bisa gentayangan sekarang ini. Dia tak akan percaya nama belakangnya berubah menjadi fatwa dan sangat populer di Indonesia.

Lama-lama saya berpikir, banyak hal yang tidak matching dengan fatwa-fatwaan. Ini sama saja, ketika orang kaya membawa mobil Lamborghini di jalanan Jakarta yang macet dan berlubang. Terlalu memaksa. Yang penting gagah, keren, tapi abis itu nangis-nangis si lambo baret-baret.

Kalau nggak mau nanggung-nanggung lagi, kenapa nggak boikot sekalian negara-negara yang mendukung LGBT dan pernikahan sejenis? Misalnya Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belanda, Spanyol, Brasil, dan lainnya.

Berani?

  • Iya Kan Cyin?

    Jangan lupa sebelum bilang boykot, kenalan dulu sama ALAN TURING. Ya kan cyin?

  • Kevin91

    Udah tiada belio… Kirim Al Fatihah aja kali yee… ๐Ÿ™‚

  • Novy

    Silakan berbicara berargument. Saya yakin,,, kalau keluarga anda yg menjadi korba dari LGBT, baru kamu bisa merasakan sendiri. Dan masalah peraturan,,, itulah adanya negara dengan peraturan nya masing2. Saya setuju, jika product2 asing masung ke Indonesia, mrk harus mengikuti peraturan Indonesia. Pemerintah HARUS TEGAS dengan peraturuan yg akan menyelamatkan bangsa dan negara ini, TINDAK TEGAS.

    • Dea

      Saya tidak masalah kalau anak saya memiliki Orientasi Seksual yang berbeda asalkan dia menghormati privasi orang.

      • Arya Dwi Putra

        Slay banget mbak hehe ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

  • Abdullah Datuk

    Sayangnya penulis tidak membawa argumen yg kuat. Analogi dgn boykot2 yg lain tidak relevan. Sticker poligami? Yang penting halal. Ya halal seperti monogami dan hal yg lain yg dibolehin dalam agama.
    Kalau Anda terganggu dgn istilah haram maka Anda lah sebagai muslim yg harus tunduk dan menerima ketentuan Allah kan.
    Tapi kalau kita mau berbicara tentang bagaimana menghadapi persoalan LGBT dgn bijak tanpa menghukum terlebih dahulu saudara-saudari kita yg keluar dari jalan fitrah maka saya setuju karena banyak yg menderita dan perlu dibantu.
    Namun yg paling berbahaya dan HARAM : ) adalah jika mempromosikan LGBT seolah-olah sesuatu yg wajar, kren bahkan lazam seperti di Barat.
    Semoga Allah menunjukkan kita semua kpda jalan yg diridhaiNya

  • farid firdaus

    Okay, terimakasih sudah membaca artikel ini. Sekarang, begitu besarnya efek dari kritik gerakan LGBT. pembicaraan di warteg dan warung kopi, dan kantin sekolah pun sudah berubah.

    LGBTQ : (noun) initialisms used as shorthand or umbrella terms for all folks who have a non-normative (or queer) gender or sexuality.

    “Eh kok selfie-selfie begitu? loe LGBT yak!”

    “Eh itu ada anak baru, kok dia pake baju begitu. dia LGBT yak!”

    “Kenapa loe nge-gym di tempat itu, di situ kan LGBT semua,”

    “Mau kemana? mau diskusi LGBT,”

    Thanks to Media

  • Mirna Sadikin

    Hehee bandingin lgbt kok sm paham khilafah gak apple to apple lah, bandingin sm terorisme bru bener. Sama2 melanggar hukum (agama), msh dianggap meresahkan di sebagian besar masy indo yg agamis, yes. Perlu inget jg, kita blm jd masy sekuler, jd hargai jg kelompok2 yg msh menentang keras eksisny lgbt.

    Dan mslh boikot2 itu sih ujung2 jg bakal balik k pribadi msg2…Indonesia kn msk wto mna mungkin, pmrnthnya seenak dewe ngelakuin pemboikotan ato nyuru starbucks hengkang, bs kena sanksi ntr #ehh

    • Arya Dwi Putra

      Lah bandingin lgbt sama terorisme tdk apple to apple jg bos, lgbt tdk melanggar hukum bukti lgbt merusak moral bangsa apaa dah? Yang paham khilafah dan wahabisme tuh yg merusak bangsa, menolak pluralisme dan pancasila. Masih percaya mereka org baik? Haha aja deh

      • Mirna Sadikin

        Waduuhh mass belajar sosiologi agama dulu deh kl mau ngomongin ideologi kelompok keagamaan2 di indonesia. Gk perlu menjelekkan kl blm melkukan kajian dan penelitian ilmiah. Siapeee juga yg mau ganti pancasila sm khilafah??? Emg gmpng?? Kecuali omongan org2 lebay didengerin ๐Ÿ˜‚

        Lgbt gk merusak moral? Iya, kan sblmnya sy blg kita blm jd negara sekuler, hargai jg kl sd klompok2 yg kontra dgn eksisnya lgbt. Gitu aja repot#