Adu Hebat Generasi Y dan Z, Mari Saksikan!

Adu Hebat Generasi Y dan Z, Mari Saksikan!

Ilustrasi (joebin caoile)

Saya yang lahir dan besar ketika Power Rangers merah masih diperankan oleh Tommy, terkadang merasa kasihan pada adik-adik yang lahir pada medio 2000-an. Mereka harus lebih banyak menghabiskan waktu di depan gadget, televisi, dan layar laptop.

Saya kadang harus menceritakan kepada mereka bagaimana serunya serial Ultraman, Ksatria Baja Hitam, atau kutukan apa sehingga Nobita sampai saat ini masih betah menjomblo dan tak digubris cintanya oleh Shizuka.

Sebaliknya, jika bicara soal game terbaru di hadapan mereka, saya seperti buih debu yang terombang-ambing ditiup angin. Nyebelin sih, karena harus kalah melulu saat tanding PS dan harus malu-malu saat minta diajarin bagaimana caranya main game terbaru?

Saya dan adik saya, dua manusia beda generasi. Dalam teori generasi, Karl Mannheim mengklasifikasikan dua generasi ini menjadi generasi Y (milenial) dan generasi Z.

Pengelompokkan itu berdasarkan awal kelahiran internet dan rentang tahun kelahiran. Namun, rentang tahun didefinisikan berbeda-beda oleh sejumlah pakar, walaupun tidak jauh berbeda.

Jadi, jika di Indonesia, Indonet sebagai pelaksana jasa internet komersial hadir perdana pada pertengahan 90-an, kita sepakati saja sebutan generasi milenial diperuntukkan bagi mereka yang lahir pra-internet, yakni dari 1980 sampai 1995.

Sementara generasi Z bagi mereka yang lahir di generasi internet, yaitu antara tahun 1996-2010.

Masalahnya, dua generasi ini kerapkali menganggap bahwa generasi mereka paling asoy. Kami menganggap generasi kami, generasi Y atau milenial, tak ubahnya era Renaisans yang terjadi di Eropa pada abad pertengahan dimana segala ilmu dan ide-ide pertama kali dirumuskan.

Sebaliknya, generasi Z tak mau kalah dengan menganggap segala kemudahan dan kepraktisan adalah bentuk kasih sayang Tuhan pada generasinya.

Jadi supaya jelas, mari bandingkan saja dua generasi ini dari beberapa aspek. Oh ya, mohon maaf, bagi yang generasi X sebaiknya kalian cukup diam dan menyimak saja. Terlebih baby boomer, saran saya perbanyaklah beribadah dan berdzikir. Hehe…

1. Mainan

Generasi Y dengan bangga hati menjelaskan kepada adik-adiknya bahwa mainan pada zaman mereka lebih variatif dan dekat dengan alam. Close to the nature.

Petak umpet, lompat tali, semua dilakukan di luar rumah. Mungkin mainan yang bisa dilakukan dengan leyeh-leyeh sambil ngemil kue lapis hanyalah gembot yang legendaris itu.

Tapi jangan salah, sebetulnya pada zaman itu, Playstation dan Nintendo Mario Bros sudah booming, tapi ya itu harga PS terlampau mahal buat kami yang uang jajannya cuma cukup beli Taro dan Citatos berhadiah tajos.

Sementara itu, mainan adik-adik kami lebih banyak dilakukan di dalam ruangan. Mereka tidak perlu khawatir kulit hitam atau dimarahi tetangga sebelah rumah sebab bola yang kena kaca jendela.

Mereka tak perlu panas-panasan dan kejar-kejaran karena mainan apapun sudah bisa mereka mainkan di layar tablet. Cukup bermodal kuota dan power bank. Itupun dimodalin ortu. Lemah.

2. Musik

Sebagaimana perseteruan antara golongan tua dan muda pada peristiwa Rengasdengklok, golongan tua merasa jemawa karena merasa adik-adik mereka sudah terkontaminasi musik-musik alay, yang tak seharusnya mereka dengarkan dan nyanyikan oleh anak-anak se-usia mereka.

Golongan tua merasa beruntung karena hidup pada masa keemasan Joshua, Pak Kasur, dan Ibu Sud. Mendengarkan lagu seperti Balonku, Burung Kakak Tua, Naik Delman, dan Aku Seorang Kapitan, adalah sebuah keniscayaan.

Golongan muda sebagaimana hasrat Aidit dan kawan-kawan yang berusaha menculik Soekarno pada malam 16 Agustus 1945, juga tidak mau kalah. Mereka berusaha mencari pembenaran mengapa mereka ogah mendengarkan lagu-lagu anak yang sebagian besar liriknya tak masuk akal.

Lagipula, apa betul generasi 90-an lepas dari kontaminasi lagu menye-menye? Bukankah pada masa itu adalah masa dimana lagu Malaysia sedang marak-maraknya menggempur kepala anak-anak Indonesia.

Ku ku ku ku derita, kau kau kau berpura… #halah

3. Klub Sepak Bola Favorit

Manuver lain yang seringkali dilayangkan oleh generasi Y terhadap adik-adik mereka ialah dengan menuduh bahwa kebanyakan dari mereka adalah glory hunter, terutama ketika harus memilih kesebelasan sepak bola.

Tidak sepenuhnya salah sih, mereka hidup dan tumbuh dimana Liga Inggris dan liga Spanyol sedang galak-galaknya. Lagipula, siapa yang mau mendukung Parma atau Zvena Zvezda yang berjaya pada era 90-an, tapi koit pada era milenial? Jangan sok hipster deh kelean.

Tapi apa betul kalian generasi 90-an yang menuduh adik-adiknya pendukung karbitan, lepas dari label itu? Tahun 90 hingga awal 2000-an adalah suatu masa ketika Seri A Italia sedang jaya-jayanya. Seri A selalu ditunggu dan dielu-elukan.

Kalau malam mingggu atau minggu malam kelewatan wajah bung Rayana Jakarsurya di layar kaca, tak perlu khawatir. Sebab, masih ada wajah Dik Doank yang nongol saban minggu siang dalam acara Planet Football yang menyajikan cuplikan liga Italia.

Jadi, jangan heran banyak generasi 90-an menjadi suporter kesebelasan seperti AC Milan, Inter Milan, dan Juventus yang sedang jaya-jayanya tapi sekarang bermental bapuk itu. Tapi lucunya, kalian masih mengelak kalau kalian sebetulnya juga suporter karbitan?

4. Preferensi Politik

Saat Pak Harto yang berkuasa selama 32 tahun digoyang oleh aktivis dan mahasiswa pada 1998, barangkali sebagian besar generasi Z masih berbentuk kecebong atau paling tidak hanya fasih melafalkan owek-owek dalam menyuarakan rasa kebelet, pengen nenen, atau digigit nyamuk.

Mereka belum mengerti bagaimana dominasi dan monolitiknya kekuasaan babe yang murah senyum itu. Namun, sejak reformasi yang ditandai lengsernya si babe, Indonesia lebih berwarna.

Bagaimana tidak berwarna, pada 1999, jumlah partai peserta pemilu membludak hingga 48 partai. Bayangkan, berapa banyak warna yang dipakai untuk segala macam atribut partai? Jelas lebih berwarna, bukan?

Bagi generasi Z, jika generasi paling tua lahir pada tahun 1996, berarti sebagian yang lain baru mendapatkan hak pilihnya pada pemilu 2019. Dan, seharusnya ini disadari oleh parpol manapun bahwa generasi ini berpotensi menjadi lumbung suara yang tak boleh diabaikan begitu saja.

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sepertinya melihat potensi ini. Lewat ikon mereka Giring Nidji dan Tsamara Amany, mereka mencitrakan sebagai partainya anak muda.

Generasi Z adalah kunci ketika kakak-kakaknya, generasi Y atau milenial, yang sedikit banyak sudah paham dunia perpolitikan akan memilih golput dan masa bodo soal pemilu.

Jadi gimana? Perihal enak-enakan zaman sebetulnya perkara relatif.

Slogan Piye puenak zamanku tho?” yang diproduksi massal sebagai meme dan tulisan di pantat truk dengan gambar mesem Pak Harto yang legendaris pun sebetulnya terserah mau diartikan sebagai sarkasme atau slogan belaka. Lain soal kalau situ simpatisan Orba.

Tapi mosok generasi Y dan Z kangen Orba?