Winehouse, Hangat dan Menenangkan

Winehouse, Hangat dan Menenangkan

Nama musisi Amy Winehouse masih menjadi legenda di dunia musik internasional. Ini yang membuat sutradara pemenang penghargaan BAFTA, Asif Kapadia, membuat film dokumenter penyanyi yang meninggal pada usia 27 tahun tersebut.

Mirip dengan film dokumenter Kurt Cobain – Montage of Heck, film berjudul Amy ini lebih menonjolkan sisi humanis Amy Winehouse. Film Amy tayang di layar lebar pada 3 Juli 2015.

Amy Winehouse kerap dikenang sebagai musisi hebat, namun rapuh dan berakhir tragis pada usia muda. Kehidupan pribadi penyanyi asal London Utara itu dibayang-bayangi alkohol dan narkoba. Amy akhirnya meninggal di rumahnya di Camden, London Utara, pada 2011. Dia diduga keracunan alkohol.

Namun, di film Amy, sutradara Kapadia mengangkat sisi lain yang tidak diketahui banyak orang. Amy digambarkan sebagai sosok perempuan yang menenangkan dan hangat dengan orang sekitarnya.

Kapadia mengandalkan arsip-arsip pribadi dan wawancara lama dengan Amy Winehouse. Film itu banyak menampilkan adegan keceriaan, misalnya video Amy saat bercanda dengan teman-temannya sambil memainkan gitar.

“Semuanya tentang menyeimbangkan kembali persepsi orang dengan menunjukkan dirinya saat muda, senang, bahagia, perempuan sehat dengan mata bersinar, yang sangat hebat. Kalian akan berpikir sangat menyenangkan bertemu dengannya, dia akan menjadi orang yang mudah diajak bergaul,” kenang Kapadia, seperti dikutip The Independent.

Namun, lagi-lagi masalah keluarga sangat berpengaruh pada kehidupan pribadi setiap orang. Amy mengalami depresi dan bulimia saat masih remaja, karena orangtuanya cerai ketika ia masih berusia delapan tahun.

Ayahnya, Mitch Winehouse, juga ikut diwawancara untuk tampil dalam film. Namun, setelah itu, Mitch protes dan menempuh jalur hukum, karena dia digambarkan sebagai sosok ayah yang tidak peduli terhadap keluarga.

Kemudian Mitch menarik kembali gugatannya setelah film Amy disunting ulang, meski tetap merasa bahwa arahnya salah. Tapi, Kapadia, sang sutradara, tidak merasa terganggu.

Mantan publisis mendiang Amy Winehouse, Darcus Beese, mengatakan, kalau film dokumenter baru tentang Amy seharusnya dapat membuat malu orang yang membunuh Amy.

Beese, yang saat itu menjabat sebagai bos di perusahaan rekaman Islan Records, berpendapat bahwa Amy jelas terlihat disiksa oleh pemberitaan media. “Amy menderita. Ia dipuja dan dihina. Mereka telah membunuh Amy. Film ini membuka mata kita semua,” ujar Beese.