WhatsFake, Aplikasi Pembuat Hoax yang Bisa Bikin Bahagia
CEPIKA-CEPIKI

WhatsFake, Aplikasi Pembuat Hoax yang Bisa Bikin Bahagia

Ilustrasi (techtudo.com.br)

Saya tidak mengerti kenapa orang suka mem-bully jomblo. Saya kadang-kadang juga melakukannya sih, tapi saya juga tidak mengerti kenapa saya melakukannya. Kalau tidak bisa minta maaf – dikira tidak tulus karena tetap dilakukan lagi dan lagi – mungkin ada baiknya saya tulis sedikit di sini.

Semacam pembelaan untuk mereka atau introspeksi buat saya mumpung mereka belum dipanas-panasi di media sosial untuk menggalang massa dan turun ke jalan karena merasa dilecehkan.

Saya pikir ada sedikit bagian di dalam diri para pem-bully jomblo itu yang ingin membalas dendam. Dendam waktu mereka masih jomblo dan di-bully orang dan mereka tidak bisa membalas.

Semacam dendam senior yang juga menjangkiti mahasiswa atau anggota mapala yang gak lulus-lulus. Kan gak mungkin mereka bikin diksar jomblo – walaupun senior dalam hal itu – lalu menyiksa juniornya di Gunung Lawu. Memangnya mau belajar silat di padepokannya Lasmini?

Atau gak, mengumpulkan jomblo-jomblo junior itu di satu lapangan, lalu menyuruh mereka ngejar-ngejar kambing seperti ospek di kampus-kampus. Iya kalau kambingnya gak risih dikejar-kejar sama mereka, kalau kambingnya nolak dan mereka baper? Kan jadi dosa dua kali para pem­-bully jomblo itu.

Padahal ya, setiap orang kan terlahir dalam keadaan jomblo. Gak ada kan yang keluar nangis oek-oek pas dilahirkan karena nyariin pacarnya? Tapi para pem-bully itu apa mau tahu? Anak-anak keseleo lidah nyebut nama ikan untuk dapat hadiah sepeda dari presiden saja di-bully.

Seolah-olah ada kesepakatan bahwa “Kalau kamu dilahirkan dalam kedaan jomblo, maka itu bukan kesalahanmu. Tapi kalau kamu mati dan masih jomblo, maka itu sudah pasti salahmu sendiri.”

Dan lagi-lagi, jomblo-jomblo itu tidak bisa membalas. Gimana mau membalas, yang ngirim aja gak ada?

Mungkin para pem-bully itu juga punya dendam, karena cita-citanya untuk mengubah dunia kandas justru setelah mereka punya pacar atau kawin. Mengubah dunia… Ngganti saluran TV aja kalah melulu.

Jadi kalau ada bapak-bapak yang hobi mem-bully jomblo di media sosial, dicek aja jangan-jangan dia juga hafal kejamnya neneknya Tapasya dan tahu kalau Boy Si Anak Jalanan sudah mati.

Lha, saya kok bisa tahu? Saya dikasih tahu sama istri saya. Dikasih tahu kalau Boy kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia pas lagi nonton Tapasya sama neneknya.

Padahal jadi jomblo itu enak lho. Selain masih bisa bebas ngganti saluran TV, mereka juga bebas jalan-jalan ke mana saja. Jalan-jalan ke mal gak akan dikuntit dan disergap KPK.

Lha, urusannya apa? Mau membelikan cem-ceman jam tangan Rolex, Honda HRV 300 jutaan, kosmetik – yang harganya juga jutaan – , sampai rumah em-em-an dalam bentuk janji dan brosur juga bebas aja. Semua orang akan maklum. Namanya juga usaha.

Mau kirim WhatsApp ke cewek-cewek juga bebas. Gak ada yang protes, apalagi sampai ngadu ke Kak Ema. Mau suap-suapan di dalam mobil juga boleh. Bahkan kalau mereka berjanji akan mencintai seseorang sepenuh hati dan rela mengorbankan jiwa dan raganya, tidak akan ada penyair gaek yang akan bilang, “Cinta kok sama orang, seharusnya kan sama Tuhan yang sudah menciptakan kita semua.”

Masalahnya cuma satu, yang dicintai sepenuh hati sampai rela mengorbankan jiwa raga itu cinta sama dia juga gak? Nanti kayak negara, udah dicintai setengah mati, negaranya gak cinta. Rumahnya digusur dan tanahnya diambil – katanya – untuk kepentingan negara. Ye kan?

Tapi sekarang menjadi jomblo sudah ada aplikasi yang mendukungnya. Tentu bukan Go-Jomblo atau Uber-Jomblo, tapi aplikasi yang namanya WhatsFake. Dengan aplikasi ini, jomblo-jomblo itu bisa memalsukan percakapan di WhatsApp.

Jadi sudah gak perlu bangun pagi-pagi cuma supaya dapat ucapan selamat pagi dari Ira Koesno atau Tina Talisa. Buset, njomblo udah dari jamannya Mba Ira dan Mba Tina masih jadi penyiar?! Yang nyicil rumah aja mungkin malah udah lunas, Mas…

Bukan hanya ucapan klise kayak ‘selamat pagi’, ‘udah makan apa belum?’, atau yang lainnya, tapi dengan aplikasi WhatsFake tadi orang bisa menulis apa saja sesukanya. Orang bisa merayu orang lain dan membuat kesan seolah-olah yang dirayu itu mau.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.”

“Wah, satu warung dong yang cinta.”

“Iya, seempal-empalnya, seati-atinya, seotak-otaknya.”

“Aih, bikin laper, eh baper…”

So sweet memang, sayangnya transkrip percakapan di atas cuma hoax alias palsu. Orang bahkan bebas memilih orang yang mau dijadikan pacarnya! Mulai dari Raisa, Isyana, Nikita Mirzani, sampai Nikita Willy. Atau bahkan Willy Dozan kalau mau.

Bahkan mantan bisa diajak balikan di WhatsFake. Intinya siapa saja. Siapa pun yang membuat aplikasi ini pasti besar upahnya di surga, karena sudah membuat jutaan jomblo bahagia.

Tapi kalau ada yang memanfaatkan aplikasi tadi untuk membabat lawan politiknya, itu pasti orang kurang piknik. Mbok, kalau sudah gak bisa mem-bully jomblo, daripada bikin dosa mending nonton Tapasya. Jomblo-jomblo yang gak bisa move on itu sudah move forward, kok dia masih gitu-gitu aja?

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan mengutip satu pepatah yang menyebar di dunia maya. “Puncak rindu yang paling dahsyat adalah ketika dua orang yang sudah memutuskan hubungan tidak saling telepon, sms, atau bbm – bahkan tidak saling mendoakan – , tapi diam-diam keduanya saling nanya ‘apa kabar’ lalu ngobrol panjang lebar. Itu pasti pakai… WhatsFake.”