‘Wenger Out’ dan Tips agar Kamu Tidak Diputusin Sepihak

‘Wenger Out’ dan Tips agar Kamu Tidak Diputusin Sepihak

sportbuzzbusiness.fr

Saya pura-pura kaget dengan hasil akhir pertandingan antara Liverpool kontra Arsenal. “Wah, Arsenal kalah ya?” Saya juga pura-pura kaget dengan respon The Gooners setelah kekalahan itu. “Wah, Prof disuruh out.”

Kalau kamu pendukung klub sepak bola yang sedang kedinginan di puncak Liga Inggris, tentu akan senang-senang saja melihat para pendukung tim di bawahnya saling cela. Menyenangkan melihat fans Liverpool senyum-senyum culas, ketika bertemu dengan orang yang mendukung Arsenal. Begitu juga melihat fans Arsenal yang bersungut-sungut tentang Sang Manajer.

Ah, seperti para borjuis yang tengah menyaksikan perseteruan antar proletar sambil menenggak anggur…

Namun, yang menarik pada laga yang menggenapi raihan 50 kemenangan Liverpool atas Arsenal di Anfield bukan tentang Alexis Sanchez yang ketawa-ketiwi saat timnya kebobolan, tapi respon Arsene Wenger, manajer Arsenal, setelah mengalami kekalahan.

Rasanya saya tak sendiri, jika mempertanyakan kenapa si Prof ini tak kunjung diganti? Wooo… para pro-Wenger pasti akan berbusa-busa meneriakkan tentang arti kesetiaan. Maklum, Wenger sudah menukangi Arsenal sejak 1996. Itu artinya sudah selama 21 tahun, yah meski dalam 13 tahun terakhir ini puasa gelar.

Tapi saya rasa antara Wenger dan Arsenal bukan hanya perkara kesetiaan. Toh, kalau memang hanya itu, kenapa ia tak merelakan saja kursi kepelatihannya, kan bisa mendapat jabatan lain di klub? Ini sudah masuk persoalan ‘tak ingin diduakan’. Mungkin Wenger belum rela menyerahkan tim kesayangannya kepada orang lain, sama seperti pasangan yang tak rela diselingkuhi.

Kesimpulan ini bukan tanpa alasan. Sebenarnya saya sudah lama berpikir demikian, namun semakin yakin setelah mendengar pernyataan Wenger setelah kalah dari Liverpool. Dengan gusar, pria berusia 67 tahun yang dijuluki ‘Profesor’ itu berkata, “Meskipun saya pergi, Arsenal tak akan memenangkan setiap pertandingannya pada masa yang akan datang. Anda harus menerima kenyataan itu. Sama sakitnya seperti menerima kekalahan.”

Tanpa perlu memanggil ahli semiotika dan terapan ilmu hermeneutika untuk menjelaskan pernyataan itu. Artinya begitu terang benderang: rasa takut akan kehilangan.

Ini tentunya akan mengharukan, jika konteks yang melatarbelakanginya adalah kemenangan. Seperti kisah dua sejoli yang sudah mati-matian merajut kasih untuk saling membahagiakan, namun tetap takluk pada kehendak orang tua. Namun akan menggelikan, jika hal itu terjadi ketika Anda baru saja kalah dan para pendukung menginginkan Anda untuk angkat kaki sejak lama.

Coba kita cermati pernyataan tadi, bliyo begitu yakin meramal masa depan Arsenal ketika tak lagi bersamanya. Bukankah ini seperti pernyataan seorang yang mau ditinggal pasangan? Dengan mata berkaca-kaca dan sesegukan, lalu bilang, “Lo nggak akan bahagia sama siapapun. Cuma gue yang bisa membahagiakan lo!” *hiks* Itu Wenger atau Awkarin?

Arsene Wenger (idntimes.com)
Arsene Wenger (idntimes.com)

Kata kawan saya – yang seorang Gooner – sepak bola kadang menciptakan sebuah kecintaan tanpa syarat atau unconditional love. Entah, kenapa klub ini selalu menciptakan narasi yang melankolis? Mungkin ini juga yang melatarbelakangi tindakan Wenger tersebut. Ia begitu egoisnya meramal kekalahan yang akan dialami Arsenal ketika tanpanya.

Dengan begitu, Wenger hanya ingin Arsenal menjadi miliknya, walau harus tujuh kali secara berturut-turut tersingkir di 16 besar Liga Champions dan bikin The Gooners makan hati.

Bukti ketidakrelaan Wenger jika kehilangan Arsenal juga tercermin dari pernyataannya yang lain. Ia bilang, “Saya peduli dengan klub ini dan saya peduli dengan masa depannya. Saya pikir penting untuk selalu berhubungan dengan orang yang tepat. Apakah saya atau orang lain?”

Nah…

Ini kenapa Wenger jadi baper?

Bukankah kekalahan sudah tak asing lagi bagi Arsenal?

Sekali lagi, apa yang dialami Wenger dan Arsenal mirip-mirip drama percintaan. Segala ungkapan Wenger tak ubahnya retorika sang kekasih yang tak ingin diputusin, apalagi ketika masih sayang-sayangnya.

Pada bagian pertama, sang kekasih akan memberikan premis mayor bahwa ia peduli pada pasangannya, bahwa ia masih sayang. Kemudian selanjutnya ia akan memberikan premis minor bahwa kebahagiaan akan terjadi, jika menemukan orang yang tepat.

Sampai di sini, pasangannya akan mulai kembali berpikir… Kemudian ditutup dengan konklusi yang pas dengan cara bertanya, “Apakah aku atau orang lain?”

Maka, keraguan yang tertumpuk sedari tadi pada pasangannya akan mencapai puncaknya. Dan, seperti yang kita semua tahu, adegan itu akan berakhir dengan kecupan apa-apalah itu. Saya jadi curiga Wenger ini adalah salah satu pendiri Hitman System – anak lama Twitter pasti paham.

Kata orang, semakin lama kita menjalin hubungan, maka semakin berat pula kita melepaskan. Dan, itu terjadi pada Wenger. Ia sedang pusing karena masa kontraknya di Arsenal akan berakhir pada April 2017. Belum lagi tekanan ‘Wenger Out’ dari para pendukung yang tiada henti.

Untuk Wenger dan para pendukung Arsenal, terimalah takdir… Cinta memang tak melulu soal kebahagiaan. Mulailah berpikir untuk membuat serial telenovela, kalau pada akhirnya nanti manajemen klub melepasnya. Kalau dulu ada ‘Maria Cinta Yang Hilang’, kenapa tidak diadaptasi menjadi ‘Wenger Cinta Yang Hilang’?

Mohon bersabar ini ujian…

Salam London Biru!