Pertempuran Tersisa Generasi ‘Walkman’ Vs Generasi ‘Spotify’

Pertempuran Tersisa Generasi ‘Walkman’ Vs Generasi ‘Spotify’

Ilustrasi (urbs.london)

Makin lama, generasi Walkman ini makin nyebelin. Generasi Walkman tampak sudah terjebak dalam chauvinism. Kecintaan terhadap generasi mereka bahkan sudah melampaui fanatisme penggemar Liverpool.

Saya tahu generasi 90-an atau generasi Walkman ini merasakan segalanya. Beberapa hal saya akui sangat menyenangkan untuk dilakukan pada masa itu, yang kini sudah sulit ditemukan. Misalnya, bermain di tanah lapang.

Generasi Walkman ini juga bisa menonton banyak tayangan kartun. Kemudian, bisa main Tamagochi, gimbot, dan video game macam Nintendo, SEGA, hingga Playstation 1.

Tapi ada beberapa hal yang kemudian generasi Spotify lebih unggul daripada generasi Walkman. Generasi Spotify ini generasi kekinian. Jika ditanya mana lebih enak, apakah hidup pada era Walkman atau era Spotify? Ya sudah tentu era Spotify.

Generasi Walkman memang dianugerahi oleh kebahagiaan luar dalam, ruangan maksudnya, dibandingkan generasi Spotify. Namun, internet adalah segalanya. Kemudahan, kepraktisan, dan kecepatan yang bahkan mendahului kedipan mata, seperti kedipan mataku kepadamu.

Dulu, orang harus rajin ke toko buku, meski hanya sekadar mencari satu artikel. Kadang ketemu, kadang tidak. Terpaksa singgah dari satu toko ke toko lainnya. Kini, pada generasi Spotify, kita bisa dengan mudah mencari segalanya di internet.

Belum payahnya menelepon. Pada era Walkman, menelpon itu merupakan sesuatu yang merepotkan. Ke wartel? Hitungannya mahal, antre pula. Ketika itu, punya telepon sendiri jelas sebuah kemewahan. Kalau sekarang?

Keribetan juga terjadi saat mengirim surat. Tak seperti masa kini, ada LINE, WhatsApp, serta e-mail, dimana anda akan direspon dalam hitungan detik.

Kalau dulu, orang masih merasakan menulis surat dengan pulpen, kemudian menunggu balasan selama berhari-hari. Alurnya juga agak ribet: ke tempat pos, isi alamat dan sebagainya, baru dikirim. Tidak praktis kalau sekadar untuk haha-hihi atau pedekate.

Kalau mau curhat juga rempi. Paling nulis di diary atau kirim-kirim salam di mading. Tak seperti sekarang bisa update status di media sosial, terus bikin puisi kodean buat gebetan.

Giliran udah dapet inspirasi kata-kata untuk dikirim ke redaksi mading, kakaknya bilang, “Basiii… Madingnya udah terbit!”

Kalau untuk urusan video game, jelas saya pun takzim dengan ‘jaman now’. Kualitas grafiknya jauh dibandingkan video game pada era Walkman. Tontonan alternatifnya bernama YouTube, yang betul-betul lebih dari televisi.

Saya bisa menonton Spongebob 24 jam sehari tanpa diganggu iklan, saking canggihnya YouTube. Mendengarkan musik, selain dari Spotify, ada pula JOOX. Tak perlu cemas pita lagu kusut. Mau foto biar eksis, juga tak perlu khawatir filmnya terbakar.

Generasi kekinian bahkan tak perlu repot-repot menjulurkan tangan ke jalanan untuk menyetop kendaraan atau bingung karena lupa jalan – karena sudah ada transportasi online dan fitur maps. Dan, masih banyak lagi kelebihan generasi Spotify ini.

Lalu mengapa orang-orang dari generasi Walkman tetap menganggap dirinya lah yang terbaik? Jawabannya sederhana, karena masa-masa itu so yesterday. Hanya tersisa dalam memori ingatan, yang sewaktu-waktu bisa menjadi tembang kenangan.

Tom Ferry, dalam sebuah artikel di Huffington Post, menyebutkan bahwa manusia dalam tahap tertentu memiliki kecanduan pada masa lalu. Kecanduan ini bikin kita abai dengan hal-hal payah yang pernah kita lalui, dan lebih mengingat masa-masa baiknya saja.

Dan, kita kangen dengan masa-masa tersebut.

Bagi sebagian orang, ini jelas melukai. Masa lampau biarlah berlalu dan jangan harap kembali. Situ mau Orde Baru kembali lagi?

Orang-orang yang terus membandingkan masa lampau dengan masa sekarang sedang menderita. Kerinduan mereka terhadap masa lampau kemudian menghambat potensi terbaik mereka. Alhasil, mereka muak dengan kehidupan dan memilih terjebak pada masa lampau.

Kemudian, bagaimana kita mempersepsikan setiap generasi. Bahwa tiap generasi punya keseruannya masing-masing, yang sebaiknya tidak usah dibandingkan. Ini bukan kontes, dan pemenangnya tidak dapat apa-apa pula.

Kalau generasi kekinian hiburannya di layar gawai, ya biarkan saja. Kalau generasi sebelumnya hiburannya di layar tancap, ya memangnya kenapa?

Apa anda lupa bagaimana menyebalkannya orang tua anda dahulu membandingkan generasi anda dengan generasi mereka saat diomeli karena terlalu banyak bermain? Tiap generasi, saya rasa, benci untuk dibanding-bandingkan.

Sama seperti mantan, upaya agar kita bahagia saat ini adalah merelakan masa yang sudah lepas atau bahasa kerennya, getting over. Masa lalu tak lebih dari bualan yang kita ceritakan kepada diri kita sendiri dan kita yakini. Mengulang-ulang cerita ini seperti sebuah simulakra.

Getting over, tentu bukan berarti melupakan apa yang terjadi pada masa lampau. Namun, secara sadar, mengetahui apa yang baik terjadi pada masa lampau dan apa yang baik pada masa kini.  Dan, menghargainya. Aih… Gokil!

Maka dari itu, ada satu pertanyaan yang ingin saya utarakan kepada generasi Walkman. Serius masih ingin pakai Walkman daripada Spotify? Anda lupa betapa menjengkelkannya mutar-mutar isi kaset hanya untuk mutar satu lagu kesukaan anda? Terus anda terus saja mengglorifikasi generasi Walkman.

Nyebelin banget kan? Eh tapi, ngangenin… 🙂